Sabtu, 5 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tim Konservasi Stabat Ajari Cara Mengusir Harimau dengan Petasan

Ada cara untuk mengusir satwa liar yang datang ke lingkungan kita, yaitu menggunakan petasan atau jeduman. Cara ini lebih aman dan praktis tanpa melukai satwa liar yang dilindungi itu.

Jumat, 5 Agustus 2022
A A
Pengusiran satwa liar dengan obor. Foto menlhk.go.id.

Pengusiran satwa liar dengan obor. Foto menlhk.go.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Sejumlah laporan kemunculan kembali harimau sumatera di beberapa area perkebunan di Kabupaten Langkat diterima Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara. Berdasarkan catatan yang disusun Polisi Hutan BBKSDA Sumut, Esra Barus, beberapa orang berjumpa langsung dengan hewan langka yang dilindungi itu.

Laporan pertama dari pihak manajemen perkebunan PT Prima melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat pada 29 Juli 2022. Harimau tersebut diduga memangsa seekor anak lembu, tepatnya di area perkebunan di Desa Sei Serdang, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat berdasarkan temuan sisa bangkai oleh tim konservasi yang terjun ke sana. Selain jejak-jejak kaki harimau, beberapa orang mengaku melihat harimau itu di sekitar lokasi.

Sebenarnya, sebuah kandang jebak sudah ditempatkan di area tersebut sejak dua bulan lalu. Lantaran tak ada harimau yang masuk ke sana, kandang jebak itu kemudian dibongkar.

Baca Juga: Atasi Konflik Harimau vs Manusia Bukan dengan Jerat, Tapi Kandang Jebak

Laporan kedua diterima dari karyawan perkebunan PT. Raya Padang Langkat (Rapala) bagian penderesan, Ayub, pada 2 Agustus 2022. Ayub menuturkan telah bertatap muka langsung dengan harimau itu dalam jarak satu meter saat menderes. Lantaran terkejut dan ketakutan, Ayub lari dan jatuh ke dalam tebing sedalam empat meter. Kakinya terkilir sehingga harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Pertamina, Pangkalan Brandan. Lokasi harimau yang dilihatnya di Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, sekitar 700 meter dari kawasan Taman Nasional (TN) Gunung Leuser.

Hasil pengecekan di kedua lokasi tersebut, tim konservasi tidak berhasil menemukan harimau yang dimaksud. Namun berdasarkan jejak yang dilacak, jumlah harimau yang sempat muncul itu berjumlah satu ekor.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BBKSDA Sumutharimau sumaterajedumankonflik harimau dengan wargapetasanSatwa liar

Editor

Next Post
Fenomena likuifaksi tanah di Seram Bagian Barat, Maluku. Sumber foto BNPB.

Likuifaksi Tanah di Seram Bagian Barat Maluku Warga Masih Mengungsi

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media