Minggu, 8 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Sejarah Pendidikan Astronomi di Indonesia, Bambang Hidayat Pimpin 31 Tahun

Kehadiran Observatorium Bosscha turut andil membidani kelahiran pendidikan astronomi di Indonesia.

Minggu, 5 Februari 2023
A A
Prof. Bambang Hidayat (jas hitam) mendapat penghargaan dalam acara Peringatan 100 Tahun Observatorium Bosscha. (Adi Permana/Biro Komunikasi dan Humas ITB)

Prof. Bambang Hidayat (jas hitam) mendapat penghargaan dalam acara Peringatan 100 Tahun Observatorium Bosscha. (Adi Permana/Biro Komunikasi dan Humas ITB)

Share on FacebookShare on Twitter

Akhirnya Thé diminta kembali ke Indonesia untuk mengambil alih kepemimpinan meskipun harus sambil menyelesaikan penelitiannya di Indonesia pada 1959. Ia merampungkan studinya hingga menjadi doktor di bidang astronomi pertama Indonesia di Cleveland pada 1960.

Setelah menuntaskan pendidikannya, Thé menjadi direktur di observatorium ini. Ia memegang tanggung jawab atas pendidikan astronomi di Indonesia yang telah digagas Dr. Bruno van Albada. Banyak mahasiswa yang lulus dan melanjutkan pendidikan magister dan Ph.D di luar negeri, seperti ke Paris dan Case Western Reserve di Cleveland.

Baca Juga: Sudah 883 Gempa Guncang Kota Jayapura Papua dari Sejak Awal Tahun 2023

“Akhirnya, mahasiswa Ph.D lainnya berhasil lahir pada 1968, yakni Bambang Hidayat,” jelas van den Heuvel.

Pada tahun yang sama, Thé mendapatkan undangan untuk menjadi dosen astronomi di Amsterdam. Kepemimpinan observatorium diserahkan kepada Bambang Hidayat. Waktu kepemimpinannya lama selama 31 tahun hingga 1999.

“Selama menjabat, penelitian di observatorium berkembang dari stellar physics ke extragalactic astronomy hingga ke cosmology dan stellar system physics,” jelasnya.

Baca Juga: Arif Nur Muhammad, Temukan Vaksin Covid-19 Halal Tanpa Penolakan Tubuh

Bambang Hidayat membawa observatorium ini hingga ke kancah internasional dengan melakukan banyak konferensi di Bali dan Bandung. Ia juga melahirkan banyak mahasiswa yang melanjutkan studi Ph.D hingga Amsterdam. Salah satu mahasiswa terbaik dan tercepat dalam menyelesaikan studi Ph.D, yaitu Winardi Sutyanto. Ia berhasilkan menyelesaikan studinya pada 1975.

“Semoga observatorium ini semakin sukses dan menciptakan banyak penemuan penting di masa mendatang,” kata van den Heuvel.

Direktur East Asian Observatory, Prof. Paul Ho dalam sambutannya yang berjudul “Bagaimana Indonesia dapat Lebih Terlibat di Jaringan Astronomi” menyampaikan betapa penting pengembangan ilmu astronomi. Terlepas dari teknologi, sumber daya manusia adalah faktor yang sangat penting dari pengembangan ilmu astronomi. Memastikan para astronomer berbakat untuk mau tinggal dan bekerja di Indonesia maupun Asia harus menjadi prioritas.

Baca Juga: Mengenal Komet ZTF yang Melintas secara Hiperbola Sekali Seumur Hidup

“Retain the academicians to stay in Indonesia and Asia to build our future together. Sebab astronomi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mendorong sains dan pertumbuhan,” kata Ho.

Dan bagi Rektor ITB, Prof. Reini Wirahadikusumah, pemikiran K. A. R. Bosscha memilih lokasi Observatorium Bosscha tidak jauh dari Technische Hoogeschool Bandung (cikal bakal ITB) untuk menjamin penyiapan sumber daya manusia ke depan.

“Sungguhlah visionaris,” tutur Reini. [WLC02]

Sumber: ITB

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: 100 Tahun Observatorium Bosschabidang astronomigenerasi astronom pertamaITBObservatorium Bosschapendidikan astronomi di IndonesiaProf. Bambang HidayatTechnische Hoogeschool Bandung

Editor

Next Post
Suasana pameran multimedia aneka alat ukur antik koleksi Observatorium Bosscha. Foto itb.ac.id.

Koleksi Alat Ukur Antik di Observatorium Bosscha

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi hujan lebat. Foto Bru-nO/pixabay.com.BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis, Waspada Cuaca Ekstrem
    In News
    Selasa, 3 Maret 2026
  • Gempa bumi M 6,4 mengguncang Aceh dan Sumatra Utara, 3 Maret 2026. Foto BMKG.Aceh dan Sumut Diguncang Gempa Bumi Magnitudo 6,4
    In Bencana
    Selasa, 3 Maret 2026
  • Gerhana bulan total hari ini Kamis, 8 November 2022, dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia. Foto tangkap layar Twitter BMKG.Tanggal 3 Maret 2026, Puncak Gerhana Bulan Total Mulai Pukul 18.03 WIB
    In News
    Selasa, 3 Maret 2026
  • Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB UNiversity, Prof. Etty Riani. Foto CRPG Indonesia/youtube.Etty Riani, Yang Berpotensi Masuk Dalam Darah adalah Nanoplastik, Bukan Mikroplastik
    In Sosok
    Senin, 2 Maret 2026
  • Ilustrasi parfum dari kemenyan. Foto Dok. BRIN.Memaksimalkan Potensi Kemenyan, Kapur Barus dan Cengkeh Menjadi Parfum
    In IPTEK
    Senin, 2 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media