Senin, 9 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Berjemur Membuat Mood Lebih Baik, Mengapa?

Ternyata sinar matahari tak hanya membuat tubuh mencukupi asupan Vitamin D. Namun juga membuat suasana hati lebih baik. Mengapa?

Sabtu, 5 Maret 2022
A A
Ilustrasi berjemur. Foto avi_acl/pixabay.com.

Ilustrasi berjemur. Foto avi_acl/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Saat suasana mendung, kurang paparan sinar matahari, tak jarang kita merasa sendu, galau dan perasaan mendayu-dayu. Sinar matahari seolah memengaruhi suasana hati. Benarkah?

“Betul, karena sinar matahari berpengaruh terhadap zat serotonin dalam tubuh yang menjaga kita dalam suasana hati yang baik dan tetap segar,” kata pakar kesehatan jiwa UGM, dokter Ronny Tri Wirasto.

Paparan sinar matahari akan merangsang otak untuk memproduksi serotonin, yakni zat yang berperan dalam mengatur suasana hati dalam tubuh. Zat ini membantu untuk mengatur perasaan hati, seperti bahagia, sedih, nyaman, cemas, nyeri dan lainnya. Paparan yang cukup akan meningkatkan produksi zat ini dan menjaga suasana hati untuk tetap baik dan rasa segar pada siang hari. Sebaliknya, kandungan zat dalam tubuh rendah bisa memengaruhi suasana hati menjadi tidak nyaman.

Baca Juga: Neti Nurani: Bayi dengan Berat Lahir Rendah Berisiko Kena Diabetes dan Hipertensi

“Kalau suasana hati sedang low, biasanya suka yang redup-redup dan berdiam di kamar. Ini memang mekanisme tubuh saat mood tidak baik. Namun harus dipaksa untuk terpapar matahari agar suasana hati bisa bagus lagi,”papar Ronny.

Saat malam hari, pelepasan zat serotonin akan menurun. Sebab, otak tidak lagi terangsang memproduksi serotonin. Setelahnya, tubuh akan mulai melepas zat melantonin yang memicu rasa mengantuk dan lelah.

“Paparan matahari yang cukup akan memicu peningkatan zat melantonin pada malam hari yang mendorong rasa kantuk dan lelah. Tidur malam menjadi lebih lelap,” tutur Ketua Prodi Pendidikan Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa FKKMK UGM ini.

Baca Juga: Banjir Klaten, BNPB Imbau Warga Waspadai Curah Hujan Hingga Minggu

Hanya saja, sinar matahari menjadi persoalan bagi orang-orang yang tinggal di wilayah sub tropis atau memiliki empat musim. Mengingat sinar matahari menjadi hal langka di wilayah tersebut saat musim dingin. Kondisi ini menjadi tidak menyenangkan bagi orang dengan Seasonal Affective Disorder (SAD), yaitu gangguan suasana perasaan hati terkait musim yang banyak terjadi di negara dengan empat musim dan menguat saat musim dingin.

“Gangguan ini jarang terjadi di negara tropis,” ucap Ronny.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: berjemurmelantoninmoodserotoninsinar mataharisuasana hatiwilayah subtropiswilayah tropis

Editor

Next Post
Pusat gempa Magnitudo 5,6 mengguncang Aceh pada Sabtu, 5 Maret 2022, pukul 19.02 WIB. Foto tangkap layar Inatews.bmkg.go.id.

Gempa Aceh 5,6 Magnitudo, Daryono: Ciri Khas Gempa Megathrust

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi musim kemarau. Foto ThorstenF/pixabay.com.Tahun 2026: Kemarau Datang Lebih Cepat, El Nino Pertengahan Tahun, Agustus Puncak Kemarau
    In News
    Rabu, 4 Maret 2026
  • Ilustrasi hujan lebat. Foto Bru-nO/pixabay.com.BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis, Waspada Cuaca Ekstrem
    In News
    Selasa, 3 Maret 2026
  • Gempa bumi M 6,4 mengguncang Aceh dan Sumatra Utara, 3 Maret 2026. Foto BMKG.Aceh dan Sumut Diguncang Gempa Bumi Magnitudo 6,4
    In Bencana
    Selasa, 3 Maret 2026
  • Gerhana bulan total hari ini Kamis, 8 November 2022, dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia. Foto tangkap layar Twitter BMKG.Tanggal 3 Maret 2026, Puncak Gerhana Bulan Total Mulai Pukul 18.03 WIB
    In News
    Selasa, 3 Maret 2026
  • Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB UNiversity, Prof. Etty Riani. Foto CRPG Indonesia/youtube.Etty Riani, Yang Berpotensi Masuk Dalam Darah adalah Nanoplastik, Bukan Mikroplastik
    In Sosok
    Senin, 2 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media