Selasa, 22 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim

Sabtu, 20 Juni 2026
A A
Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.

Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.

Share on FacebookShare on Twitter

Sementara Direktur Konservasi Spesies dan Genetik KSDAE, Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, menekankan pentingnya transformasi menuju nature positive, yakni pendekatan pembangunan dan konservasi yang tidak hanya mencegah kerusakan pada lingkungan, tetapi juga mampu memulihkan kualitas ekosistem.

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan penggunaan hierarki mitigasi yang mencakup menghindari kerusakan, meminimalkan dampak, memulihkan ekosistem, serta regenerasi kondisi alam.

“Nature positive tidak hanya berarti menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati, tetapi memastikan bahwa kondisi alam menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya,” jelas dia.

Pengelolaan konservasi tidak lagi dapat dilakukan secara terpisah berdasarkan kawasan. Sebaliknya, diperlukan pendekatan landscape dan seascape dengan mengintegrasikan pengelolaan ekosistem darat dan perairan sebagai satu kesatuan yang saling terhubung.

“Kita tidak lagi hanya berbicara tentang landscape, tetapi landscape dan seascape sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling terhubung dari daratan hingga lautan,” imbuh dia.

Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta menuturkan, konservasi di era ketidakpastian saat ini memerlukan cara pandang baru yang tidak hanya memberikan fokus pada spesies, tetapi juga pada ekosistem, tata kelola, serta membangun ketahanan. Sigit menilai kompleksitas krisis lingkungan saat ini tidak dapat diatasi satu pihak saja sehingga membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari akademisi, pemerintah, masyarakat adat, hingga organisasi masyarakat sipil dalam merumuskan solusi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Tidak ada satu institusi pun yang dapat menghadapi tantangan ini sendirian. Kita perlu kolaborasi dalam membangun solusi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Sigit.

Sementara Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Agus Murti Yudhoyono menilai konservasi dan pembangunan infrastruktur tidak boleh diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Pembangunan infrastruktur harus mampu menjaga konektivitas ekologis melalui berbagai pendekatan, seperti pembangunan koridor satwa.

Hal ini ditujukan agar infrastruktur tidak menjadi penghalang pergerakan satwa. Penting konektivitas ekologis, penerapan solusi berbasis alam, dan keterlibatan masyarakat pada setiap proses pembangunan.

“Tidak lupa alam juga bagian dari infrastruktur itu sendiri karena menyediakan berbagai jasa lingkungan yang menopang hidup manusia,” jelas dia dalam sambutan lewat video tapping. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: biodiversitasFakultas Kehutanan UGMISWBC 2026Krisis IklimMasyarakat Adat

Editor

Next Post
Ilustrsi kunang-kunang. Foto Franciscojaviercorador/Pixabay.com.

Kunang-Kunang Kian Langka, Tanda Kualitas Lingkungan Menurun

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media