Sabtu, 25 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penularan Penyakit Lewat Nyamuk

Risiko perubahan iklim juga berdampak pada persoalan kesehatan masyarakat. Banyak penyakit baru bermunculan. Juga peningkatan risiko penyakit akibat penularan vektor. Nyamuk, salah satunya.

Senin, 1 Agustus 2022
A A
Ilustrasi nyamuk menggigit. Foto FotoshopTofs/pixabay.com.

Ilustrasi nyamuk menggigit. Foto FotoshopTofs/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Perubahan iklim akibat pemanasan suhu global dapat meningkatkan risiko penyakit tular vektor. Selain juga kenaikan suhu bumi sebesar 1,5 – 2 derajat Celcius menyebabkan masalah serius bagi ketersediaan air, keamanan pangan, mata pencaharian dan ekonomi global apabila tidak segera ditangani sebagaimana dirilis IPCC (Intergovernmental Panel of Climate Change) pada 2018.

“Salah satu vektor penyakit yang berisiko tinggi di kawasan Asia adalah nyamuk,” kata Pakar Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Malaysia Dr. Rohaida Ismail saat menyampaikan kuliah umum Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga pada awal 2022 lalu.

Berdasarkan data WHO, kawasan Asia memiliki jumlah kematian akibat kasus penyakit malaria dan demam berdarah tertinggi nomor dua setelah Afrika. Jika tidak ada upaya untuk mengawal perubahan iklim, maka angka kematian akibat kedua penyakit itu bisa mencapai 2,700 jiwa dalam satu tahun.

Baca Juga: Ekstrak Lengkuas, Pembasmi Nyamuk Demam Berdarah yang Ramah Lingkungan

“Vektor penyakit seperti nyamuk bisa mentransmisikan penyakit dalam sekali gigitan. Mereka bisa mengancam kita di mana saja, kapan saja,” kata Rohaida.

Sementara kawasan bersuhu dingin, seperti Amerika, Australia, China dan Eropa juga akan mengalami peningkatan suhu akibat pemanasan global. Penyakit malaria berpotensi terdistribusi luas di sana karena mempercepat masa inkubasi ekstrinsik (siklus sporogoni dalam tubuh) nyamuk Anopheles.

“Bahkan penyakit malaria di beberapa wilayah di Amerika dan Asia bisa berpotensi menjadi epidemi,” ungkap Rohaida.

Begitu pila pada kasus penyakit demam berdarah. Pada suhu panas (26-35 derajat Celcius,) nyamuk lebih aktif menggigit. Selain itu, perkembangan nyamuk dari larva hingga dewasa juga semakin singkat. Artinya, peningkatan suhu berisiko terjadi outbreak penyakit demam berdarah.

Baca Juga: Hujan Es, Dampak Perubahan Iklim dan Membawa Polutan

“Peningkatan temperatur juga dapat mempercepat replikasi virus dengue dalam nyamuk Aedes aegypti serta mempersingkat masa transmisi dari virus,” imbuhnya.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: IPCCnyamuknyamuk Aedes aegyptinyamuk Anophelesperubahan iklimvektor

Editor

Next Post
Guru Besar Undip, Prof. Rahmat Gernowo. Foto undip.ac.id.

Rahmat Gernowo: Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Berbasis Anomali Atmosfer Tropis

Discussion about this post

TERKINI

  • Penampakan permukaan peraran Danau Toba di Sumatra Utara. Foto Thiadon/Pixabay.com.Penurunan Muka Air Danau Toba Pasca 1984 Ekstrem, Mengapa?
    In Rehat
    Rabu, 22 Juli 2026
  • Dampak diberlakukannya penutupan TPA Piyungan mulai 23 Juli hingga 5 September, sejumlah tumpukan sampah mulai terlihat di Kota Yogyakarta. Foto Forpi Kota Yogyakarta.Proyek PSEL Yogyakarta Ditunda, Mengapa Konsorsium Pemenang Tender Sudah Diumumkan?
    In News
    Selasa, 21 Juli 2026
  • Ilustrasi regenerasi pohon. Foto Agnieszka/Pixabay.com.Mekanisme Regenerasi Pohon dan Nilai Spiritual Ekologis dalam Al-Qur’an
    In IPTEK
    Senin, 20 Juli 2026
  • Kebakaran di TPA Benowo di Surabaya, 19 Juli 2026. Foto Dok. DKPKP Surabaya.TPA Benowo Terbakar, Risiko Sistem Pemrosesan Sampah Open Dumping
    In Bencana
    Senin, 20 Juli 2026
  • Mengenal orangutan tapanuli. Foto Dok PPID Kemenlhk.Survei Terbaru Populasi Orangutan Sumatera dan Tapanuli Jadi Pijakan Kebijakan Konservasi
    In News
    Sabtu, 18 Juli 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media