Jumat, 11 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tren Dunia Beralih dari Energi Fosil ke EBT, Bagaimana dengan Indonesia?

Masyarakat dan perusahaan dunia disebut mulai bertransisi untuk memanfaatkan energi bersih dan ramah lingkungan. Lalu apa yang diupayakan Indonesia?

Jumat, 31 Maret 2023
A A
Ilustrasi energi terbarukan. Foto pixel2013 /pixabay.com

Ilustrasi energi terbarukan. Foto pixel2013 /pixabay.com

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tren saat ini masyarakat dunia sudah beralih pada pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Tren tersebut diperkirakan akan terus meningkat dan disambut beberapa perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi besar dunia seperti, Total, Equinor, Shell, BP, Petronas dan Eni.

“Selama ini bisnis mereka berbasis energi fosil (kemigasan). Anggaran 5-6 tahun terakhir, mereka melakukan transaksi yang besar untuk bergeser menjadi pemain-pemain energi baru terbarukan,” ungkap Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana dalam acara Energy Transition Mechanism di Universitas Indonesia Depok Jawa Barat, 29 Maret 2023.

Sejak 2015, penyediaan listrik berbasis EBT selalu lebih tinggi dibandingkan dengan penyediaan listrik dari sumber energi berbasis fosil. Dadan menengarai, transisi energi sudah terjadi di dunia. Bahkan semakin besar di negara-negara maju dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Fahmy Radhi: Pendidikan Vokasi Solusi Inovasi Teknologi Pengembangan EBT

Berdasarkan data yang dimiliki, persentase pembangkit yang berbasis energi fosil pada 2020 hanya 17 persen atau di bawah 20 persen. Sisanya adalah pembangkit berbasis EBT.

Bagaimana dengan Indonesia?

Dadan berharap Indonesia dapat memanfaatkan momentum tersebut. Mengingat Indonesia punya potensi besar dan pertumbuhan tinggi.

“Dikombinasikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Dadan.

Baca Juga: Melongok Desa Wisata Kopi Jungak Besutan Mahasiswa Unair

Indonesia memiliki target penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 32 persen dengan kemampuan sendiri dan 41 persen dengan dukungan internasional pada 2030. Kesungguhan dan keseriusan pemerintah dalam mempercepat pemanfaatan EBT ditempuh melalui transisi energi yang berkeadilan untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat. NZE artinya, emisi yang dihasilkan setara dengan emisi yang diserap.

Namun bukan berarti Indonesia tanpa emisi pada pada 2060. Tahun itu, emisi yang dikeluarkan sebesar 129 juta ton. Kemudian akan di-offset dengan sektor kehutanan dan pertanian secara total pada 2060, sehingga tetap karbon netral.

“Jadi emisinya nanti netral, hasilnya nol,” terang Dadan.

Baca Juga: Fungi Kaya Manfaat yang Belum Diungkap

Bagaimana Cara Mencapai NZE?

Pertama, memastikan adanya pergeseran dari sumber energi berbasis fosil ke energi berbasis listrik, seperti pengadaan kendaraan listrik baru atau hasil konversi listrik.

Kedua, memgembangkan EBT, mengganti pembangkit-pembangkit yang berbasis fosil secara bertahap ke pembangkit EBT dan untuk pembangkit yang baru menggunakan energi terbarukan.

Ketiga, moratorium dari PLTU. Tidak ada lagi penambahan PLTU yang baru dengan beberapa pengecualian dan melakukan upaya pensiun dini PLTU yang sekarang beroperasi.

Baca Juga: 5 Kali Erupsi Gunung Anak Krakatau Paling Aktif Meletus di 2023

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Emisi gas rumah kacaenergi baru terbarukangreen buildingKementerian ESDMnet zero emissionsperusahaan swastaRenewable Energy Certificate

Editor

Next Post
Montreal Protocol Award.Foto ppid.menlhk.go.id.

Cegah Impor Ilegal BPO, Indonesia Terima Montreal Protocol Award

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media