Jumat, 16 Januari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Akumulasi Penyebab Banjir Aceh, Sumut dan Sumbar Terjadi di Hulu Aliran Sungai

Audit perizinan, penegakan hukum terhadap korporasi, serta pemulihan DAS harus dilakukan cepat, terbuka, dan holistik.

Selasa, 13 Januari 2026
A A
Kondisi banjir di Aceh yang belum surut hingga 27 November 2025. Foto BPBA Aceh.

Kondisi banjir di Aceh yang belum surut hingga 27 November 2025. Foto BPBA Aceh.

Share on FacebookShare on Twitter

“Tanpa resapan di hulu, air hujan langsung mengalir ke permukaan dalam jumlah besar, sungai di hilir tidak dapat menampung beban air sehingga terjadilah banjir bandang,” jelas dia.

Lahan negara pada daerah hulu yang mengalami deforestasi perlu diberlakukan rehabilitasi vegetatif atau penghutanan kembali ditambah dengan cara mekanik yang tepat sebagai pondasi ekosistem. Sementara untuk lahan masyarakat, bisa dilakukan agroforestri yaitu kegiatan yang menggabungkan tanaman hutan dengan tanaman pangan ataupun obat-obatan.

“Lahan milik pemerintah difokuskan menjadi hutan lindung. Sementara, lahan milik masyarakat, dibangun menyerupai hutan namun tetap memberikan manfaat ekonomi,” papar dia.

Bagi Ambar, langkah yang seharusnya dilakukan adalah dengan moratorium semua kegiatan yang merusak alam seperti tambang dan perkebunan skala luas. Kemudian merencanakan kembali tata ruang yang tepat yang wajib didasarkan pada konsep pengelolaan DAS. Juga memperkuat sistem peringatan dini berdasarkan prediksi BMKG dan peta potensi bencana yang ada.

“Kita perlu memahami kondisi alam dengan penyesuaian aktivitas manusia yang adaptif,” kata dia.

Baca juga: Walhi Sebut Penegakan Hukum terhadap Perusahaan Penyebab Banjir Sumatra Setengah Hati

Perlu inspeksi menyeluruh di wilayah DAS

Pakar kebencanaan sekaligus Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dwikorita Karnawati menyebutkan bencana longsor dan banjir bandang susulan di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat masih sangat mungkin terjadi, khususnya selama musim hujan masih berlangsung.

“Salah satu upaya mitigasi yang mendesak dan perlu segera dilakukan adalah mengurangi risiko terjadinya banjir bandang susulan,” kata Dwikorita, Selasa, 23 Desember 2025.

Langkah ini dapat ditempuh melalui inspeksi menyeluruh di wilayah hulu daerah aliran Sungai (DAS), khususnya untuk mengecek sisa endapan longsor, material rombakan, dan kayu-kayu yang masih tertahan di lereng maupun alur sungai pada elevasi tinggi. Sebab, endapan tersebut berpotensi menyumbat aliran sungai saat atau setelah hujan lebat.

“Jika sumbatan alami ini jebol, maka dapat memicu banjir bandang ke wilayah hilir dan dataran rendah, yang berisiko menambah korban jiwa serta merusak infrastruktur yang sedang maupun telah dibangun,” kata dia.

Baca juga: Waspada Virus Varian Superflu, Pakar Mikrobiologi Ingatkan Masker dan Pola Hidup Bersih

Selain inspeksi dan pengecekan, upaya mitigasi segera juga perlu dilakukan dengan mengalirkan atau menyudet sumbatan sedimen di hulu alur sungai ke arah hilir secara terkontrol, agar tidak berkembang menjadi banjir bandang.

Dalam jangka menengah, perlu dibangun check dam secara berjenjang dari hulu hingga kaki gunung untuk mengendalikan kecepatan dan volume sedimen yang mengalir ke hilir, sehingga daya rusak aliran sedimen banjir bandang dapat diminimalkan.

Di sisi lain, pembersihan sedimen, lumpur, gelondongan kayu, serta bangkai hewan pada lahan dan sarana prasarana kehidupan, seperti jalan, saluran irigasi, dan rumah, perlu segera dilakukan. Langkah ini penting agar fasilitas yang masih memungkinkan dapat segera difungsikan kembali, setidaknya sebagai hunian dan prasarana sementara, sambil menunggu penyediaan hunian tetap (Huntap) dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh serta pemetaan ulang zona bahaya ke depan dan tingkat kerusakan lingkungan saat ini. Mekanisme dan penyebab bencana harus dikaji melalui fact-finding langsung di lapangan, kemudian disimulasikan kembali dengan pemodelan fisika-matematis yang divalidasi dan diverifikasi menggunakan data empiris.

Baca juga: Dana Pemulihan Pascabencana Sumatra Rp59,25 Triliun, DPR Minta Transparans dan Tepat Sasaran

Dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi, keterlibatan aktif pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan di daerah—termasuk relawan, organisasi non pemerintah (NGO), sektor swasta, akademisi, serta masyarakat lokal yang tidak terdampak langsung perlu dioptimalkan.

Pelibatan ini dilakukan melalui dialog yang intensif, penguatan pemahaman terhadap kearifan dan pengetahuan lokal, serta keterlibatan langsung dalam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pendekatan partisipatif tersebut penting untuk menjamin efektivitas dan relevansi pemulihan, sehingga hunian serta sarana prasarana yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan, kondisi sosial, dan tradisi budaya setempat. [WLC02]

Sumber: Walhi, UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: bencana ekologisdaerah aliran sungaiPakar Kebencanaan UGMPakar Konservasi Tanah dan Air UGMWalhi

Editor

Next Post
Ilustrasi makanan kaleng. Foto MabelAmber/pixabay.com.

Jangan Sepelekan Kemasan Kaleng Makanan yang Penyok, Gembung dan Berkarat

Discussion about this post

TERKINI

  • WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa dan Menkes Budi Gunadi Sadikin berkunjung ke Sampang, Madura dalam program eliminasi kusta, 8 Juli 2025. Foto Dok. Kemenkes.Jangan Takut Periksa Kusta, Sepekan Usai Diobati Tak Menular Lagi
    In Rehat
    Kamis, 15 Januari 2026
  • Penampakan huntara dari kayu hanyutan di Aceh. Foto Dok. Rumah Zakat.Kayu Hanyutan Jadi Huntara, Biar Penyintas Aceh Tak Terlalu Lama Hidup di Tenda
    In Rehat
    Kamis, 15 Januari 2026
  • Ilustrasi penyakit kulit. Foto Miller_Eszter/pixabay.comPrevalensi Penderita Kusta di DIY Terendah, Tapi Tiap Bulan Ada Pasien Baru
    In Rehat
    Rabu, 14 Januari 2026
  • KKP mempersiapkan pengiriman 159 ton bantuan ke lokasi bencana Sumatra, 13 Januari 2026. Foto KKP.Legislator Kritik Seremonial Bantuan Menteri di Aceh, Puluhan Kampung Masih Terisolasi
    In News
    Rabu, 14 Januari 2026
  • Ilustrasi makanan kaleng. Foto MabelAmber/pixabay.com.Jangan Sepelekan Kemasan Kaleng Makanan yang Penyok, Gembung dan Berkarat
    In IPTEK
    Selasa, 13 Januari 2026
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media