“Pumma hadir sebagai jawaban atas keterbatasan sistem peringatan dini yang selama ini bertumpu pada sensor seismik. Pumma diunggulkan karena sesuai dengan karakteristik tsunami dan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan,” ujar Semeidi.
Kata “murah” dalam nama alat ini bukan sekadar menggambarkan biaya produksi yang rendah, juga mencerminkan filosofi efisiensi tanpa mengorbankan keandalan. Alat ini mampu memantau kondisi (anomali) permukaan laut secara langsung dengan pembaruan data setiap 15 detik (near-real time).
Bahkan ada usulan untuk mengganti kata “murah” menjadi “multiguna”, karena fungsi alat ini tidak terbatas hanya untuk mendeteksi tsunami. Namun juga untuk hal lain, seperti mitigasi bencana pesisir dan pengelolaan sumber daya di wilayah pesisir.
Salah satu keunggulan Pumma adalah penempatannya memanfaatkan pulau-pulau kecil sebagai pelampung alami di tengah laut (natural offshore buoy).
“Dengan menempatkan sensor di pulau terdekat dari sumber bencana, seperti kompleks gunung api Anak Krakatau, informasi mengenai kenaikan air laut yang tidak wajar dapat dikirimkan ke server dalam waktu kurang dari lima menit,” papar dia.
Sejauh ini, kemampuan Pumma sudah teruji. Ketika tsunami akibat letusan Gunung api Hunga Tonga menghantam perairan Indonesia pada Januari 2022, Pumma berhasil mendeteksi gelombang tersebut dan mengirimkan sekitar 36 notifikasi peringatan kepada pihak berwenang.
Selama beroperasi di pesisir, tidak satupun unit Pumma yang mengalami vandalisme. Keberhasilan tersebut didukung sosialisasi tepat sasaran. Selain mudah dipahami dan digunakan, Pumma juga mendorong tumbuhnya rasa memiliki di kalangan warga sehingga mereka turut menjaga alat yang berfungsi mendukung keselamatan masyarakat.
Kini, Pumma tidak hanya dikembangkan untuk deteksi tsunami. Alat ini mulai dimanfaatkan untuk memantau fenomena banjir rob. Salah satunya di kawasan Muara Gembong, Bekasi.
“Ini ditujukan agar pembangunan infrastruktur perlindungan pantai di Pantura Jawa bisa lebih terarah,” kata dia.
Tantangan peringatan dini
Tantangan terbesar lainnya adalah penyampaian peringatan di lokasi terdampak (hilir). Meskipun BMKG mengirimkan peringatan dalam 5 menit, sirine di daerah rawan yang terdampak belum tentu bisa menyala tepat waktu mengingat waktu emas (golden time) evakuasi tsunami hanya sekitar 30 menit atau bahkan kurang.
“Ini menjadi tantangan terbesar kami ke depan karena karakteristik tsunami di Indonesia adalah tsunami jarak dekat. Jika kejadian gempa bumi, maka tsunami bisa sampai di pesisir dalam 30 menit atau kurang dari satu jam,” kata Semeidi.
BRIN mengintensifkan implementasi Pumma untuk memperkuat sistem peringatan dini existing. Ia menekankan perlunya penguatan sistem multisensor, perbaikan tata ruang kawasan pesisir, pemanfaatan vegetasi pantai seperti mangrove dan cemara laut sebagai sistem pelindung hijau (greenbelt) serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat untuk mengurangi risiko bencana gelombang tsunami.
Berbagai tantangan masih dihadapi dalam pengembangan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia. Potensi terjadinya tsunami akibat aktivitas vulkanik (volcano tsunami) di Indonesia cukup tinggi sehingga perlu dukungan berbagai pihak untuk memasang sistem pemantauan gunung api dan sistem peringatan dini di berbagai wilayah.
Ia berharap jaringan pemantauan dapat diperluas hingga ke wilayah Indonesia bagian timur yang hingga kini masih memiliki keterbatasan cakupan. Langkah tersebut penting untuk mewujudkan pemerataan perlindungan bagi seluruh masyarakat pesisir di Indonesia. [WLC02]
Sumber: BRIN






Discussion about this post