Minggu, 5 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Banjir Bandang menjadi Alarm Ekosistem Hutan yang Runtuh

Keruntuhan ekosistem hutan tidak terjadi secara tiba-tiba. Melalui proses spasial secara bertahap, sering kali luput dari perhatian publik maupun pengambil kebijakan.

Minggu, 15 Februari 2026
A A
Deforestasi hutan. Foto Lilik Budi Prasetyo/BRIN.

Deforestasi hutan. Foto Lilik Budi Prasetyo/BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Akumulasi perubahan tersebut mendorong ekosistem menuju titik kritis yang sulit dipulihkan. Ketika ambang batas daya lenting (resiliensi) terlampaui, kerusakan menjadi semakin kompleks dan mahal untuk diperbaiki.

Tanda-tanda awal degradasi sebenarnya dapat dikenali dari terganggunya spesies kunci. Di Sumatra misalnya, peingkatan konflik Harimau Sumatera bukan sekadar konflik satwa-manusia.

“Ketika harimau masuk ke permukiman atau melintasi jalan raya, itu bukan hanya soal konflik. Itu indikator bahwa habitatnya sudah tidak lagi utuh dan sehat,” tegas dia.

Hendra juga memberikan catatan tentang persepsi reduksionis yang memandang hutan hanya sebagai kumpulan pohon. Pendekatan ini sering melahirkan solusi instan, seperti penanaman massal tanpa perencanaan ekologis berbasis lanskap.

“Menanam pohon tidak otomatis memulihkan ekosistem,” tegas dia.

Baca juga: Migrasi Paksa dan Ketidakadilan di Sektor Perikanan Akibat Krisis Iklim

Restorasi sejati harus memulihkan fungsi dan proses ekologis, bukan sekadar mengganti tutupan vegetasi. Tanpa pendekatan ilmiah berbasis ekosistem, rehabilitasi berisiko menghasilkan “hutan semu” yang rapuh dan miskin keanekaragaman hayati.

Saatnya belajar pada alam

Penghentian eksploitasi hutan saja tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Banyak ekosistem yang telah terdegradasi membutuhkan langkah pemulihan yang jauh lebih sistematis dan terintegrasi.

“Penghentian eksploitasi itu penting, tetapi tidak cukup. Ekosistem yang sudah rusak perlu dipulihkan dengan pendekatan terpadu lintas sektor dan berbasis bentang alam,” ujar dia.

Kebijakan pengelolaan hutan tidak bisa lagi berjalan secara parsial. Perlu konsistensi kebijakan antar sektor, integrasi antara konservasi, restorasi dan pembangunan, serta kolaborasi nyata antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Tanpa sinergi tersebut, upaya pemulihan akan terfragmentasi dan tidak menyentuh akar persoalan.

Baca juga: Bakteri Penyakit Leptospirosis Bisa Tahan Berbulan-bulan di Tempat Lembab

Selain itu, perlu keberanian untuk mengevaluasi paradigma yang cenderung eksploitatif.

“Selama hutan dipahami hanya sebagai sumber daya ekonomi, kita akan terus terjebak dalam siklus kerusakan dan bencana,” kata dia.

Banjir bandang yang berulang merupakan pesan keras dari alam. Jika cara pandang terhadap hutan tidak berubah, maka bencana ekologis akan terus berulang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebaliknya, apabila hutan ditempatkan sebagai sistem penyangga kehidupan, maka arah pembangunan dapat disusun untuk menjaga resiliensi ekosistem sekaligus memastikan keberlanjutan kesejahteraan manusia.

Melalui perspektif ilmiah ini, BRIN mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membaca banjir bandang bukan sebagai peristiwa insidental, melainkan refleksi dari kondisi sistem alam.

“Sudah saatnya kita belajar dari alam, sebelum alarm ekologis ini berubah menjadi keruntuhan yang tidak lagi dapat dipulihkan,” ia mengingatkan. [WLC02]

Sumber: BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Banjir BandangEcosystem CollapseKeruntuhan EkosistemPusat Riset Ekologi BRIN

Editor

Next Post
Pascabanjir bandang di wilayah Sumatra. Foto Dok. Walhi.

Wilayah Sumatra Banjir Lagi, Pencabutan Izin Korporasi Harus Ada Keterbukaan Informasi

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Ilustrsi kunang-kunang. Foto Franciscojaviercorador/Pixabay.com.Kunang-Kunang Kian Langka, Tanda Kualitas Lingkungan Menurun
    In IPTEK
    Minggu, 21 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media