Wanaloka.com – Ramadan menjadi momen yang penuh makna bagi umat Muslim, termasuk bagi pasien yang tengah menjalani pengobatan kanker. Keinginan untuk tetap berpuasa kerap hadir sebagai bagian dari penguatan spiritual di tengah proses terapi.
Namun kondisi medis dan daya tahan tubuh selama pengobatan sering kali menuntut pertimbangan yang matang. Terapi seperti kemoterapi dan radioterapi dapat memengaruhi asupan nutrisi, hidrasi, serta stamina harian. Keputusan berpuasa perlu didasarkan pada evaluasi klinis yang menyeluruh.
Ia menuturkan bahwa tidak semua pasien otomatis dilarang menjalankan puasa Ramadan. Penilaian medis perlu mempertimbangkan jenis kanker, stadium penyakit, status gizi, serta terapi yang sedang dijalani. Penyakit penyerta seperti diabetes, gangguan ginjal, atau masalah jantung turut menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan.
“Secara umum, boleh atau tidaknya sangat individual dan bergantung pada kondisi klinis masing-masing pasien,” ujar Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), R. Wahyu Kartiko Tomo menjelaskan keputusan berpuasa pada pasien kanker bersifat sangat individual, Senin, 23 Februari 2026.
Baca juga: Refleksi Bencana Ekologis Sumatra: Mitigasi Bencana Berbasis Spiritual, Pengetahuan Lokal, dan Sains
Prinsip utama dalam menentukan kelayakan berpuasa adalah memastikan tidak ada gangguan terhadap efektivitas terapi. Bila puasa berpotensi memperburuk kondisi atau menghambat proses pengobatan, maka sebaiknya ditunda.
Keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan medis. Evaluasi menyeluruh sebelum Ramadan sangat dianjurkan agar pasien memahami risiko yang mungkin timbul.
“Prinsipnya, jika puasa berpotensi mengganggu terapi atau memperburuk kondisi klinis, maka sebaiknya ditunda,” jelas dia.
Kemoterapi kerap menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, penurunan nafsu makan, hingga kelelahan berat. Risiko dehidrasi dan gangguan elektrolit juga dapat meningkat selama masa terapi.
Dalam kondisi asupan cairan dan kalori yang terbatas, puasa bisa memperberat gejala tersebut. Pasien dengan status gizi kurang perlu mendapat perhatian khusus karena rentan mengalami penurunan berat badan lebih cepat.
“Puasa dapat memperberat kondisi terutama bila asupan cairan kurang dan intake kalori tidak mencukupi,” tutur dia.
Radioterapi pun memiliki tantangan tersendiri tergantung lokasi penyinaran. Pada area kepala dan leher, pasien bisa mengalami nyeri menelan dan kesulitan makan. Penyinaran di area perut dapat memicu mual atau diare, sementara paparan di area luas sering menimbulkan fatigue berat.
Dalam situasi seperti itu, pembatasan asupan selama puasa berisiko meningkatkan dehidrasi serta penurunan berat badan signifikan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kelanjutan terapi apabila tidak ditangani dengan tepat.







Discussion about this post