Senin, 14 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan

Pengolahan dapat dimulai dari pemilahan sampah di sumber, composting untuk sampah organik, hingga proses termal bagi material anorganik.

Kamis, 12 Maret 2026
A A
Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.

Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.

Share on FacebookShare on Twitter

“Masalah sampah ini menjadi berlarut-larut, ya karena perilaku masyarakat yang belum mau berubah,” tegas dia.

Ia menambahkan penerapan teknologi pengolahan sampah sering terhambat karena tidak didukung rekayasa sosial memadai. Tanpa perubahan perilaku dan sistem pengelolaan yang tepat, teknologi yang tersedia sulit memberikan dampak nyata.

Baca juga: TPA Bantargebang Longsor Lagi, Pemerintah Harus Reformasi Tata Kelola Sampah

Hal ini menjelaskan mengapa berbagai teknologi pengolahan sampah belum sepenuhnya berhasil diterapkan di banyak daerah. Integrasi antara teknologi dan rekayasa sosial menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah.

Wiratni menekankan dalam konteks pencegahan bencana serupa di masa depan, perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai ruang uji coba berbagai inovasi. Kampus dapat menjadi laboratorium hidup yang mengintegrasikan pengembangan teknologi dengan pendekatan sosial.

Hasil pengujian tersebut kemudian dapat menjadi dasar rekomendasi kebijakan bagi pemerintah. Pendekatan tersebut ia yakini memungkinkan solusi yang dihasilkan lebih kontekstual dan mudah diterapkan. Contohnya, UGM mengembangkan model pengelolaan sampah berbasis komunitas di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT).

Berlokasi di Berbah, Sleman, PIAT mengolah sekitar 8 hingga 10 ton sampah yang berasal dari kampus dan kawasan pemukiman sekitarnya. Sistem yang dibangun di fasilitas tersebut memadukan pengolahan sampah dengan pendekatan sosial untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Menurut Wiratni, pendekatan skala mikro seperti ini dapat mengurangi ketergantungan pada landfill besar.

Baca juga: Kemarau Panjang, Pendampingan Penyuluh Pertanian untuk Mitigasi Risiko

“Di PIAT kami membangun ekosistem pengolahan sampah yang terintegrasi dengan berbagai pemanfaatan produk hasil olahan,” kata dia.

Sebagai bagian pengembangan sistem tersebut, UGM membangun ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi di lingkungan kampus. Teknologi timbangan berbasis Internet of Things digunakan untuk memantau timbulan sampah sekaligus memotret perilaku warga kampus dalam menghasilkan sampah.

Produk hasil pengolahan seperti kompos, maggot, dan material bangunan kemudian dihubungkan dengan berbagai inovasi lain di lingkungan kampus sehingga memiliki nilai guna. Pendekatan ini menjadi wahana pembelajaran bagi masyarakat dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

“Secara keseluruhan yang dibangun UGM bukan sekadar teknologi pengolahan sampah, tetapi ekosistem ekonomi sirkuler yang menjadi showcase kontribusi seluruh bidang kepakaran di UGM,” imbuh dia. [WLC02]

Sumber: UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: PIAT UGMProgram Studi Teknik Kimia UGMSistem Pengelolaan SampahTPST Bantargebang

Editor

Next Post
Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.

Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media