Senin, 4 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Yusuf Surachman, Peta Batimetri Kumpulkan Data untuk Memprediksi Tsunami

Rabu, 10 Juli 2024
A A
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Yusuf Surachman Djajadihardja. Foto researchgate.net.

Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Yusuf Surachman Djajadihardja. Foto researchgate.net.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Peta Batimetri dapat diartikan pengukuran dan pemetaan topografi dasar laut. Keberadaannya dibutuhkan mengingat lautan Indonesia luas dan memiliki kekayaan laut yang melimpah, seperti ikan, mineral, dan minyak bumi. Juga berperan di bidang keilmuan, seperti untuk mengetahui topografi pulau-pulau yang saling menyambung di perairan Indonesia.

“Kehadiran Peta Batimetri diperlukan untuk membantu pemerintah mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan,” Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yusuf Surachman Djajadihardja dalam webinar Diskusi Geologi Sumber Daya (Digdaya) pada 8 Juni 2024 lalu.

Peta Batimetri tak hanya menunjukkan pemahaman dan pemanfaatan laut secara optimal. Manfaatnya tidak sebatas sektor maritim, tetapi juga meluas ke berbagai bidang lain, seperti riset, perikanan, industri, pariwisata. Namun juga dalam penanggulangan bencana alam.

Baca Juga: DPR Sahkan RUU KSDAHE dan Walhi Menolak karena Poin-poin Kritis Diabaikan

“Bahkan setelah terjadi gempa besar bawah laut yang menyebabkan tsunami, Peta Batimetri dapat langsung mengevaluasi deformasinya,” jelas Yusuf.

Ia mencontohkan kasus tsunami Jepang tanggal 11 Maret 2011. Jepang dapat langsung mengidentifikasi penyebab tsunami. Sehari setelah bencana tersebut, pemerintah di sana mengumumkan ada pergerakan sepanjang 50 meter dilihat dari awal data pembanding.

Sementara saat terjadi bencana tsunami Aceh pada tahun 2004, Indonesia tidak memiliki data awal, sehingga tidak dapat melihat perambatan tsunami. Sementara gempa yang sebelumnya terjadi telah mengakibatkan permukaan dasar laut yang berantakan dan menghasilkan lumpur yang sangat banyak.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Peta Batimetritopografi dasar lauttsunami Acehtsunami JepangYusuf Surachman Djajadihardja

Editor

Next Post
Kawasan tambang di Bone Bolango yang longsor, 8 Juli 2024. Foto BPBD Bone Bolango.

Data Terkini Longsor Tambang Tulabo Bone Bolango 23 Orang Tewas

Discussion about this post

TERKINI

  • Pegiat lingkungan,, Arief Kamarudin menunjukkan ikana sapu-sapu yang ditangkapnya. Foto @ariefkamarudin/instagram.Bagaimana Ikan Asal Amazon Bisa Menginvasi Sungai di Indonesia?
    In Rehat
    Kamis, 30 April 2026
  • Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat berbicara kepada awak media usai sertijab, 29 APril 2026. Foto KLH/BPLH.Pesan Walhi dan Janji Menteri Baru Lingkungan Hidup
    In News
    Rabu, 29 April 2026
  • Petani pasir lahan pantai di Kulon Progo tengah menyirami lahan cabenya. Foto Dok. Soetana Monang Hasibuan/Wanaloka.com.20 Tahun PPLP Kulon Progo, Menanam adalah Melawan Apa?
    In Sosok
    Minggu, 19 April 2026
  • Ilustrasi TPA open dumping. Foto khoinguyenfoto/pixabay.com.Praktik TPA Open Dumping Ditutup Akhir Juli 2026
    In News
    Sabtu, 18 April 2026
  • Ketebalan 'salju abadi' Pegunungan Jayawijaya, Papua tinggal 4 meter pada 2024. Foto Dok. BMKG.Salju Abadi Puncak Jaya akan Hilang, Kurangi Pemakaian Bahan Bakar Fosil
    In IPTEK
    Sabtu, 18 April 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media