Jumat, 17 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tantangan Teknologi Ekstraksi Logam Tanah Jarang di Indonesia

Hingga kini, Indonesia belum memiliki izin usaha pertambangan khusus untuk logam tanah jarang.

Rabu, 18 Februari 2026
A A
Ilustrasi logam tanah jarang. Foto ctis.id.

Ilustrasi logam tanah jarang. Foto ctis.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Namun tantangan terbesar bukan hanya pada penemuan sumber daya, melainkan pada penguasaan teknologi ekstraksi. Mengingat logam tanah jarang kerap berasosiasi dengan unsur radioaktif dan memiliki karakter mineral yang berbeda di setiap lokasi.

“Jadi membutuhkan metode pengolahan yang sangat spesifik,” imbuh dia.

Selain ditemukan di wilayah Bangka Belitung, kini wilayah di Kalimantan dan Sulawesi menunjukkan prospek baru dengan karakter geologi yang beragam. Meski belum diteliti lebih lanjut tingkat keekonomian. Menurut Lucas, eksplorasi sumber daya mineral merupakan proses panjang dan kolaboratif.

“Ke depan, mudah-mudahan Indonesia benar-benar mampu mengolah logam tanah jarang,” harap dia.

Riset logam tanah jarang masuk raperda

Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM) Kawasan Sains dan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) usai melakukan riset, khususnya terkait pengolahan logam tanah jarang dari sisa hasil ikutan mineral pasir timah. Hasil pengolahannya berupa monasit dan senotim yang mengandung unsur Lanthanum (La), Cerium (Ce), Neodymium (Nd), Praseodymium (Pr) dan Ytrium (Y) menjadi senyawa oksida LTJ tunggal dengan tingkat kemurnian hingga 98 persen.

Baca juga: Banjir Rendam 34 Desa di Grobogan, Beberapa Tanggul Jebol

BRIN bersama Badan Industri Mineral (BIM) dan Perusahaan Mineral Nasional (PT. Perminas) berkomitmen untuk mempercepat hilirisasi mineral logam tanah jarang yang kini menjadi aset nasional.

Kepala PRTM BRIN Fajar Nurjaman menjelaskan, pihaknya berupaya melakukan penguasaan teknologi, tidak hanya hingga skala pilot plant, namun hingga skala industri atau komersil. Ia juga menyampaikan pentingnya melakukan penguasaan teknologi pengolahan mineral ikutan timah lainnya, selain monasit.

“Seperti ilmenit, zircon, dan silika untuk diolah menjadi produk bernilai tinggi,” kata dia saat kunjungan Jajaran Panitia Khusus (Pansus) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke PRTM Kawasan Sains dan Teknologi BRIN di Tanjung Bintang Lampung, Jumat, 13 Februari 2026.

Sementara Ketua Pansus Pembahasan  Rancangan Perda tentang Riset dan Inovasi Daerah Kepulauan Bangka Belitung, Pahlevi Syahrun memandang riset dan inovasi penting untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan pemanfaatan sumber daya alam yang ada di Bangka Belitung. Khususnya logam tanah jarang yang memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai tinggi.

Baca juga: Sungai Cisadane Tercemar Pestisida, Peneliti BRIN Bagikan Strategi Mitigasi Darurat

“Juga perlu menyadarkan pelaku usaha dan masyarakat di Bangka Belitung akan pentingnya menjaga sumber daya mineral tersebut,” kata Pahlevi.

DPRD Kepulauan Bangka Belitung tengah berinisiatif untuk menginisiasi Raperda Riset dan Inovasi Daerah. Informasi berbagai riset yang telah dilakukan PRTM BRIN terkait mineral logam tanah jarang dan mineral lainnya akan dintegrasikan ke dalam raperda. Mengingat logam tanah jarang merupakan mineral stategis, tetapi pengolahan dan pemanfaatannya belum optimal.

“Selama ini, mineral ikutan pasir timah seperti logam tanah jarang, zircon dan ilmenit di Bangka Belitung cenderung “hilang/terbuang, karena belum dimanfaatkan,” kata Erpan mewakili Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bangka Belitung.

Pemerintah daerah harus ikut terlibat dalam mengamankan aset nasional tersebut melalui pengawasan secara ketat terhadap setiap industri pengolahan pasir timah di Bangka Belitung. Agenda terakhir rombongan Pansus DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berkesempatan meninjau langsung fasililtas laboratorium pengolahan mineral terpadu yang berada di KST Iskandar Zulkarnain Lampung. [WLC02]

Sumber: UGM, BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Badan Industri MineralDepartemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGMKepulauan Bangka Belitunglogam tanah jarangmineral kritisPasir TimahPRTM BRIN

Editor

Next Post
Gerhana matahari cincin pada 14 Oktober 2023 di Albuquerque, New Mexico. Foto Alan Howell/earthsky.org.

Tak Ada Fase Aman Melihat Gerhana Matahari Cincin Tanpa Penapis

Discussion about this post

TERKINI

  • Tanah longsor di Desa Petir, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Mei 2026. Foto BPBDKabupaten Bogor.Pulau Jawa Hadapi Tekanan Ekologis, Negara Harus Hentikan Perampasan Ruang Hidup
    In News
    Kamis, 16 Juli 2026
  • Ilustrasi bocah minum air karena kepanasan. Foto Pezibear/Pixabay.com.Kesadaran Masyarakat atas Heatstroke dan Heat Stress Rendah, Ini Alasannya
    In IPTEK
    Jumat, 10 Juli 2026
  • Ilustrasi orang mengalami heatstroke. Foto Cloud Purple/Pixabay.com.Alarm Dua Kematian Bulan Juni, Heatstroke dan Heat Stress Belum Jadi Perhatian 
    In IPTEK
    Kamis, 9 Juli 2026
  • Ilustrasi tanaman sorgum. Foto RJA1988/Pixabay.com.Kerentanan Pangan Akibat El Nino dan Kemarau Panjang 2026: Kekeringan hingga Ancaman Hama
    In IPTEK
    Senin, 29 Juni 2026
  • Penambangan nikel. Foto djkn.kemenkeu.go.id.Walhi: Kemiskinan Indonesia Naik Akibat Ekonomi Dibangun di Atas Kerusakan Lingkungan
    In News
    Minggu, 28 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media