Selasa, 12 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Belajar dari Kearifan Lokal Kasepuhan Girijaya dan Tahura Atasi Perubahan Iklim

Dengan strategi yang terpadu, hutan tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai pusat kegiatan ekonomi, ketahanan iklim, dan kesejahteraan masyarakat.

Kamis, 23 Oktober 2025
A A
Ilustrasi kearifan lokal masyarakat adat Kasepuhan Girijaya di Sukabumi, Jawa Barat. Foto Dok. IPB University.

Ilustrasi kearifan lokal masyarakat adat Kasepuhan Girijaya di Sukabumi, Jawa Barat. Foto Dok. IPB University.

Share on FacebookShare on Twitter

Di sisi lain, penanganan perubahan iklim memerlukan strategi terpadu yang mengintegrasikan aspek konservasi, teknologi, dan ekonomi hijau. Salah satunya juga melalui peran strategis Taman Hutan Raya (tahura). Apalagi Indonesia memiliki tahura sekitar 387.000 hektar yang tersebar di 33 lokasi.

“Tahura tidak hanya menjadi benteng keanekaragaman hayati, melainkan juga berfungsi sebagai penyangga iklim dan penyerap karbon yang penting bagi stabilitas ekosistem nasional,” ujar Abdul Hamid, dalam orasi ilmiah sebagai Profesor Riset Ilmu Pertanian – Kehutanan Bidang Pertanian dan Konservasi Kepakaran Kebijakan Publik Pertanian Kehutanan di Gedung BJ Habibie Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, 22 Oktober 2025.

Baca juga: DIY Siapkan Tiga TPST untuk Kelola Sampah Menjadi Energi Listrik

Sejak 1980-an hingga 2024, pembangunan kawasan konservasi di Indonesia terus mengalami transformasi. Transformasi itu menunjukkan ada keseimbangan antara kepentingan ekologi, ekonomi, dan sosial. Keseimbangan ini menjadi kunci agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan, tetapi juga pada keberlanjutan ekosistem. Pemanfaatan teknologi memiliki peran penting untuk memastikan pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara efisien dan berkelanjutan.

Dalam orasinya, ia memaparkan sejumlah hasil penelitian menunjukkan konservasi kawasan hutan bukan hanya bermanfaat untuk kontribusi penanganan iklim, namun juga memiliki potensi ekonomi. Kawasan hutan mampu menyerap sekitar 20 hingga 30 ton karbon per hektare setiap tahunnya.

Namun, ketika kawasan tersebut mengalami kerusakan atau degradasi, kemampuan serapan itu hilang dan justru berubah menjadi sumber emisi karbon yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Terkait potensi ekonomi, Hamid mencontohkan, kawasan tahura yang tegakannya masih bagus, jika diberi kompensasi dalam perdagangan karbon global, maka nilainya dapat mencapai US$44,8 miliar (dengan asumsi harga US$10 per ton karbon).

Baca juga: Air Hujan antara Ancaman Mikroplastik dan Solusi Krisis Air Masa Depan

Dalam melakukan konservasi hutan, peran teknologi sangat penting. Ia menjelaskan, bahwa perlu peningkatan pemanfaatan teknologi geospasial, satelit, serta regulasi yang mendukung investasi ramah lingkungan tanpa mengorbankan pelestarian alam.

Dengan strategi yang terpadu, hutan tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai pusat kegiatan ekonomi, ketahanan iklim, dan kesejahteraan masyarakat.

Jika dikelola dengan regulasi yang tepat serta didukung sumber daya manusia berkualitas, kawasan konservasi akan menjadi primadona dalam mitigasi iklim. Kawasan hutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, serta melindungi keanekaragaman hayati dan mencegah kepunahan spesies.

Baca juga: Gunung Lawu Batal Masuk Wilayah Kerja Panas Bumi, Kecamatan Jenawi Jadi Alternatif

“Selain itu, biomassa dan tanah di kawasan hutan juga berfungsi sebagai penyimpan karbon alami yang membantu mengurangi efek rumah kaca,” ujar dia.

Terkait ekonomi hijau, kawasan hutan memberikan pendapatan bagi masyarakat sekitar melalui perdagangan karbon dan hasil hutan bukan kayu. Kondisi ini meningkatkan kesejahteraan dan motivasi masyarakat untuk menjaga kelestarian alam. Untuk itu, partisipasi masyarakat perlu terus ditingkatkan melalui edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya ekosistem hutan bagi kehidupan. [WLC02]

Sumber: IPB University, BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Kasepuhan GirijayaKearifan Lokalkonservasi kawasan hutanperubahan iklimTaman Hutan Raya

Editor

Next Post
Dosen Departemen Geografi Lingkungan UGM, Dr. Emilya Nurjani. Foto kagama.co.

Emilya Nurjani, Sampaikanlah Peringatan Dini Cuaca Ekstrem dengan Bahasa Mudah Dipahami

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi ,krisis air bersih. Foto Andres_maura_ph/Pixabay.com.Pemerintah Harus Antisipasi Krisis Sampah dan Air Bersih Dampak Godzilla El Niño 2026
    In Lingkungan
    Senin, 11 Mei 2026
  • Ilustrasi tikus pembawa virus. Foto Sipa/Pixabay.com.Mengenal Virus Hanta Tipe HFRS di Indonesia dan Tipe HPS di Kapal Pesiar
    In Rehat
    Senin, 11 Mei 2026
  • Tim SAR gabungan membawa kantong jenazah korban erupsi gunung api Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, 10 Mei 2026. Foto Basarnas.Pendakian Gunung Dukono Ditutup April 2026, Tiga Pendaki Tewas Mei 2026
    In Traveling
    Minggu, 10 Mei 2026
  • Suasana salah satu tempat pembuangan sampah sementara di Kota Yogyakarta. Foto Dok. Forpi Kota YogyakartaKritik Walhi Yogyakarta, PSEL Menyeret Daerah Tergantung pada Pasokan Sampah
    In Lingkungan
    Sabtu, 9 Mei 2026
  • Official trailer film Pesta Babi. Foto Indonesia Baru/YouTube.SIEJ: Larangan Nobar Pesta Babi Sensor Pengungkapan Peminggiran Hak Masyarakat Adat
    In News
    Sabtu, 9 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media