“Dalam kondisi seperti ini, puasa bisa meningkatkan risiko dehidrasi dan penurunan berat badan yang signifikan,” ujar dia.
Baca juga: Tantangan Energi Surya Wilayah Kepulauan, Kesenjangan Kualitas hingga Kerentanan Akses
Pasien kanker stadium lanjut
Di sisi lain, ada kelompok pasien yang secara umum tidak dianjurkan berpuasa. Pasien dengan kanker stadium lanjut disertai kondisi umum yang buruk, cachexia, atau malnutrisi berat memerlukan perhatian khusus.
Pasien yang menjalani kemoterapi intensif pada siklus awal atau mengalami komplikasi seperti infeksi berat dan gangguan ginjal juga perlu mempertimbangkan penundaan puasa. Keputusan tersebut bukan semata didasarkan pada stadium penyakit, melainkan pada daya tahan tubuh dan status klinis secara keseluruhan.
“Bukan semata karena stadium, tetapi karena status klinis dan daya tahan tubuhnya,” tutur Tomo.
Risiko yang dapat muncul bila pasien memaksakan diri berpuasa antara lain dehidrasi, hipoglikemia, gangguan elektrolit, hingga penurunan berat badan cepat. Fatigue berat dan perburukan fungsi ginjal juga dapat terjadi pada kondisi tertentu.
Dalam beberapa kasus, gangguan tersebut dapat menyebabkan penundaan siklus terapi. Penundaan pengobatan berpotensi memengaruhi efektivitas penanganan kanker secara keseluruhan.
“Pada beberapa kasus, ini bisa berdampak pada efektivitas pengobatan,” kata dia.
Meski demikian, pasien dengan kondisi stabil tetap memiliki peluang untuk berpuasa dengan pengawasan medis. Tomo menyarankan evaluasi klinis sebelum Ramadan dan konsultasi untuk penyesuaian jadwal obat.
Asupan cairan minimal 1,5–2 liter antara berbuka hingga sahur dianjurkan bila kondisi memungkinkan, disertai makanan tinggi kalori dan protein. Pasien juga diperbolehkan menjalani puasa secara selang-seling sesuai toleransi tubuh dan segera membatalkan puasa bila muncul keluhan berat.
“Puasa adalah ibadah yang sangat mulia, tetapi menjaga kesehatan dan keselamatan jiwa juga bagian dari ibadah,” kata dia. [WLC02]
Sumber: UGM







Discussion about this post