Baca juga: Ikan Dewa Mati Massal di Kuningan, Apa Penyebabnya?
Segera periksa ke faskes
Musim hujan menjadi faktor risiko utama penularan penyakit leptospira. Koko menyarankan agar masyarakat menghindari kontak dengan air tergenang dan menggunakan alat pelindung diri, seperti sarung tangan dan sepatu boot.
Selain itu, penting mengikuti anjuran dokter apabila pasien mengalami gejala berat leptospirosis. Informasi dari pasien memegang peran yang sangat penting, terutama terkait riwayat paparan lingkungan dan kasus leptospirosis di lingkungan sekitar. Kondisi ini menjadi krusial karena secara klinis maupun pemeriksaan laboratorium. Leptospirosis kerap sulit dibedakan dari penyakit lain seperti demam berdarah dengue (DBD) dan tifus.
“Hal tersebut tidak sepenuhnya keliru selama pasien tetap berada dalam pengawasan ketat. DBD itu risiko kematiannya bisa terjadi pada minggu-minggu pertama, sedangkan Leptospirosis bisa minggu kedua atau setelahnya,” papar dia.
Baca juga: KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial
Koko mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan air tergenang. Sebab manusia tidak dapat mengendalikan di mana hewan seperti tikus membuang urin.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak panik apabila mengalami atau mendapati anggota keluarga dengan gejala leptospirosis. Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, serta mengikuti seluruh anjuran medis.
“Dengan penanganan tepat, termasuk perawatan intensif bila diperlukan, peluang pemulihan tetap tinggi selama fase kritis dapat dilalui,” tutur dia. [WLC02]
Sumber: UGM







Discussion about this post