Sabtu, 8 Agustus 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penularan Penyakit Lewat Nyamuk

Risiko perubahan iklim juga berdampak pada persoalan kesehatan masyarakat. Banyak penyakit baru bermunculan. Juga peningkatan risiko penyakit akibat penularan vektor. Nyamuk, salah satunya.

Senin, 1 Agustus 2022
A A
Ilustrasi nyamuk menggigit. Foto FotoshopTofs/pixabay.com.

Ilustrasi nyamuk menggigit. Foto FotoshopTofs/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Perubahan iklim akibat pemanasan suhu global dapat meningkatkan risiko penyakit tular vektor. Selain juga kenaikan suhu bumi sebesar 1,5 – 2 derajat Celcius menyebabkan masalah serius bagi ketersediaan air, keamanan pangan, mata pencaharian dan ekonomi global apabila tidak segera ditangani sebagaimana dirilis IPCC (Intergovernmental Panel of Climate Change) pada 2018.

“Salah satu vektor penyakit yang berisiko tinggi di kawasan Asia adalah nyamuk,” kata Pakar Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Malaysia Dr. Rohaida Ismail saat menyampaikan kuliah umum Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga pada awal 2022 lalu.

Berdasarkan data WHO, kawasan Asia memiliki jumlah kematian akibat kasus penyakit malaria dan demam berdarah tertinggi nomor dua setelah Afrika. Jika tidak ada upaya untuk mengawal perubahan iklim, maka angka kematian akibat kedua penyakit itu bisa mencapai 2,700 jiwa dalam satu tahun.

Baca Juga: Ekstrak Lengkuas, Pembasmi Nyamuk Demam Berdarah yang Ramah Lingkungan

“Vektor penyakit seperti nyamuk bisa mentransmisikan penyakit dalam sekali gigitan. Mereka bisa mengancam kita di mana saja, kapan saja,” kata Rohaida.

Sementara kawasan bersuhu dingin, seperti Amerika, Australia, China dan Eropa juga akan mengalami peningkatan suhu akibat pemanasan global. Penyakit malaria berpotensi terdistribusi luas di sana karena mempercepat masa inkubasi ekstrinsik (siklus sporogoni dalam tubuh) nyamuk Anopheles.

“Bahkan penyakit malaria di beberapa wilayah di Amerika dan Asia bisa berpotensi menjadi epidemi,” ungkap Rohaida.

Begitu pila pada kasus penyakit demam berdarah. Pada suhu panas (26-35 derajat Celcius,) nyamuk lebih aktif menggigit. Selain itu, perkembangan nyamuk dari larva hingga dewasa juga semakin singkat. Artinya, peningkatan suhu berisiko terjadi outbreak penyakit demam berdarah.

Baca Juga: Hujan Es, Dampak Perubahan Iklim dan Membawa Polutan

“Peningkatan temperatur juga dapat mempercepat replikasi virus dengue dalam nyamuk Aedes aegypti serta mempersingkat masa transmisi dari virus,” imbuhnya.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: IPCCnyamuknyamuk Aedes aegyptinyamuk Anophelesperubahan iklimvektor

Editor

Next Post
Guru Besar Undip, Prof. Rahmat Gernowo. Foto undip.ac.id.

Rahmat Gernowo: Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Berbasis Anomali Atmosfer Tropis

Discussion about this post

TERKINI

  • Bencana ekologis di Sumatra. Foto Walhi.Deklarasi Desk Disaster Walhi: Hentikan Narasi “Bencana Alam” untuk Menghapus Tanggung Jawab
    In Lingkungan
    Rabu, 5 Agustus 2026
  • Menteri LH M. Jumhur Hidayat dalam Pelatihan Sertifikasi Lingkungan Hidup bagi Hakim Peradilan Umum, Militer, dan Tata Usaha Negara Seluruh Indonesia Angkatan XXIII di Bogor, 3 Agustus 2026. Foto Dok. KLH/BPLH.Menteri Jumhur: Putusan Pengadilan Harus Pulihkan Ekosistem dan Hentikan Perusakan Alam
    In News
    Rabu, 5 Agustus 2026
  • Ilustrasi semangka tanpa biji. Foto Congerdesign/Pixabay.comBudidaya Buah Tanpa Biji Tetap secara Alami
    In IPTEK
    Selasa, 4 Agustus 2026
  • Tongkang pengangkut batubara di perairan Sungai Mahakam. Foto Dok Wanaloka.com.Ribuan Ton Batu Bara Tumpah di Perairan Jepara, BRIN Survei Verifikasi Pencemaran
    In News
    Selasa, 4 Agustus 2026
  • Gajah Jovi dari PLG Minas, BKSDA Riau mati karena sakit, 3 Agustus 2026. Foto Dok. BKSDA Riau.Jovi, Gajah yang Berperan dalam Mitigasi Konflik di Riau Mati
    In News
    Selasa, 4 Agustus 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media