Jumat, 26 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Belajar dari Klaim Reog oleh Negara Lain, Begini Pengajuan Warisan Budaya ke Unesco

Ternyata jumlah warisan budaya yang diajukan ke Unesco untuk mendapat pengakuan dunia dibatasi. Dan nominasi yang diajukan setiap negara tak dijamin selalu lolos.

Sabtu, 16 April 2022
A A
Atraksi kesenian reog saat pembukaan Pameran Lukisan Reog di Yogyakarta, 2019. Foto wanaloka.com.

Atraksi kesenian reog saat pembukaan Pameran Lukisan Reog di Yogyakarta, 2019. Foto wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

“Kami terus mengupayakan agar elemen budaya Indonesia tidak hanya mendapatkan status di tingkat Internasional. Yang terpenting adalah agar masyarakat Indonesia turut memberikan perhatian dan ikut melestarikan,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid.

Terkait pemberitaan bahwa Malaysia turut mengajukan reog sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) ke Unesco, Hilmar membantah. Bahwa sampai saat ini tidak ada informasi resmi yang diterima terkait ada negara lain yang turut mengajukan reog.

Baca Juga: Gempa Meulaboh Aceh Dipicu Aktivitas Subduksi Lempeng

“Publik perlu memahami bahwa Konvensi WBTb Unesco bertujuan untuk melestarikan WBTb sesuai dengan kesepakatan internasional. Bukan untuk klaim kepemilikan budaya oleh negara yang mengajukan,” kata Hilmar.

Lantaran keterbatasan sumber daya di Unesco sendiri, menurut Hilmar, tidak ada jaminan bagi setiap elemen budaya yang dinominasikan suatu negara akan berhasil menyandang status WBTb Unesco. Rata-rata suatu negara hanya bisa mengusulkan satu nominasi per dua tahun untuk menginskripsikan elemen budayanya sebagai WBTb Unesco.

Sejak 2016, lanjut Hilmar, Komite WBTb Unesco mengatur batasan jumlah elemen budaya yang dapat diinskripsi sebagai WBTb Unesco. Bahwa hanya 50 elemen budaya per tahun dari 193 negara anggota Unesco.

Sejauh ini, ada 12 WBTb Indonesia yang telah berhasil mendapatkan status WBTb Dunia dari Unesco. Meliputi wayang (2008), keris (2008), batik (2009), pendidikan dan pelatihan batik (2009), angklung (2010), Tari Saman (2011), noken (2012), tiga genre tari Bali (2015), seni pembuatan kapal Pinisi (2017), tradisi pencak silat (2019), pantun (2019), dan gamelan (2021). [WLC02]

Sumber: unair.ac.id dan kemdikbud.go.id

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: budaya tradisiKemendikbudristekreogUnairUNESCOwarisan budaya tak benda

Editor

Next Post
Pusat gemppa magnitudo 5,8 di Kepulauan Yapen, Provinsi Papua, pada Minggu, 17 April 2022, pukul 12.49 WIB. Foto tangkap layar bmkg.go.id

3 Gempa Jenis Dangkal Guncang Kepulauan Yapen Papua

Discussion about this post

TERKINI

  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Para pejabat menunjukkan peta calon lokasi bandar antariksa di Distrik Biak Utara yang mengancam wilayah adat Warbon. Foto Istimewa.LBH Papua Nilai Rencana Pembangunan Bandar Antariksa di Wilayah Adat Warbon Cacat Hukum
    In Lingkungan
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Ilustrasi tawon yang berkoloni. Foto jcbeni.Pixabay.com.Tawon yang Berkoloni Mengenali Wajah Manusia yang Mengganggunya
    In IPTEK
    Jumat, 19 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media