Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Siti Rokhmawati, Bumi Sudah Sangat Tua Perlu Gerakan Jaga Bumi

Seharusnya, peringatan Hari Bumi tak lagi sekadar selebrasi. Tapi gerakan nyata untuk mencegah kerusakan Bumi.

Senin, 22 April 2024
A A
Pakar Lingkungan Unair, Siti Rokhmawati Susanto. Foto Dok. Fisip Unair.

Pakar Lingkungan Unair, Siti Rokhmawati Susanto. Foto Dok. Fisip Unair.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Peringatan Hari Bumi Internasional tiap 22 April telah diselenggarakan kurang lebih selama 44 tahun sejak 22 April 1970, di Amerika Serikat. Hari Bumi tidak sekadar selebrasi, melainkan sebuah momentum untuk melakukan refleksi atas keserakahan manusia dalam eksploitasi bumi.

“Sebab sebagai pusat segala kepentingan di muka bumi, manusia memiliki peran penting untuk menjaga kelestarian bumi,” kata Pakar Lingkungan dan Eropa Universitas Airlangga (Unair), Siti Rokhmawati Susanto. Latar belakang pendidikannya di bidang Environmental Studies di dua universitas sebelumnya, membuat dia memiliki pengetahuan mengenai bumi dan lingkungan.

Irma berpandangan, bahwa Hari Bumi menjadi peringatan yang sangat penting. Hari Bumi merupakan momen yang tepat bagi umat manusia untuk merenungkan perbuatannya, termasuk keserakahannya terhadap bumi yang sudah tua ini.

Baca Juga: Status Gunung Ruang Turun Menjadi Siaga, Tetap Waspada

“Kita hanya punya satu bumi yang sudah berumur sangat tua. Bukan lagi saatnya Hari Bumi sebatas peringatan, simbolisasi atau selebrasi semata. Perlu ada gerakan yang lebih substantif sebagai upaya yang lebih serius untuk menjaga bumi. Termasuk menjaga bumi dari kerusakan, keserakahan manusia dan antroposentris yang membuat kepentingan manusia berada di atas segalanya,” tegas Siti yang juga Ketua Departemen Prodi Hubungan Internasional Fisip Unair.

Selain itu, dia juga mengimbau bahwa menjaga keseimbangan antara kehidupan manusia dan alam harus menjadi bagian dari kesadaran manusia. Alih-alih berfokus pada eksploitasi, manusia dapat menerapkan eksplorasi berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan bumi. Sebab manusia saat ini terjebak dalam pola pikir untuk mendapatkan kepuasaan maksimal dari kekayaan bumi, tanpa peduli dampak buruknya.

Baca Juga: Erupsi Gunung Ruang Masa ke Masa dari Normal Jadi Awas

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fisip UnairHari Bumi Seduniakerusakan bumimenjaga bumiSiti Rokhmawati Susanto

Editor

Next Post
Banjir di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, 4 April 2024. Foto Dok. UPTD Pusdalops Papua Barat.

Hari Bumi 2024, Walhi Papua Serukan Bahaya Kerusakan Alam Papua

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media