Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Represi Tragedi 234 di Wadas, Gempadewa Tuntut Tambang Andesit Dibatalkan

Selasa, 25 April 2023
A A
Peringatan tragedi 23 April 2021 yang represif di Wadas. Foto istimewa.

Peringatan tragedi 23 April 2021 yang represif di Wadas. Foto istimewa.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kelompok masyarakat Desa Wadas penolak tambang andesit yang tergabung dalam Gempadewa (Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas) menggelar acara “Menolak Lupa Kedzaliman Negara”. Acara itu untuk memperingati tindakan represif aparat kepolisian yang dilakukan terhadap masyarakat Wadas penolak tambang andesit pada Jumat, 23 April 2021 lalu.

Peringatan tersebut dilaksanakan bersamaan perayaan Hari Raya Idul Fitri yang berlangsung penuh haru, Minggu, 23 April 2023. Hingga saat ini, warga Wadas masih mengalami trauma dengan peristiwa represif itu.

Warga memperingati peristiwa yang kemudian dikenal dengan sebutan “Tragedi 234” itu dengan menggelar mujahadah dan doa bersama di Tugu Perlawanan yang berdiri tegak di Randu Parang, Desa Wadas. Mereka memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar mengetuk nurani pemerintah sehingga mau menghentikan rencana tambang andesit dan segala bentuk tindakan represif, dan intimidasi kepada warga Wadas agar menerima tambang andesit. Seorang warga yang masih trauma tiba-tiba jatuh pingsan saat acara peringatan berlangsung.

Baca Juga: Pengelolaan Limbah Radioaktif Borehole Disposal Harus Aman dan Tak Bocor

“Peringatan ini juga menjadi upaya bagi warga agar saling menguatkan dan menghilangkan trauma,” ujar Siswanto dari Gempadewa melalui siaran pers yang diterima Wanaloka.com pada 24 April 2023.

Tragedi 234 terjadi ketika puluhan aparat polisi melakukan tindakan represif kepada warga Wadas agar menyerahkan tanah pertaniannya kepada pemerintah. Sebab lokasi lahannya ditetapkan menjadi lokasi tambang batu andesit.

Polisi yang datang mengenakan helm dan bersenjata pentungan melakuka pemukulan dan menembakkan gas air mata terhadap para perempuan dan anak-anak yang menghadang aparat kepolisian di ujung jalan desa. Warga, terutama kaum perempuan tercerai-berai dan mengalami kesakitan akibat terkena gas air mata. Salah seorang perempuan ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.

Baca Juga: Walhi: Tak Ada Prioritas Keselamatan Lingkungan dalam RPJMN 2005-2025

“Tragedi 234 membawa luka dan trauma yang mendalam bagi warga Wadas, terutama Wadon Wadas,” ujar Ngatinah, seorang perempuan anggota Wadon Wadas.

Sedangkan Susi pun mengaku masih menangis setiap kali berbicara soal tragedi itu.

“Hati kami hancur bila mengingat peristiwa April yang terjadi dua tahun lalu,” kata Susi.

Represifitas pemerintah dan aparat kembali diulang pada tanggal 8 hingga 10 Februari 2022. Saat tragedi Februari itu, ribuan aparat polisi memukul, menangkap dan menahan warga Wadas yang sedang mujahadah di masjid.

Baca Juga: Gempa Dangkal 6,4 Magnitudo Guncang Wakatobi, BNPB Sebut Situasi Normal

Ngatinah berharap agar pemerintah tidak berlaku sewenang-wenang dan melakukan kekerasan terhadap warga Wadas. Ia juga berharap pemerintah tidak memaksa warga yang menolak tambang untuk menyerahkan tanahnya.

Susi juga berharap Tuhan mengabulkan doa mereka sehingga pemerintah sadar dan tidak berlaku seenaknya kepada warga yang konsisten menolak tambang. Ia minta pemerintah menghargai keputusan warga.

“Kami konsisten melawan tambang andesit karena hanya ingin hidup layak di bumi Wadas yang subur dan lestari sampai kapan pun,” imbuh Susi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Desa WadasGempadewatambang andesitTragedi 234Wadon Wadas

Editor

Next Post
Pusat gempa Mentawai 7,3 magnitudo memicu tsunami di Pulau Tanahbala, Nias Selatan, Sumatera Utara pada Selasa, 25 April 2023. Foto tangkap layar Google Earth berdasarkan koordinat pusat gempa BMKG.

Gempa Mentawai 7,3 Magnitudo Picu Tsunami di Pulau Tanahbala Nias Selatan

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media