Senin, 11 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tyto alba, Predator Alami Penyeimbang Ekosistem yang Tak Dilindungi

Tyto alba adalah spesies burung hantu yang adaptif terhadap iklim tropis dan tidak agresif terhadap manusia, serta menjadi pilihan utama mengendalikan hama yang lebih ramah lingkungan.

Kamis, 10 April 2025
A A
Burung Serak Jawa atau Tyto alba. Foto Irfan - POPT Bantul/ Dok. BRIN.

Burung Serak Jawa atau Tyto alba. Foto Irfan - POPT Bantul/ Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Seekor burung Serak Jawa (Tyto alba) yang dikenal sebagai predator alami hama di ekosistem pertanian dievakuasi Tim Penyelamat Satwa Liar (Matawali) dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 14 – Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Sebelumnya, satwa itu ditemukan warga Dusun Bringin Lawang, Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur pada27 Maret 2025.

Burung tersebut pertama kali dilaporkan warga setempat, Waqifun yang menemukannya berada di halaman rumah. Demi keselamatan satwa dan menghindari kemungkinan interaksi negatif dengan manusia, ia segera menghubungi pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melalui layanan Call Center. Tim Matawali RKW 14 merespons dengan mengevakuasi ke kandang transit untuk memastikan kondisi satwa dalam keadaan baik.

Setelah melalui tahap observasi di kandang transit, petugas berencana untuk melepasliarkan Serak Jawa ini malam hari di habitat yang sesuai. Langkah ini bertujuan untuk memastikan satwa kembali ke lingkungan alaminya dengan risiko minimal sehingga dapat menjalankan perannya menjaga keseimbangan ekosistem.

Baca juga: Anggota Komisi IV DPR Usul Pusat Dapat 50 Persen Pendapatan TWA Pulau Weh

Meskipun tidak termasuk dalam daftar satwa dilindungi, Serak Jawa memiliki peran ekologis penting sebagai pengendali populasi tikus di lahan pertanian. Burung ini sering bersarang di bangunan terbuka atau area yang minim gangguan. Kadang-kadang tersesat ke pemukiman manusia.

Pemantauan populasi berkelanjutan

Peneliti Ahli Madya yang juga Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yudhistira Nugraha menjelaskan, pengendalian hama di lahan pertanian tak lagi hanya bergantung pada racun atau perburuan massal. Kini, pendekatan berbasis ekologi mulai diadopsi secara luas. Salah satunya melalui pemanfaatan predator alami, terutama dalam mengatasi serangan tikus yang menjadi momok di lahan pertanian.

Salah satu solusi alami yang terbukti efektif dan efisien adalah pemanfaatan burung hantu jenis Tyto alba sebagai predator alami utama serangan hama tikus. Dalam kondisi populasi hama yang normal, kehadiran burung hantu Tyto alba mampu menjaga keseimbangan populasi tikus tanpa perlu penggunaan bahan kimia atau racun berbahaya yang dapat mencemari lingkungan.

Baca juga: Paviliun CLT Nusantara, Rumah Ramah Lingkungan dari Kayu dan Energi Surya

Tyto alba merupakan spesies burung hantu yang dikenal adaptif terhadap iklim tropis dan tidak agresif terhadap manusia. Tyto alba menjadi pilihan utama dalam strategi pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.

Tyto alba memiliki kemampuan memangsa tikus dalam jumlah signifikan di alam terbuka. Seekor burung hantu dewasa mampu memakan beberapa ekor tikus per malam.

Namun, Yudhistira menekankan, predator alami tidak akan cukup efektif apabila terjadi ledakan populasi tikus (outbreak). Perlu strategi pengendalian yang bersifat komprehensif dengan menggabungkan metode mekanik, seperti gropyokan, pengemposan sarang, serta sistem trap barrier sebagai tindakan preventif.

Baca juga: Pelaku Wisata Minta Kuota Pendakian Gunung Rinjani Berdasar Daya Tampung

“Pendekatan terpadu ini menjadi kunci agar populasi tikus bisa ditekan dengan cepat sebelum stabil kembali dengan bantuan predator alami,” ujar dia, Kamis, 10 April 2025.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BBKSDA JatimBRINburung hantuburung Serak Jawapredator alamiTyto alba

Editor

Next Post
Sesar Citarik pemicu gempa Bogor M4,1, 10 April 2025. Foto @DaryonoBMKG/X.

Gempa Bogor M4,1 Dipicu Sesar Citarik yang Pernah Aktif Sejak 1968

Discussion about this post

TERKINI

  • Tim SAR gabungan membawa kantong jenazah korban erupsi gunung api Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, 10 Mei 2026. Foto Basarnas.Pendakian Gunung Dukono Ditutup April 2026, Tiga Pendaki Tewas Mei 2026
    In Traveling
    Minggu, 10 Mei 2026
  • Suasana salah satu tempat pembuangan sampah sementara di Kota Yogyakarta. Foto Dok. Forpi Kota YogyakartaKritik Walhi Yogyakarta, PSEL Menyeret Daerah Tergantung pada Pasokan Sampah
    In Lingkungan
    Sabtu, 9 Mei 2026
  • Official trailer film Pesta Babi. Foto Indonesia Baru/YouTube.SIEJ: Larangan Nobar Pesta Babi Sensor Pengungkapan Peminggiran Hak Masyarakat Adat
    In News
    Sabtu, 9 Mei 2026
  • Grand Final Net Zero Steel Pathways Cohort 2026 bertema “Bridging the Landscape: Readiness & Viability in Indonesia’s Net Zero Steel Ecosystem”, 7 Mei 2026. Foto ITB.Teknologi Hidrogen Menuju Ekosistem Baja Rendah Karbon di Indonesia
    In IPTEK
    Jumat, 8 Mei 2026
  • Industri wisata On The Rock di bangun di atas karst Gunungsewu, Gunungkidul, Selasa, 6 Mei 2026. Foto Pito Agustin/wanaloka.com.Walhi Yogya Ingatkan, Sanksi Denda Industri Wisata di KBAK Gunungsewu Tak Membuat Jera
    In News
    Kamis, 7 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media