Sabtu, 19 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ribuan Ton Batu Bara Tumpah di Perairan Jepara, BRIN Survei Verifikasi Pencemaran

Selasa, 4 Agustus 2026
A A
Tongkang pengangkut batubara di perairan Sungai Mahakam. Foto Dok Wanaloka.com.

Tongkang pengangkut batubara di perairan Sungai Mahakam. Foto Dok Wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Analisis juga memanfaatkan model oseanografi global yang dikonfirmasi menggunakan citra satelit untuk mengidentifikasi pola penjalaran gelombang di perairan Jepara. Hasil analisis menunjukkan gelombang dominan datang dari arah utara hingga timur laut.

Data pemodelan juga merekam kondisi tinggi gelombang pada beberapa periode sejak tongkang mulai mengalami kemiringan pada akhir Juni hingga kondisi terakhir pada Juli 2026. Informasi tersebut dipadukan dengan pemodelan arus dan pasang surut untuk memperkirakan arah perpindahan serpihan batu bara. Sehingga, lokasi yang berpotensi terdampak dapat diprioritaskan dalam kegiatan verifikasi lapangan.

Sementara Reza berperan melakukan pengambilan sampel air, sedimen, dan bentos untuk mengidentifikasi keberadaan material batu bara sekaligus menganalisis tingkat pencemaran dan potensi kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya. Hasil analisis tersebut selanjutnya dibandingkan dengan baku mutu lingkungan sebagai dasar penilaian kondisi ekosistem perairan.

“Analisis terhadap sampel air, sedimen, dan bentos diperlukan untuk mengetahui tingkat pencemaran serta membandingkannya dengan baku mutu lingkungan. Hasil analisis tersebut menjadi dasar ilmiah dalam menilai kondisi ekosistem perairan pascakejadian,” ujar Reza.

Dilansir dari Suara Merdeka, kapal tongkang BG Santosa 6 bertolak dari Pelabuhan Banjarmasin dengan tujuan Marunda, Jakarta pada 5 Juni 2026. Di perjalanan, kapal dihantam cuaca buruk pada 6-7 Juni 2026 dan kapal dalam kondisi miring pada 8 Juni 2026 di dekat wilayah Pantai Mororejo, Desa Mororejo Kecamatan Mlonggo.

Sejak 28 Juni lalu, owner kapal sudah berupaya untuk menstabilkan kondisi dengan berbagai cara. Namun gagal. Akhirnya kemiringan kapal semakin bertambah hingga seluruh batubara tumpah ke laut dengan kedalaman sekitar 8-10 meter. Upaya penyelamatan gagal, sehingga seluruh muatan batu bara seberat 7.221 ton tumpah ke laut.

Menurut Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Pemeliharaan DLH Kabupaten Jepara, Nexson Hasiholan Manullang, pencemaran di perairan dimungkinkan tidak ada dengan alasan sifat batu bara adalah tidak larut dalam air.

“Tapi kalau tidak diangkat, batu bara itu akan menutup dasar laut dan merusak ekosistem di sana,” kata Nexon. [WLC02]

Sumber; BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BRINKabupaten JeparaTongkang Batu Bara

Editor

Next Post
Ilustrasi semangka tanpa biji. Foto Congerdesign/Pixabay.com

Budidaya Buah Tanpa Biji Tetap secara Alami

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media