Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Baboe Mengalami Diskriminasi Sekaligus Diperlakukan Sama oleh Keluarga Kolonial

Arif menghadirkan berbagai arsip yang membenarkan fakta terkait diskriminasi hukum yang dialami para baboe di zaman dahulu.

Minggu, 2 Januari 2022
A A
Pameran bertajuk Baboe yang digelar Arif Akbar Pradana. Foto UGM.

Pameran bertajuk Baboe yang digelar Arif Akbar Pradana. Foto UGM.

Share on FacebookShare on Twitter

“Pesan yang disampaikan, selain mengafirmasi ide besar kolonial yakni ekspolitasi, dominasi, dan diskriminasi, juga menunjukan bahwa terdapat praktik-praktik humanis di dalamnya,” tutur Arif yang dilansir dari laman UGM tertanggal 1 Januari 2022.

Baca Juga: Prof. Wahyu Andayani: Lindungi Hutan Lewat Pembangunan KPH

Di satu sisi, Arif menghadirkan berbagai arsip yang membenarkan fakta terkait diskriminasi hukum yang dialami para baboe di zaman dahulu. Bahwa kedudukan baboe di depan hukum kala itu hanyalah sebagai objek, bukan subjek yang memiliki kesamaan hak dengan orang lain. Dalam salah satu arsip, misalnya diceritakan pernah terjadi kasus konflik antara baboe dan majikannya yang merupakan orang Belanda. Sang majikan mendapatkan perlakuan istimewa di depan hukum. Meski terbukti melakukan tindak pemukulan terhadap baboe, si majikan mudah mendapatkan vonis bebas hanya karena telah bercerita jujur di depan hakim.

Baca Juga: Kisah Mark Zuckerberg hingga Raja Belanda Blusukkan ke Kampoeng Cyber

Di samping berbagai ekspolitasi, dominasi, dan diskriminasi yang dialami para baboe tersebut, Arif turut mengungkapkan sesungguhnya juga terdapat praktik-praktik humanisme di antara para baboe dan majikannya. Terdapat arsip sejarah yang menceritakan bahwa baboe diperlakukan layaknya keluarga oleh majikannya sehingga mendapat ruang sama dengan batasan tertentu. Di mata anak-anak Belanda, baboe pun ada dianggap sebagai salah satu orang tua mereka. Bahkan, anak-anak dalam banyak keluarga (Belanda) memiliki tingkat kedekatan yang lebih dengan Baboe dibanding dengan orang tuanya.

Baca Juga: Jahe Dikembangkan Jadi Obat Terapi Kanker dengan Harga Terjangkau

“Di dalam narasi besar sejarah Indonesia, kehangatan antara baboe dengan tuannya ini minim terekspose akibat kepentingan-kepentingan politik tertentu dan terhambat oleh urusan ‘nasionalisme’,” tulis Arif dalam katalog pamerannya.

Pameran Arsip “Baboe” yang dikuratori oleh Arif tersebut digelar tanggal 8—11 Desember 2021 lalu di Asrama Putra Jember Yogyakarta. Sebelumnya, Arif melakukan riset selama dua bulan yang dimulai dengan pengumpulan sumber data, verifikasi, serta interpretasi data, lalu kemudian baru disusun dan didisplai dalam bentuk pameran. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: baboeISI Yogyakartapameranpembantu rumah tanggasenizaman kolonial

Editor

Next Post
Ilustrasi. Foto Tumisu/Pixabay.com.

Ingin Tahu Jenis dan Tipe Warna Kulitmu? Simak Penjelasan Dokter Flandiana

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media