Jumat, 27 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Penelitian BRIN, Virus Nipah Terdeteksi Pada Satwa Liar di Indonesia

Kelelawar dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, namun berpotensi menularkannya ke hewan lain maupun manusia.

Kamis, 5 Februari 2026
A A
Ilustrasi kelelawar pembawa virus Nipah. Foto ambquinn/pixabay.com.

Ilustrasi kelelawar pembawa virus Nipah. Foto ambquinn/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Tantangan ke depan adalah keterbatasan data epidemiologi dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko zoonosis. Edukasi publik harus diperkuat agar masyarakat memahami bahaya kontak dengan satwa liar dan konsumsi pangan yang berpotensi terkontaminasi.

Indi berharap hasil riset yang dilakukan BRIN dapat menjadi dasar kebijakan nasional dalam pencegahan penyakit emerging dan re-emerging. Penguatan riset, surveilans, dan kesiapsiagaan adalah kunci agar Indonesia mampu menghadapi potensi ancaman Nipah virus secara lebih siap dan terukur.

Baca juga: Dampak Tambang Nikel di Pulau Obi, Air Jadi Cokelat dan Nelayan Menjaring Lumpur

Harus diwaspadai secara terukur dan terkoordinasi

Sementara Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher menegaskan pentingnya penguatan kewaspadaan nasional terhadap potensi penularan virus Nipah. Seiring meningkatnya kasus di sejumlah negara dan langkah antisipatif yang telah diambil pemerintah Indonesia.

“Saat ini belum terdapat kasus terkonfirmasi Virus Nipah pada manusia di Indonesia. Namun kita tidak boleh lengah, mengingat karakter virus yang bersifat zoonotik dan memiliki tingkat kematian yang tinggi,” sebut Netty melalui rilisnya, Kamis, 5 Februari 2026.

Kewaspadaan yang dilakukan pemerintah saat ini merupakan langkah pencegahan yang proporsional.

“Ini bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan memastikan sistem kesehatan kita siap menghadapi risiko,” ujar dia.

Ia mengapresiasi diterbitkannya Surat Edaran Kementerian Kesehatan tentang Kewaspadaan terhadap Virus Nipah yang mengatur pengetatan pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional, alat angkut, dan barang dari luar negeri, khususnya dari negara terdampak.

Baca juga: Jeron Beteng Jadi Percontohan Kawasan Rendah Emisi Kota Yogyakarta

Penguatan pengawasan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pendataan di aplikasi Satu Sehat Health Pass, serta kesiapsiagaan petugas kesehatan merupakan langkah yang tepat dan perlu konsisten dijalankan.

Penguatan surveilans di fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan penting dilakukan agar gejala-gejala yang menyerupai infeksi Virus Nipah dapat terdeteksi sejak dini. Sistem rujukan dan pelaporan juga harus berjalan cepat dan terkoordinasi.

Selain aspek kesehatan manusia, ia mengingatkan pencegahan Virus Nipah tidak bisa dilepaskan dari isu kesehatan hewan dan lingkungan. Mengingat Indonesia memiliki tingkat interaksi manusia dan satwa liar yang tinggi, termasuk keberadaan kelelawar sebagai reservoir alami virus. Pendekatan one health menjadi sangat relevan. Pengawasan lalu lintas hewan, edukasi masyarakat, serta perlindungan ekosistem harus menjadi bagian dari strategi pencegahan.

Netty mendorong pemerintah untuk memperkuat edukasi publik terkait langkah-langkah pencegahan sederhana namun krusial, seperti keamanan konsumsi pangan, pengolahan nira dan produk hewani secara benar, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

Baca juga: Istilah “Awan Kontainer”, Ada Kekeliruan Memahami Proses Pembentukan Hujan

“Edukasi ini penting agar masyarakat memiliki pemahaman yang tepat tanpa menimbulkan stigma maupun ketakutan berlebihan,” imbuh dia.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan riset dan kolaborasi lintas lembaga, termasuk dengan BRIN dan institusi akademik, mengingat hingga kini belum tersedia obat maupun vaksin spesifik untuk Virus Nipah. [WLC02]

Sumber: BRIN, DPR

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BRINKomisi IX DPR RIPenyakit ZoonotikSatwa liarVirus Nipah

Editor

Next Post
Episenter gempa 6,4 magnitudo di wilayah Pacitan, Jawa Timur, jenis gempa megathrust yang terjadi pada Jumat dini hari, 6 Februari 2026. Foto tangkap layar BMKG.

Gempa Dangkal Pacitan 6,4 Magnitudo, Daryono: Gempa Jenis Megathrust

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media