Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Walhi: Make Mercury History Hanya Jadi Jargon Apabila Tak Sentuh Akar Masalah

COP-4 Konvensi Minamata telah dibuka di Bali. Tema Make Mercury History sekaligus menjadi tagline kampanye. Sementara perusahaan tambang batu bara masih beroperasi. Akankah pemerintah Indonesia menjadikan tagline itu sekedar jargon atau sungguh-sungguh direalisasikan?

Selasa, 22 Maret 2022
A A
Ilustrasi pembakaran sampah. Foto bakhrom_media/pixabay.com.

Ilustrasi pembakaran sampah. Foto bakhrom_media/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Sementara itu, Make Mercury History menjadi tagline kampanye Konvensi Minamata tentang merkuri. Tagline ini berarti, senyawa tersebut harus disudahi penggunaannya karena terbukti banyak merugikan lingkungan, termasuk membahayakan kesehatan masyarakat. Pembukaan Conference of the Parties  ke-4 (COP-4) Konvensi Minamata dilaksanakan di Bali pada 21 Maret 2022. Dalam COP yang pertama kali digelar di luar Jenewa itu, jumlah anggota konvensi bertambah dari semula 50 negara menjadi 130 negara.

Baca Juga: Gerakan Tanah Ancam 200 Penduduk di Manggarai Barat

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar menuturkan, Bali Declaration merupakan deklarasi politik yang tidak mengikat dengan tiga tujuan, yaitu jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Tujuan utamanya adalah untuk mengarusutamakan masalah dan urgensinya, diikuti dengan kerja sama dan kolaborasi, selanjutnya adalah tata kelola penanganan perdagangan ilegal merkuri. COP-4 Minamata pun diklaim menjadi tonggak sejarah komitmen para negara dalam penanganan dan penghapusan merkuri.

Untuk mewujudkan Make Mercury History di Indonesia, menurut Siti tengah menjalankan kebijakan nasional untuk mencapai Indonesia bebas merkuri pada 2030. Kebijakan nasional ini berfokus pada empat sektor prioritas, yaitu sektor manufaktur, energi, PESK dan kesehatan. Termasuk juga penerbitan regulasi teknis di tingkat menteri dan implementasi yang terintegrasi dengan pemerintah daerah.

Dalam memastikan implementasi kebijakan pemerintah pusat, Kementerian LHK memberikan konsultasi dan pembinaan kepada pemerintah daerah. Meliputi, pertama, pengelolaan data dan informasi kadar merkuri, status dan proyeksi. Kedua, program pemulihan untuk lahan yang terkontaminasi merkuri. Ketiga, proyek percontohan teknologi pengolahan emas bebas merkuri. Keempat, melakukan penelitian dan kampanye untuk mengakhiri penggunaan merkuri.

Tantangan Perdagangan Ilegal Merkuri

Ilustrasi pertambangan. Foto keesstes/pixabay.com.
Ilustrasi pertambangan. Foto keesstes/pixabay.com.

Melansir dari United Nations Environment Programme (UNEP) pada 2020, Siti menyampaikan merkuri merupakan salah satu bahan kimia yang diperdagangkan secara ilegal di dunia. Perkiraan nilai global lebih dari 200 juta dolar Amerika pertahun dan terus bertambah.

“Industri ilegal ini merupakan tantangan perjuangan kita untuk membebaskan dunia dari merkuri,” kata Siti sebagaimana dilansir dari menlhk.go.id, 21 Maret 2022.

Baca Juga: Gen Z Suka Hidup Boros dan Tak Punya Tabungan, Mengapa?

Banyaknya negara yang bergabung di Konvensi Minamata akan membawa tantangan tersendiri. Tantangan-tantangan tersebut juga merupakan evaluasi dari konvensi, yaitu seberapa jauh menerapkan dan mengevaluasi apa yang telah disepakati, bagaimana mengukurnya, serta seberapa efektif evaluasi tersebut.

Tantangan lain yang juga harus dihadapi Konvensi Minamata adalah perdagangan ilegal merkuri. Laporan internasional menunjukkan adanya peningkatan yang mengkhawatirkan dari perdagangan ilegal merkuri global, terutama digunakan di sektor Penambangan Emas Skala Kecil (PESK) dalam satu dasawarsa terakhir. Beberapa di antaranya diperoleh melalui e-commerce.

Sejumlah tantangan perdagangan ilegal merkuri dipaparkan dalam laporan. Pertama, berpotensi melemahkan upaya kolektif para pihak dalam mengimplementasikan konvensi. Kedua, paparan merkuri akan memberikan ancaman serius kepada kesehatan manusia, terutama perempuan dan anak-anak. Ketiga, peredaran ilegal merkuri juga akan mencemari seluruh komponen ekosistem mulai dari keanekaragaman hayati, perubahan iklim hingga pencemaran, serta mengganggu data resmi global perdagangan merkuri.

Baca Juga: Slamet Ibrahim Surantaatmadja: Tak Semua Negara Produsen Farmasi Mensyaratkan Status Halal

Keempat, perdagangan ilegal merkuri juga memiliki sifat lintas batas negara. Tidak ada negara yang dapat mengatasi masalah ini secara efektif, tanpa dukungan langsung dari negara tetangga dan komunitas internasional.

“Harus ada kerja sama dan kolaborasi untuk mengatasi masalah ini. Komunitas internasional berharap kepada kita, bagaimana Konvensi Minamata menghentikan perdagangan ilegal merkuri,” tegas Siti.

Indonesia diakui merupakan salah satu negara yang terkena dampak perdagangan ilegal merkuri. Penanganan masalah tersebut perlu memperkuat kesadaran dan komitmen global melalui kerja sama dalam memerangi perdagangan ilegal merkuri, antara lain pada bidang pencegahan, pengawasan, dan penegakan hukum.

Dengan latar belakang ini, Pemerintah Indonesia berinisiatif untuk mengarusutamakan isu perdagangan ilegal merkuri di bawah Deklarasi Bali dalam penyelenggaraan COP-4 Konvensi Minamata di Bali yang tengah berlangsung.

Ada empat pokok utama Deklarasi Bali. Pertama, mendorong kerja sama internasional dalam penegakan hukum dan pengawasan. Kedua, mendorong kebijakan, peraturan dan tindakan internal lainnya yang kondusif dan memungkinkan. Ketiga, mempromosikan pendidikan, penelitian dan studi. Keempat, mempromosikan kerjasama pihak ketiga seperti donor, e-commerce, peningkatan kapasitas dan bantuan teknis. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Bali Deklarationbatu baraCOP-4KLHKKonvensi MinamataMake Mercury HistorymerkuriPLTUTPAWalhi

Editor

Next Post
Ilustrasi gelombang di laut. Foto Kanenori/pixabay.com.

Pakar Oseanografi: Air Laut Bisa Jadi Solusi Krisis Air Bersih di Indonesia

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media