Rabu, 13 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pola Unik Pergerakan Kura-kura Moncong Babi Kadang ke Hulu Kadang ke Hilir

Pergerakan satwa endemik ini menjadi dasar pembuatan kebijakan kawasan lindung atau kawasan konservasi.

Selasa, 29 Juli 2025
A A
Kura-kura moncong abbi. Foto WWF Indonesia.

Kura-kura moncong abbi. Foto WWF Indonesia.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta), satwa endemik yang berstatus endangered (terancam punah) di Sungai Kao, Papua menunjukkan perilaku pergerakan yang tidak teratur dan saling tumpang tindih dalam penggunaan ruang hidupnya. Kesimpulan itu berdasarkan hasil riset tentang pola pergerakan uniknya oleh Tim peneliti IPB University yang dipimpin pakar ekologi satwa liar dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Prof. Mirza Dikari Kusrini.

“Jadi ada kura-kura yang bergeraknya ke arah hulu, ada juga yang ke arah hilir, kemudian ada yang ke arah hilir, kemudian dia naik kembali. Dia tidak memiliki pola pergerakan yang tunggal,” jelas Morgan Wayne, anggota tim peneliti.

Temuan tersebut diperoleh dari hasil pemantauan menggunakan GPS tracker yang dikembangkan secara mandiri oleh tim peneliti. GPS ini merupakan prototipe ketiga dengan biaya jauh lebih rendah dibandingkan alat komersial, sehingga memungkinkan tim tetap melakukan pelacakan satwa meskipun dengan keterbatasan anggaran.

Baca juga: Janji Menteri Kehutanan, Wisata Alam Bukan Wisata Massal Tapi Ekowisata

Pemahaman terhadap pola pergerakan dan area jelajah (home range) kura-kura moncong babi dinilai penting dalam perumusan strategi konservasi yang berbasis ilmiah.

“Untuk melindungi satwa liar, kami perlu tahu kira-kira apakah semua badan sungai digunakan atau mungkin hanya sebagian. Ketika kami mengetahui, misalnya kura-kura ini bergerak di pinggir sungai atau dekat pasir peneluran, untuk kebijakan ke depan, seperti pembuatan kawasan lindung atau kawasan konservasi, kami sudah punya dasar,” terang Morgan.

Meskipun termasuk dalam daftar satwa dilindungi, kura-kura moncong babi di kawasan Sungai Kao masih menghadapi ancaman berupa pengambilan telur oleh masyarakat lokal selama musim peneluran pada Agustus hingga Oktober. Namun Mirza menilai aktivitas ini tidak berlangsung secara masif dan masyarakat setempat memiliki pemahaman ekologis yang cukup baik.

Baca juga: KKP Tingkatkan Pengelolaan Kawasan Konservasi Hiu dan Pari

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB Universitykura-kura moncong babisatwa endemik

Editor

Next Post
Pengecekan alat untuk menangani karhutla di Sumatra Selatan, 29 Juli 2025. Foto Danung Arifin/Bidang Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Enam Provinsi Siaga Tanggap Darurat Karhutla 2025

Discussion about this post

TERKINI

  • Mengapati dan mendokumentasikan letusan Gunung Sakurajima di Jepang pada 2013 dari jauh. Foto Dok. Mirzam Abdurrachman.Erupsi Dukono, Pentingnya Pemahaman Risiko dan Peringatan Dini yang Mudah Dipahami
    In Rehat
    Selasa, 12 Mei 2026
  • Salah satu jenis anggrek Merapi. Foto Dok. TNG Merapi.Anggrek Merapi, Beraroma Wangi dan Mampu Bertahan Saat Erupsi
    In Rehat
    Selasa, 12 Mei 2026
  • Ilustrasi ,krisis air bersih. Foto Andres_maura_ph/Pixabay.com.Pemerintah Harus Antisipasi Krisis Sampah dan Air Bersih Dampak Godzilla El Niño 2026
    In Lingkungan
    Senin, 11 Mei 2026
  • Ilustrasi tikus pembawa virus. Foto Sipa/Pixabay.com.Mengenal Virus Hanta Tipe HFRS di Indonesia dan Tipe HPS di Kapal Pesiar
    In Rehat
    Senin, 11 Mei 2026
  • Tim SAR gabungan membawa kantong jenazah korban erupsi gunung api Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, 10 Mei 2026. Foto Basarnas.Pendakian Gunung Dukono Ditutup April 2026, Tiga Pendaki Tewas Mei 2026
    In Traveling
    Minggu, 10 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media