Minggu, 8 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Sejarah Pendidikan Astronomi di Indonesia, Bambang Hidayat Pimpin 31 Tahun

Kehadiran Observatorium Bosscha turut andil membidani kelahiran pendidikan astronomi di Indonesia.

Minggu, 5 Februari 2023
A A
Prof. Bambang Hidayat (jas hitam) mendapat penghargaan dalam acara Peringatan 100 Tahun Observatorium Bosscha. (Adi Permana/Biro Komunikasi dan Humas ITB)

Prof. Bambang Hidayat (jas hitam) mendapat penghargaan dalam acara Peringatan 100 Tahun Observatorium Bosscha. (Adi Permana/Biro Komunikasi dan Humas ITB)

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Pada 1926, pendiri Anton Pannekoek Institut of Astronomy, Dr. van der Hucht, bekerja di Observatorium Bosscha selama tiga bulan untuk mengukur kecerahan Southern Milky Way. Ia menghasilkan sebuah peta yang sangat indah yang menggambarkan Southern Milky Way. Penelitian yang dilakukan van der Hucht telah dipublikasikan di Annalen of the Bosscha Sterrewacht pada 1928.

Sayangnya, kondisi Observatorium Bosscha sempat mengalami kekacauan pada masa akhir Perang Dunia II dan masa pendudukan Jepang. Banyak teleskop dan alat instrumentasi optik yang hilang. The Netherlands-Indies Astronomical Society (NISV) sebagai pemilik observatorium, tidak tahu harus melakukan apa saat itu.

Kemudian, pemilik observatorium meminta bantuan kepada Universiteit van Indonesie di Bandung (sebelumnya bernama Sekolah Tinggi Teknik Bandung) saat itu untuk mengatur manajemen Observatorium Bosscha. Inilah awal mula pendidikan astronomi di Indonesia.

Baca Juga: Ini Peran Para Pendiri dan Aneka Teleskop Observatorium Bosscha

Demikian kisah awal pendidikan astronomi di Indonesia seiring perkembangan peran Observatorium Bosscha yang disampaikan salah satu astronom Anton Pannekoek Institut of Astronomy, University of Amsterdam, Prof. Dr. Edward van den Heuvel dalam peringatan 100 Tahun Observatorium Bosscha di Lembang, 30 Januari 2023. Ia juga menjadi bagian dari European Space Agency, Leids Kerkhoven Bosscha Fonds, dan Royal Academy of Arts and Science.

Selama dikelola Universiteit van Indonesie di Bandung, banyak astronom dari Belanda diundang untuk “menyelamatkan” observatorium ini. Astronom pertama yang datang adalah lulusan Harvard University, Dr. Elsa van Albada pada Desember 1948. Ia mendapat tugas menyusun alat-alat instrumentasi yang sebelumnya berantakan.

Baca Juga: Observatorium Bosscha Lahir di Tengah Keluarga Ilmuwan di Kebun Teh

Selanjutnya, mahasiswa Anton Pannekoek Institute of Astronomy, Dr. Bruno van Albada diminta hadir di Observatorium Bosscha untuk menjadi direkturnya.

“Dia mulai mengajar astronomi di universitas,” tutur van den Heuvel.

Dr. Bruno van Albada dinobatkan sebagai Professor of Astronomy pada 1951 sekaligus menjadi yang pertama di Indonesia. Setelah pelantikan tersebut, NISV menyerahkan kepemilikan Observatorium Bosscha kepada Universiteit van Indonesie di Bandung (kemudian berubah menjadi ITB pada 1959). Pada hari penting itulah Departemen Astronomi di ITB terbentuk.

Baca Juga: Paul Ho: Dulu Lubang Hitam Hanya Bisa Didengar dan Kini Bisa Dilihat

Dr. Bruno van Albada mengajar generasi astronom pertama di Bandung selama sembilan tahun. Pada 1958, Pik Sin Thé berhasil menjadi lulusan pertama dari Departemen Astronomi.

Pik Sin Thé melanjutkan pendidikan Ph.D di Case Western Reserve University di Cleveland dengan beasiswa dari pemerintahan Amerika. Di sana, The dibimbing secara langsung oleh Prof. Victor Blanco.

“Pada periode itu, masyarakat Belanda harus meninggalkan Indonesia akibat permasalahan politik yang terjadi. Terjadilah kekosongan pemimpin di Observatorium Bosscha.” ungkap van den Heuvel.

Baca Juga: Satu Abad Observatorium Bosscha

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: 100 Tahun Observatorium Bosschabidang astronomigenerasi astronom pertamaITBObservatorium Bosschapendidikan astronomi di IndonesiaProf. Bambang HidayatTechnische Hoogeschool Bandung

Editor

Next Post
Suasana pameran multimedia aneka alat ukur antik koleksi Observatorium Bosscha. Foto itb.ac.id.

Koleksi Alat Ukur Antik di Observatorium Bosscha

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi hujan lebat. Foto Bru-nO/pixabay.com.BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis, Waspada Cuaca Ekstrem
    In News
    Selasa, 3 Maret 2026
  • Gempa bumi M 6,4 mengguncang Aceh dan Sumatra Utara, 3 Maret 2026. Foto BMKG.Aceh dan Sumut Diguncang Gempa Bumi Magnitudo 6,4
    In Bencana
    Selasa, 3 Maret 2026
  • Gerhana bulan total hari ini Kamis, 8 November 2022, dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia. Foto tangkap layar Twitter BMKG.Tanggal 3 Maret 2026, Puncak Gerhana Bulan Total Mulai Pukul 18.03 WIB
    In News
    Selasa, 3 Maret 2026
  • Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB UNiversity, Prof. Etty Riani. Foto CRPG Indonesia/youtube.Etty Riani, Yang Berpotensi Masuk Dalam Darah adalah Nanoplastik, Bukan Mikroplastik
    In Sosok
    Senin, 2 Maret 2026
  • Ilustrasi parfum dari kemenyan. Foto Dok. BRIN.Memaksimalkan Potensi Kemenyan, Kapur Barus dan Cengkeh Menjadi Parfum
    In IPTEK
    Senin, 2 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media