Pada kesempatan sama, salah satu pendiri SPR IPB, Prof. Agik Suprayogi mengatakan, Kabupaten Pegunungan Arfak memiliki kondisi mikroklimat yang sejuk sekitar 18–22oC dengan kesuburan tanah dan keberadaan air melimpah. Kondisi ini sangat potensial untuk pengembangan sapi perah dengan konsep agrosilvopastoral.
Pada zaman kolonial Belanda, wilayah tersebut sudah ada peternakan sapi perah. Namun, setelah kemerdekaan tidak diteruskan peternak di sana.
Baca juga: Empat Hotel Bintang Tiga di Puncak Disegel karena Buang Limbah ke Ciliwung
“Menjadi benar dan cocok jika wilayah Pegunungan Arfak dikembalikan menjadi peternakan sapi perah melalui SPR IPB,” kata Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University itu.
Dekan Fakultas Peternakan Unipa, Prof. Andoyo Supriyantono menyampaikan apresiasi yang tinggi atas hadirnya IPB University di Papua Barat melalui inovasi SPR yang sudah tersebar di Indonesia. “Kami juga terpanggil bersama IPB untuk mendukung program DPKH Papua Barat,” ungkap Andoyo.
Sementara perwakilan Solidaritas Alumni SPR Indonesia (SASPRI), Arya Wishnuardi menyebutkan, SPR komoditas ayam dapat dikembangkan di Manokwari. Sementara itu, komoditas sapi potong cocok dikembangkan di Manokwari Selatan. Sebab, kedua komoditas tersebut sudah menjadi tumpuan ekonomi masyarakat setempat.
Baca juga: Pelepasliaran Kucing Akibatkan Overpopulasi, Zoonosis hingga Mengganggu Ekosistem
“Yang diperlukan sekarang adalah melatih mindset dan membuka akses pasar yang lebih luas,” kata dia.
SPR adalah inovasi IPB University yang telah tersebar di 29 kabupaten dan 18 provinsi di Indonesia. Mereka berharap SPR IPB bermanfaat bagi petani dan peternak dalam upaya meraih kedaulatan pangan mereka di Provinsi Papua Barat. [WLC02]
Sumber: IPB University







Discussion about this post