Sabtu, 31 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penularan Penyakit Lewat Nyamuk

Risiko perubahan iklim juga berdampak pada persoalan kesehatan masyarakat. Banyak penyakit baru bermunculan. Juga peningkatan risiko penyakit akibat penularan vektor. Nyamuk, salah satunya.

Senin, 1 Agustus 2022
A A
Ilustrasi nyamuk menggigit. Foto FotoshopTofs/pixabay.com.

Ilustrasi nyamuk menggigit. Foto FotoshopTofs/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Guru Besar dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Prof. Ova Emilia menambahkan, perubahan iklim mengakibatkan vektor-vektor atau penyebab tersebut hidup lebih panjang atau berubah perilaku.

“Akibatnya, muncul penyakit-penyakit yang mungkin belum pernah ditemukan sebelumnya. Bukan tidak mungkin ke depan akan muncul problem-problem (penyakit baru) seperti Covid-19,” papar Ova dalam webinar bertema Pemikiran Bulaksumur #11: Kesehatan Manusia dan Planet Bumi pada Juni 2022.

Mitigasi Bertingkat

Menurut Ova, mitigasi atas ancaman perubahan iklim pada kesehatan masyarakat perlu melibatkan peran universitas untuk mendiseminasikan perilaku-perilaku ‘green’ atau yang berpikir terkait keberlanjutan planet bumi ini. Universitas juga diharapkan dapat menghasilkan banyak penelitian untuk memitigasi bencana perubahan iklim, serta membantu untuk membuat perencanaan dan kebijakan publik yang diperlukan.

Baca Juga: Gerakan Global Climate Srike: Waktu Kian Sempit, Bumi Serukan Darurat Iklim

Guru Besar dari FKKMK lainnya, Prof. Laksono Trisnantoro menambahkan, mitigasi kesehatan masyarakat dari bahaya perubahan iklim dilakukan mulai dari tingkat individu, sosial, sampai tingkatan struktural.

Di tingkat individu, adalah memperbaiki perilaku masyarakat, seperti mendorong untuk memiliki pola hidup sehat. Juga meningkatkan kesadaran masyarakat dengan melibatkannya dalam praktik pencegahan penyakit malaria dan demam berdarah sejak dini.

Di tingkat sosial, berupa pengurangan kemiskinan masyarakat, karena kenyataan di lapangan, kesehatan berkaitan dengan faktor ekonomi.

Sementara di tingkat struktural, seharusnya ada regulasi dan kebijakan yang diperlukan. Pemerintah juga melakukan upaya preventif, berupa monitoring terutama di daerah-daerah terpencil. Apabila ada penemuan kasus bisa segera diobati sebelum terjadi penularan. [WLC02]

Sumber: unair.ac.id, ugm.ac.id

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: IPCCnyamuknyamuk Aedes aegyptinyamuk Anophelesperubahan iklimvektor

Editor

Next Post
Guru Besar Undip, Prof. Rahmat Gernowo. Foto undip.ac.id.

Rahmat Gernowo: Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Berbasis Anomali Atmosfer Tropis

Discussion about this post

TERKINI

  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media