Jumat, 26 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Walhi Aceh Ingatkan Proyek GAIA Memperpanjang Penggunaan Bahan Bakar Fosil

Sejak April 2025, Japan Bank for International Cooperation (JBIC) telah mempertimbangkan pendanaan proyek GAIA dan mengategorikan proyek ini tidak memiliki dampak lingkungan dan sosial.

Rabu, 13 Agustus 2025
A A
Aksi para aktvis lingkungan menolak projek GAIA. Foto Dok. Walhi.

Aksi para aktvis lingkungan menolak projek GAIA. Foto Dok. Walhi.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Pada Pertemuan Tingkat Menteri Asia Zero Emission Community (AZEC) ke-2 di Jakarta, Agustus 2024, PT Pupuk Indonesia (Pupuk Indonesia Holding Co) bermitra dengan ITOCHU Corporation dan Toyo Engineering menandatangani perjanjian pengembangan bersama sebuah proyek yang secara resmi disebut Green Ammonia Initiative from Aceh (GAIA).

Proyek ini akan berfokus pada produksi amonia hijau dengan memasang elektroliser untuk mendapatkan unsur hidrogen, di pabrik amonia milik PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), anak perusahaan PT Pupuk Indonesia yang berlokasi di Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Juga akan memasok hidrogen hijau yang diklaim diproduksi dari sumber energi terbarukan.

Sejak April 2025, Japan Bank for International Cooperation (JBIC) juga telah mempertimbangkan pendanaan untuk proyek GAIA. Bahkan mengategorikan proyek ini sebagai “C” alias dianggap tidak memiliki dampak lingkungan dan sosial.

Namun, meskipun Proyek GAIA disebut merupakan bagian dari upaya menuju netralitas karbon, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai proyek ini justru menjauh dari upaya mencapai target iklim yang aman. Sebab memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil, sehingga semakin menambah kerusakan lingkungan dan ancaman terhadap keselamatan komunitas.

Baca juga: Kucing Hutan, Kucing Lokal Indonesia Sebagai Pengendali Hama Alami

Temuan Walhi Aceh

Pertama, listrik yang akan digunakan proyek GAIA didapatkan dari sistem jaringan listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang didominasi pembangkit listrik yang berasal dari energi fosil. PT Pupuk Indonesia melalui jawabannya terhadap permohonan informasi publik Walhi menyampaikan proyek GAIA dirancang untuk menghasilkan hidrogen hijau. Prosesnya melalui elektrolisis air menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan dari PLN. Dituntujukkan dengan Sertifikat Renewable Energy Certificate (REC) dengan estimasi sebesar 40 MW.

Energi listrik dalam jaringan (grid) berasal dari berbagai sumber seperti batu bara, gas, BBM, matahari, dan angin. Semuanya bermuara pada satu sistem distribusi. Sistem ini mengalirkan campuran energi ke konsumen tanpa membedakan asalnya.

Meskipun konsumen mendapat sertifikat energi terbarukan dari penyedia tertentu seperti PLN, praktiknya listrik yang mereka gunakan berasal dari berbagai macam pembangkit listrik yang beragam, bukan dari sumber murni energi terbarukan. Selain itu, tidak tersedia jaminan atau audit terbuka yang memastikan asal-usul pasokan listrik secara transparan.

Baca juga: Pemerintah Andalkan OMC Atasi Karhutla, Habiskan Rp300 Juta Per Jam

Jika melihat kapasitas terpasang pembangkit di Provinsi Aceh, maupun di keseluruhan Sumatera, yang tercantum pada Statistik Ketenagalistrikan 2023 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM pada 2024 lalu, tampak dominasi energi fosil masih sangat tinggi.

Jika mempertimbangkan keseluruhan kapasitas pembangkit di sistem Sumatera, maka terlihat 80 persen pembangkit listriknya berasal dari energi fosil. Namun jika mempertimbangkan kapasitas terpasang pembangkit hanya di wilayah Provinsi Aceh saja, maka tampak 98 persen pembangkit listriknya berasal dari energi fosil.

Meskipun proyek GAIA mengklaim akan menggunakan energi terbarukan dengan dasar sertifikat energi terbarukan, tidak akan menghilangkan fakta. Bahwa listrik yang dialirkan ke pabrik amonia ini berasal dari jaringan PLN yang dominan dihasilkan dari pembangkit-pembangkit energi fosil. Artinya, klaim kehijauan dari produksi hidrogen dan amonia pada tidak memiliki dasar.

Baca juga: Teknologi ForeINTiFlood Ungkap Tiga Titik Rawan Jalur Masuk Rob di Pekalongan

Kedua, sebagian amonia yang diproduksi proyek GAIA masih bersumber dari gas fosil, sehingga tidak bisa diklaim sebagai amonia hijau. Melalui jawabannya terhadap permohonan informasi publik Walhi, PT Pupuk Indonesia menyatakan proyek GAIA dirancang untuk memproduksi hybrid green ammonia dengan cara menginjeksikan green hydrogen ke fasilitas eksisting ammonia plant.

Amonia tersebut diproduksi melalui kombinasi dua sumber hidrogen, yaitu green hydrogen yang dihasilkan melalui elektrolisis air dengan menggunakan sumber energi terbarukan dan grey hydrogen yang dihasilkan dari pemprosesan gas fosil.

Jika PT Pupuk Indonesia tetap memproduksi amonia yang mereka gunakan untuk pupuk dan juga memproduksi amonia abu-abu di pabrik amonia yang ada, dengan skala sebesar saat ini, sambil juga memproduksi amonia hibrida untuk proyek GAIA, maka penggunaan gas fosil bisa jadi justru akan meningkat.

Baca juga: Populasi Gajah Sumatera Kritis, Pakar Serukan Mitigasi Konflik Gajah dengan Manusia

Pernyataan bahwa proyek GAIA masih akan menggunakan grey hydrogen dari pemprosesan gas fosil menunjukkan proyek ini tidak benar-benar proyek hijau dan terbarukan. Publik perlu waspada terhadap potensi greenwashing, di mana proyek-proyek energi diklaim ramah lingkungan. Padahal masih bergantung pada sistem lama yang menyebabkan polusi dan kerusakan lingkungan.

Kenyataan bahwa proyek GAIA masih akan menggunakan listrik dari jaringan PLN yang masih bercampur dengan sumber-sumber pembangkit listrik berbasis energi fosil. Juga dalam proses produksinya, proyek GAIA masih akan menggunakan sumber dari pemprosesan gas fosil. Artinya, proyek ini bisa meningkatkan konsumsi dan penggunaan gas, serta memperpanjang umur penggunaan energi fosil di Indonesia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: greenwashingprojek GAIAProvinsi Acehsolusi palsu transisi energiWalhi Aceh

Editor

Next Post
Suasana jalur menuju puncak Gunung Rinjani, 1 Mei 2023. Foto Al Mulki Fazri Ritonga/Wanaloka.com.

SOP Diperketat, Pendakian Gunung Rinjani Hanya untuk Pendaki Berpengalaman

Discussion about this post

TERKINI

  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Para pejabat menunjukkan peta calon lokasi bandar antariksa di Distrik Biak Utara yang mengancam wilayah adat Warbon. Foto Istimewa.LBH Papua Nilai Rencana Pembangunan Bandar Antariksa di Wilayah Adat Warbon Cacat Hukum
    In Lingkungan
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Ilustrasi tawon yang berkoloni. Foto jcbeni.Pixabay.com.Tawon yang Berkoloni Mengenali Wajah Manusia yang Mengganggunya
    In IPTEK
    Jumat, 19 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media