Selasa, 3 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Refleksi Bencana Ekologis Sumatra: Mitigasi Bencana Berbasis Spiritual, Pengetahuan Lokal, dan Sains

Data deforestasi dan kerusakan hutan menjadi indikator kuat bahwa krisis ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan hasil interaksi kompleks antara kebijakan, kepemimpinan politik, serta budaya konsumtif masyarakat.

Minggu, 22 Februari 2026
A A
Penanganan pascebencana ekologis di Aceh Tamiang. Foto Dok. Kementerian Kehutanan.

Penanganan pascebencana ekologis di Aceh Tamiang. Foto Dok. Kementerian Kehutanan.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Resiliansi, eko-teologi, dan citizen science pascabencana merupakan pendekatan terpadu untuk memperkuat mitigasi bencana. Integrasi ketiganya menghasilkan mitigasi bencana yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga partisipatif, berkelanjutan, dan berorientasi jangka panjang.

Resiliansi membangun kapasitas masyarakat agar mampu beradaptasi dan lebih siap menghadapi risiko di masa depan. Eko-teologi memberikan landasan etis dan spiritual tentang tanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Sementara citizen science melibatkan warga dalam pemantauan dan pengelolaan risiko berbasis data.

Pendekatan tersebut mengemuka dalam Weekly Webinar Series – Update Sumatra ke-8 bertema “Resiliansi, Eko-Teologi, dan Citizen Science Pascabencana” yang diselenggarakan Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jumat, 20 Februari 2026. Sejumlah pemangku kepentingan hadir untuk membahas penanganan pengungsi, relokasi, serta solusi jangka panjang pascabencana.

Konsep ekoteologi jadi fondasi pemulihan bencana

Salah satu narasumber, Suhadi Cholil, Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, dalam paparannya berjudul “Ekoteologi Islam dan Foresight dalam Bencana Katastrofik” meninjau kaitan erat antara krisis ekologi, bencana katastrofik, dan kebutuhan akan visi jangka panjang dalam tata kelola lingkungan di Indonesia.

Dengan merefleksikan bencana yang terjadi di Sumatra, ia menegaskan bahwa berbagai musibah ekologis tidak dapat dilepaskan dari degradasi lingkungan yang berlangsung secara sistematis selama beberapa dekade terakhir.

Baca juga: Tantangan Energi Surya Wilayah Kepulauan, Kesenjangan Kualitas hingga Kerentanan Akses

“Data deforestasi dan kerusakan hutan menjadi indikator kuat bahwa krisis ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan hasil interaksi kompleks antara kebijakan, kepemimpinan politik, serta budaya konsumtif masyarakat,” jelas Suhadi.

Ia menawarkan pendekatan ekoteologi Islam sebagai kerangka normatif dan etis untuk merespons krisis ekologis. Konsep-konsep kunci, seperti amanah, khalifah, mizan (keseimbangan), serta larangan berbuat fasad (kerusakan) merupakan fondasi moral hubungan manusia dengan alam.

“Ekoteologi tidak boleh berhenti menjadi wacana keagamaan, tetapi harus menjadi sumber energi spiritual yang memotivasi tindakan ekologis,” ujar dia.

Namun etika normatif saja, diakuinya tidak cukup. Diperlukan kebijakan konkret dan strategi implementatif agar nilai-nilai tersebut berdampak nyata pada mitigasi dan pencegahan bencana.

Selain dimensi teologis, Suhadi mengintegrasikan perspektif foresight atau studi masa depan dalam kerangka pemikirannya. Bahwa foresight bukanlah ramalan, melainkan pendekatan strategis untuk membaca berbagai kemungkinan masa depan dan menyiapkan respons kebijakan sejak dini. Prinsip berpikir jangka panjang, melampaui siklus politik lima tahunan, dinilai krusial agar bencana ekologis tidak terus ditangani secara reaktif.

Metode seperti environmental scanning, perencanaan skenario, dan backcasting dapat digunakan untuk menjembatani visi normatif dengan langkah kebijakan konkret. Integrasi ekoteologi dan foresight pun menjadi tawaran konseptual utama dalam paparannya.

Baca juga: Kritik Walhi, RUU Daerah Kepulauan Hanya Memperkuat Posisi Pemda 

“Nilai-nilai Islam harus diterjemahkan menjadi parameter dalam penyusunan skenario masa depan, misalnya melalui visi ‘Nusantara Seimbang 2045’ yang berbasis prinsip mizan,” papar dia.

Dengan pendekatan backcasting, visi ideal tersebut ditarik mundur ke masa kini untuk menentukan kebijakan, investasi, dan inovasi yang perlu dimulai sejak sekarang. Tindakan hari ini pun diharapkan konsisten dengan tujuan ekologis jangka panjang.

Secara keseluruhan, gagasan yang ditawarkan memperlihatkan krisis lingkungan merupakan persoalan multidimensional yang mencakup aspek teknis, politik, sosial, dan spiritual. Ekoteologi Islam memberikan fondasi etis dan motivasi transendental, sementara foresight menyediakan instrumen analitis dan strategis untuk implementasi kebijakan.

Kombinasi keduanya dinilai mampu menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam menghadapi ancaman bencana berulang di Indonesia. Sekaligus mendorong transformasi paradigma dari reaktif menuju proaktif dan berorientasi masa depan.

Bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik dan kerugian ekonomi. Melainkan juga luka psikologis, spiritual, dan ekologis yang saling berkaitan. Pemulihan pascabencana memerlukan pendekatan holistik yang tidak semata-mata teknis, tetapi juga menyentuh dimensi moral dan spiritual masyarakat.

Baca juga: Gelombang Rossby Ekuatorial, Pemicu Hujan Ekstrem di Padang dan Jayapura

Lewat pendekatan ekoteologi mengintegrasikan spiritualitas dan ekologi dengan menempatkan manusia sebagai penjaga keseimbangan alam. Dalam ajaran keagamaan, manusia diposisikan sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab moral menjaga harmoni antara Tuhan, manusia, dan alam.

Peneliti Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN, Yumasdaleni mengaitkan pendekatan tersebut dengan realitas antroposen, yakni era ketika aktivitas manusia menjadi faktor dominan perubahan bumi. Eksploitasi alam seperti deforestasi, polusi, dan pertambangan berlebihan tidak hanya memicu bencana ekologis, tetapi juga melahirkan trauma ganda, baik bagi manusia maupun ekosistem alam.

“Bencana menimbulkan luka berlapis, mulai dari kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, hingga simbol-simbol spiritual dan kultural yang melekat dengan lingkungan,” ujar dia.

Kehilangan ruang ritual dan lanskap budaya turut memperparah keterasingan komunitas terdampak. Yumasdaleni juga memperhatikan fenomena solastalgia dan ecological grief yang menggambarkan bagaimana perubahan lingkungan destruktif memicu tekanan emosional mendalam.

Banyak penyintas masih merindukan “rumah”, meski secara fisik berada di lokasi yang sama. Sebab, yang hilang bukan sekadar bangunan, melainkan memori kolektif dan identitas komunitas.

Pemulihan trauma perlu dilakukan melalui intervensi terintegrasi, termasuk restorasi ekologis, terapi berbasis alam, serta pemulihan ruang ritual dan simbolik.

Baca juga: Tak Semua Lubang Raksasa adalah Sinkhole, Pakar Ungkap Tanda-tandanya

“Kegiatan seperti menanam pohon, bertani bersama, doa bersama, dan refleksi spiritual menjadi bagian dari proses penyembuhan manusia sekaligus alam,” jelas dia.

Spiritualitas perlu berjalan beriringan dengan regulasi lingkungan yang kuat dan penegakan hukum terhadap praktik eksploitasi. Dalam kerangka ekoteologi, perubahan etis kolektif menjadi fondasi penting untuk mencegah bencana serupa di masa depan.

Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, Ali Yansyah Abdurrahim mengamini bahwa pemulihan pascabencana tidak bisa dibangun hanya dengan pendekatan teknis dan infrastruktur semata. Juga membutuhkan pendekatan yang menyentuh dimensi spiritual, budaya, ekologis, dan partisipatif secara terintegrasi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Bencana Ekologis SumatraCitizen ScienceekoteologiPengetahuan LokalPusat Riset Kependudukan BRIN

Editor

Next Post
Ilustrasi pasien kanker. Foto freepik.com.

Tak Semua Pasien Kanker Tak Boleh Berpuasa Ramadan

Discussion about this post

TERKINI

  • Kota Mamuju. Foto Dok. BRIN.Riset BRIN, Paparan Radiasi Alam Mamuju Capai 9 Kali Rata-Rata Dunia
    In IPTEK
    Minggu, 1 Maret 2026
  • Ilustrasi bekas tambag batu kapur. Foto @wirestock/freepik.com.Hijaukan Lahan Bekas Tambang Kapur dengan Bioaktivator
    In IPTEK
    Sabtu, 28 Februari 2026
  • Peta sebaran industri ekstratktif Gubernur Maluku Utara. Foto Jatam.Jatam Desak Cabut Izin Tambang Nikel Ilegal di Maluku Utara, Denda Rp500 Miliar Bukan Solusi
    In Lingkungan
    Sabtu, 28 Februari 2026
  • Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik di Washington, D.C., Amerika Serikat, Kamis, 19 Februari 2026. Foto BPMI Setpres/White House.Perjanjian Dagang Timbal Balik, Prabowo Serahkan Kedaulatan Ekologi pada Amerika Serikat
    In News
    Jumat, 27 Februari 2026
  • Dissinformasi InaEEWS di akun Telegram. Foto Dok. BMKGBMKG Tegaskan Akun Telegram InaEEWS yang Beredar Palsu dan Ilegal
    In News
    Jumat, 27 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media