Selain letusan eksplosif, bahaya lain yang mengintai adalah lahar dingin yang terbentuk saat hujan deras bercampur dengan abu vulkanik yang mengendap di lereng gunung.
“Endapan abu di lereng yang terkena air bisa berubah menjadi lahar dingin atau lahar hujan yang mematikan,” imbuh dia.
Selain itu, masyarakat juga perlu mewaspadai bahaya sekunder dari curah hujan ekstrem. Selain letusan langsung, cuaca ekstrem juga dapat memicu bahaya tambahan, seperti longsor pada kubah lava yang bisa memicu letusan sekunder atau aliran lahar.
Baca Juga: Data Terkini BNPB 13 Ribu Lebih Pengungsi Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki
Peningkatan curah hujan dapat menambah risiko bagi kestabilan aktivitas gunungapi.
“Seperti minyak panas yang terkena tetesan air, hujan bisa memicu letusan mendadak jika air meresap ke dalam sistem magma. Selain itu, curah hujan ekstrem dapat mengikis lereng, menambah risiko longsor pada dinding lava yang rapuh,” jelas dia.
Sementara aktivitas vulkanik terpantau pula di beberapa gunung api lain di Indonesia, termasuk Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Dukono, dan Gunung Ibu. Para ahli berspekulasi tentang kemungkinan pengaruh cuaca ekstrem terhadap peningkatan aktivitas gunung-gunung tersebut.
Baca Juga: TIC Siapkan Info Aksesibilitas Labuan Bajo Selama Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki
Untuk memahami aktivitas vulkanik yang belum stabil ini, tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus melakukan pemantauan dengan analisis sampel batuan dan komposisi magma.
“Sampel batuan dapat memberikan informasi tentang tekanan dalam magma, membantu kita memprediksi apakah aktivitasnya akan segera berakhir atau justru meningkat,” imbuh dia.
Pemantauan berkesinambungan sangat penting untuk mengantisipasi letusan yang lebih besar, dan seluruh masyarakat diminta untuk waspada dan mengikuti arahan pihak berwenang.
Baca Juga: TIC Siapkan Info Aksesibilitas Labuan Bajo Selama Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki
Pakai masker basah
Sejauh ini, pemerintah telah mengevakuasi ribuan warga dari radius 9 kilometer puncak Gunung Lewotobi, untuk menghindari risiko dari aktivitas vulkanik. Mirzam menyampaikan beberapa poin terkait langkah mitigasi.
Ia mengingatkan masyarakat yang berada dalam radius beberapa kilometer dari tempat kejadian untuk segera mengikuti instruksi evakuasi dari pihak berwenang. Serta menghindari area yang rawan, seperti lereng dan bantaran sungai yang berpotensi menjadi jalur lahar dingin.
Mirzam juga mengingatkan pemakaian masker basah bagi warga setempat.
“Abu vulkanik yang berbahaya bagi pernapasan perlu diantisipasi dengan masker basah. Abu vulkanik yang terkena air akan mengeras seperti semen, sehingga masker basah membantu mencegah masuknya abu ke paru-paru,” jelas dia. [WLC02]
Sumber: ITB







Discussion about this post