Sabtu, 5 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pumma, Alat Deteksi Tsunami dan Rob Murah dan Realtime

Pumma lahir karena tsunami akibat aktivitas gunung api, longsor bawah air tidak bisa dideteksi dengan sensor gempa bumi.

Senin, 1 Juni 2026
A A
Pumma, alat deteksi tsunami dari BRIN. Foto Dok. BRIN.

Pumma, alat deteksi tsunami dari BRIN. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tsunami tidak hanya disebabkan gempa bumi, melainkan juga akibat aktivitas gunung api dan longsor bawah laut. Peristiwa tsunami Palu 2018 dan Selat Sunda 2018 menjadi bukti, bahwa sensor gempa bumi saja tidak cukup. Terbukti, ribuan nyawa melayang saat tsunami Palu dan Selat Sunda karena sistem InaTEWS BMKG tidak didesain untuk kejadian non-gempa.

“Aktivitas gunung api, longsor bawah air tidak bisa dideteksi sensor gempa bumi, hanya sensor tertentu seperti sensor muka air yang dipasang dengan tepat yang bisa mendeteksi tsunami lebih dini,” terang Peneliti Ahli Utama dari Kelompok Riset Volkano Tsunami dan Gelombang Panjang, PRKG BRIN, Semeidi Husrin, Selasa, 26 Mei 2026.

Begitu pun gempa bumi berkekuatan M 7,6 yang mengguncang Maluku Utara pada 2 April 2026 menjadi pengingat kembali akan tingginya aktivitas seismik di wilayah timur Indonesia. Gempa tersebut dipicu sesar naik dan berpotensi menimbulkan tsunami.

Tsunami memang sudah tercatat di beberapa lokasi di sekitar episenter, meskipun ketinggiannya bervariasi dan sebagian besar kurang dari satu meter. Namun, sejarah mencatat di lokasi yang sama pada abad ke-19 pernah terjadi gempa besar yang memicu tsunami setinggi 15 meter.

Atas dasar kondisi tersebut, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Pumma (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut). Secara internasional, alat ini dikenal dengan nama Inexpensive Device for Sea-Level Measurement (IDSL) yang ditujukan untuk memperkuat sistem deteksi dini tsunami di Indonesia.

Urgensi pengembangan Pumma tidak terlepas dari karakteristik geologi Indonesia yang rentan terhadap gempa bumi dan tsunami. Berada di jalur Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) dan pertemuan lempeng tektonik aktif dan wilayah pesisir yang berbatasan langsung dengan lempeng megathrust sehingga menyimpan potensi gempa yang dapat memicu gelombang tsunami.

Pengembangan PUMMA juga mempertimbangkan kondisi khas kebencanaan di Indonesia. Mengingat sebagian besar tsunami di Indonesia bersifat nearfield dan atipikal, sehingga memerlukan pendekatan deteksi yang berbeda dibandingkan sistem konvensional.

Untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami nasional (InaTEWS) yang dimiliki BMKG, BRIN bersama mitra nasional dan internasional mengembangkan alat bernama Pumma (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut). Berbeda dengan sistem konvensional yang mengandalkan pemodelan gempa, Pumma langsung mencatat dinamika muka air laut secara real time.

“Jadi gempanya dicatat, kemudian tsunaminya dimodelkan. Sementara Pumma ini langsung mencatat tsunaminya. Jadi tanpa pemodelan, secara real time langsung mencatat tsunaminya,” jelas Semeidi.

Alat ini dinilai cocok untuk kondisi geografis Indonesia, terutama di bagian timur yang terdiri dari banyak pulau kecil yang berperan sebagai “natural offshore bouys“. Pumma dapat dipasang di pesisir yang dekat dengan sumber bencana. Untuk kasus Maluku Utara, alat ini bisa dipasang di dua pulau kecil terdekat dari episenter, yakni Pulau Maju dan Pulau Batang Dua.

“Alat ini bisa dipasang di dua pulau kecil ini sehingga dia bisa membantu lebih cepat untuk deteksi dini tsunaminya,” kata dia.

Tahun 2026, Pumma memasuki tahun ke-7 beroperasional di Selat Sunda. Alat yang dipasang di Pulau Rakata, kompleks Gunung Api Anak Krakatau menjadi satu-satunya sistem monitoring peringatan dini volcano-tsunami di Selat Sunda dan di Indonesia saat ini.

Selain dukungan penuh dari BMKG, keberadaan Pumma di Krakatau juga didukung banyak pihak seperti BAKTI Kominfo, PT Telkomsel, BNPB, UNILA, Balawista, IATSI, Kemenhub, PVMBG, KKP dan Pemerintah Daerah setempat, serta dari mitra internasional, Joint Research Centre – the European Commision.

Sejak 2020 – 2021, sembilan unit Pumma juga dipasang di pesisir Lampung, Banten, Jawa Barat (2 unit), Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatra Barat (2 unit), dan Jakarta.

Deteksi tsunami dan rob

Selain untuk tsunami, Pumma diharapkan dapat disandingkan dengan upaya mitigasi bencana pesisir ramah lingkungan. Baik tanaman pantai, tanggul alami dan struktur berbasis material alami lainnya untuk pengelolaan dinamika pesisir dan perlindungan pantai utara Jawa.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Alat Deteksi TsunamiORKM BRINPumma

Editor

Next Post
Konservasi Mangrove di Pesisir Semarang. Foto mangrovetag.com.

Mangrove Atasi Penurunan Tanah dan Kenaikan Muka Laut di Pantura Jawa

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media