Minggu, 10 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Teknologi Hidrogen Menuju Ekosistem Baja Rendah Karbon di Indonesia

Industri material, seperti semen dan baja menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia.

Jumat, 8 Mei 2026
A A
Grand Final Net Zero Steel Pathways Cohort 2026 bertema “Bridging the Landscape: Readiness & Viability in Indonesia’s Net Zero Steel Ecosystem”, 7 Mei 2026. Foto ITB.

Grand Final Net Zero Steel Pathways Cohort 2026 bertema “Bridging the Landscape: Readiness & Viability in Indonesia’s Net Zero Steel Ecosystem”, 7 Mei 2026. Foto ITB.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Sejak disepakati Paris Agreement pada 2015, berbagai negara berkomitmen menahan kenaikan suhu global di bawah 1,5°C dibandingkan era praindustri. Kenyataannya, dalam beberapa tahun terakhir, suhu global tercatat telah melampaui ambang tersebut.

Dosen Teknik Metalurgi ITB, Prof. Zulfiadi Zulhan menyatakan industri material, seperti semen dan baja menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Industri baja sendiri menghasilkan rata-rata sekitar 2,4 ton CO₂ untuk setiap ton crude steel yang diproduksi. Di Indonesia, sektor industri berbasis mineral dan logam, termasuk nikel dan baja menjadi bagian penting dalam agenda dekarbonisasi nasional.

“Perkembangan industri baja sejak Revolusi Industri menunjukkan peningkatan kebutuhan untuk kendaraan, kapal, infrastruktur, dan perumahan. Peralihan dari penggunaan arang kayu ke batu bara memang meningkatkan kapasitas produksi, tetapi sekaligus menghilangkan unsur netral karbon dalam sistem produksi,” papar Zulfiadi saat memaparkan materi bertajuk “Decarbonization in the Steel Industry: Challenges and Pathways” dalam Grand Final Net Zero Steel Pathways Cohort 2026 bertema “Bridging the Landscape: Readiness & Viability in Indonesia’s Net Zero Steel Ecosystem” yang digelar Center for Policy and Public Management (CPPM) Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Kamis, 7 Mei 2026.

Ia menjelaskan teknologi blast furnace diperkirakan masih akan digunakan hingga 2050 melalui berbagai peningkatan efisiensi dan pengurangan emisi, mengingat tingkat kematangan teknologinya sudah tinggi. Namun baja hijau (green steel) atau baja rendah karbon saat ini masih memiliki biaya produksi yang lebih tinggi dibandingkan metode konvensional berbasis basic oxygen furnace (BOF). Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam penerapan teknologi rendah karbon secara luas.

Dalam diskusi juga disampaikan, bahwa jalur transisi yang dinilai paling realistis adalah peralihan bertahap dari natural gas-based DRI + EAF (Electric Arc Furnace) menuju hydrogen-based DRI + EAF. Pendekatan ini memungkinkan proses dekarbonisasi dilakukan secara bertahap sambil mempertimbangkan kesiapan teknologi dan efisiensi biaya.

Secara global, industri baja diproyeksikan terus bertransformasi dari penggunaan batu bara menuju gas alam, biomassa, biofuel, hingga hidrogen untuk mencapai visi zero carbon steelmaking. Jepang, misalnya, mengembangkan program COURSE50 (CO₂ Ultimate Reduction System for Cool Earth 50) untuk menurunkan emisi pada sistem blast furnace. Sementara Eropa mengembangkan teknologi EASYMelt, dan India melalui Tata Steel terus mendorong inovasi baja rendah karbon.

Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan green iron and steelmaking melalui teknologi shaft furnace berbasis hidrogen. Bahkan teknologi hidrogen telah dimiliki Krakatau Steel sejak dekade 1980-an, sehingga membuka peluang percepatan transformasi industri baja nasional menuju ekonomi rendah karbon.

Namun, implementasi teknologi berbasis hidrogen penuh (full hydrogen-based steelmaking) saat ini masih menghadapi tantangan keekonomian.

“Salah satu tantangan utama terletak pada biaya energi, terutama harga gas alam yang relatif tinggi,” ungkap dia.

Untuk pabrik baja berkapasitas 1 juta ton per tahun, kebutuhan daya diperkirakan mencapai sekitar 450 MW dengan lebih dari 360 MW digunakan untuk proses elektrolisis. Hal itu menunjukkan produksi hidrogen menjadi komponen energi terbesar dalam sistem industri baja rendah karbon.

Salah satu inovasi yang turut dibahas adalah teknologi HyREX dari POSCO, Korea Selatan yang menggunakan hidrogen sebagai reduktor utama dalam pengolahan bijih besi sehingga mampu menekan emisi karbon secara signifikan dibandingkan blast furnace konvensional.

Dalam diskusi tersebut juga disoroti pentingnya dukungan sumber energi rendah emisi. Negara-negara dengan pasokan listrik berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dinilai memiliki keunggulan dalam mendukung pengembangan industri baja hijau. Sebaliknya, penggunaan listrik berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) masih meningkatkan jejak karbon sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia dalam mencapai target net zero steel.

Selain aspek teknologi dan biaya, ketergantungan terhadap teknologi asing juga menjadi perhatian. Berbeda dengan Korea Selatan, Jepang, China, dan negara-negara Eropa yang telah mengembangkan ekosistem teknologi baja rendah karbon secara mandiri, keterbatasan pengembangan teknologi domestik dinilai berpotensi memengaruhi daya saing industri nasional dalam jangka panjang.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Baja Rendah KarbonCPPM SBM ITBIndustri Baja HijauTeknik Metalurgi ITBTeknologi Shaft Furnace

Editor

Next Post
Official trailer film Pesta Babi. Foto Indonesia Baru/YouTube.

SIEJ: Larangan Nobar Pesta Babi Sensor Pengungkapan Peminggiran Hak Masyarakat Adat

Discussion about this post

TERKINI

  • Suasana salah satu tempat pembuangan sampah sementara di Kota Yogyakarta. Foto Dok. Forpi Kota YogyakartaKritik Walhi Yogyakarta, PSEL Menyeret Daerah Tergantung pada Pasokan Sampah
    In Lingkungan
    Sabtu, 9 Mei 2026
  • Official trailer film Pesta Babi. Foto Indonesia Baru/YouTube.SIEJ: Larangan Nobar Pesta Babi Sensor Pengungkapan Peminggiran Hak Masyarakat Adat
    In News
    Sabtu, 9 Mei 2026
  • Grand Final Net Zero Steel Pathways Cohort 2026 bertema “Bridging the Landscape: Readiness & Viability in Indonesia’s Net Zero Steel Ecosystem”, 7 Mei 2026. Foto ITB.Teknologi Hidrogen Menuju Ekosistem Baja Rendah Karbon di Indonesia
    In IPTEK
    Jumat, 8 Mei 2026
  • Industri wisata On The Rock di bangun di atas karst Gunungsewu, Gunungkidul, Selasa, 6 Mei 2026. Foto Pito Agustin/wanaloka.com.Walhi Yogya Ingatkan, Sanksi Denda Industri Wisata di KBAK Gunungsewu Tak Membuat Jera
    In News
    Kamis, 7 Mei 2026
  • Ilustrasi konflik manusia dengan satwa liar. Foto yu_lys/Pixabay.com.El Nino Picu Karhutla dan Konflik Manusia dengan Satwa
    In Lingkungan
    Rabu, 6 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media