Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tim Ekspedisi Riset Bawa Pulang Rekaman Data Misteri Kegempaan di Samudra Hindia

Data-data yang diperoleh dari riset ini akan digunakan untuk mempelajari interaksi antar-lempeng, serta menganalisa potensi bahaya geologi.

Jumat, 29 Agustus 2025
A A
Tim ekspedisi riset Samudera Hindia. Foto Dok. BRIN.

Tim ekspedisi riset Samudera Hindia. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Misteri bawah laut terutama terkait kegempaan, hingga kini belum banyak diungkap. Sejumlah periset Indonesia dan China berkolaborasi melakukan ekspedisi merekam data seismik dan elektromagnetik di Samudra Hindia dengan menggunakan kapal riset RV Jia Geng atau Tan Kah Kee.

Setelah 16 hari berlayar, tim ekspedisi Marine Scientific Research Collaboration on the Collision Process between The Java and Australia and It’s Impact on Geohazard kembali berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa, 26 Agustus 2025.

Ekspedisi riset ilmiah kelautan ini bertujuan mempelajari struktur tektonik dan aktivitas kegempaan akibat tumbukan Lempeng Australia dan Jawa. Tim membawa pulang data yang akan menjadi bahan kajian tentang dinamika geologi di Samudra Hindia.

Baca juga: Tahun 2029 Target Populasi Kedua Badak Jawa Hasil Translokasi dari Ujung Kulon ke JRSCA

Selama melakukan penelitian, tim ekspedisi riset berhasil memasang dan mengambil kembali (recovery) 17 unit Ocean Bottom Seismometer (OBS) dan 24 unit Ocean Bottom Electromagnetic (OBEM) dari Samudra Hindia, Jumat, 22 Agustus 2025.

OBS merupakan alat perekam data seismik pasif maupun aktif dan OBEM adalah alat perekam medan listrik dan medan magnet pasif maupun aktif. Kedua instrumen penting untuk merekam getaran seismik serta medan elektromagnetik dari bawah laut. Data-data yang diperoleh dari riset ini akan digunakan untuk mempelajari interaksi antar-lempeng, serta menganalisa potensi bahaya geologi.

Recovery OBS dan OBEM dilakukan pada 19–22 Agustus 2025 dari arah selatan ke utara di Samudra Hindia di Selatan Nusa Tenggara. Ketua tim periset Indonesia, Dwi Haryanto mengatakan 100 persen OBS dan OBEM yang dipasang berhasil diambil kembali.

Baca juga: UU Cipta Kerja yang Melegitimasi Perampasan Ruang Hidup Digugat di MK

“Semua instrumen kembali dengan selamat dan data yang diperoleh akan dianalisis lebih lanjut,” kata dia.

Proses pemasangan dan pengambilan kedua jenis instrument ini dilakukan secara bertahap (comment release). Instrumen-instrumen tersebut ditenggelamkan ke dalam laut dengan menggunakan pemberat satu per satu di setiap stasiun atau titik yang telah ditentukan dengan menggunakan kapal.

Setelah itu, pemberat di dasar laut dilepaskan, dan kapal begerak kembali ke tiap titik tersebut sambil menunggu instrument naik ke permukaan.

Baca juga: Riset Konservasi dan Rehabilitasi Hasilkan Temuan Manfaat Mangrove dari Akar hingga Buah

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRINGempa bumiSamudera Hindiatumbukan Lempeng Australia dan Jawa

Editor

Next Post
Ilustrasi foodtray untuk MBG. Foto Dok. BGN.

Kata Pakar Soal MBG, Keracunan Berulang hingga Dugaan Food Tray Mengandung Minyak Babi

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media