Selasa, 3 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Yusuf Surachman, Peta Batimetri Kumpulkan Data untuk Memprediksi Tsunami

Rabu, 10 Juli 2024
A A
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Yusuf Surachman Djajadihardja. Foto researchgate.net.

Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Yusuf Surachman Djajadihardja. Foto researchgate.net.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Peta Batimetri dapat diartikan pengukuran dan pemetaan topografi dasar laut. Keberadaannya dibutuhkan mengingat lautan Indonesia luas dan memiliki kekayaan laut yang melimpah, seperti ikan, mineral, dan minyak bumi. Juga berperan di bidang keilmuan, seperti untuk mengetahui topografi pulau-pulau yang saling menyambung di perairan Indonesia.

“Kehadiran Peta Batimetri diperlukan untuk membantu pemerintah mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan,” Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yusuf Surachman Djajadihardja dalam webinar Diskusi Geologi Sumber Daya (Digdaya) pada 8 Juni 2024 lalu.

Peta Batimetri tak hanya menunjukkan pemahaman dan pemanfaatan laut secara optimal. Manfaatnya tidak sebatas sektor maritim, tetapi juga meluas ke berbagai bidang lain, seperti riset, perikanan, industri, pariwisata. Namun juga dalam penanggulangan bencana alam.

Baca Juga: DPR Sahkan RUU KSDAHE dan Walhi Menolak karena Poin-poin Kritis Diabaikan

“Bahkan setelah terjadi gempa besar bawah laut yang menyebabkan tsunami, Peta Batimetri dapat langsung mengevaluasi deformasinya,” jelas Yusuf.

Ia mencontohkan kasus tsunami Jepang tanggal 11 Maret 2011. Jepang dapat langsung mengidentifikasi penyebab tsunami. Sehari setelah bencana tersebut, pemerintah di sana mengumumkan ada pergerakan sepanjang 50 meter dilihat dari awal data pembanding.

Sementara saat terjadi bencana tsunami Aceh pada tahun 2004, Indonesia tidak memiliki data awal, sehingga tidak dapat melihat perambatan tsunami. Sementara gempa yang sebelumnya terjadi telah mengakibatkan permukaan dasar laut yang berantakan dan menghasilkan lumpur yang sangat banyak.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Peta Batimetritopografi dasar lauttsunami Acehtsunami JepangYusuf Surachman Djajadihardja

Editor

Next Post
Kawasan tambang di Bone Bolango yang longsor, 8 Juli 2024. Foto BPBD Bone Bolango.

Data Terkini Longsor Tambang Tulabo Bone Bolango 23 Orang Tewas

Discussion about this post

TERKINI

  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media