Sobir menjelaskan pada semangka tanpa biji, tanaman tetua diploid dan tetraploid tetap diperbanyak secara alami. Sebab keduanya menghasilkan biji yang digunakan untuk memproduksi tanaman triploid.
Sementara berbagai tanaman buah tanpa biji lainnya diperbanyak secara vegetatif melalui sejumlah Teknik, seperti sambung pucuk (grafting), cangkok, atau kultur jaringan. Dengan demikian, ketiadaan biji pada buah yang dikonsumsi tidak berarti tanaman kehilangan kemampuan untuk diperbanyak.
Dari sisi konsumen, buah tanpa biji menawarkan kepraktisan karena lebih mudah dan lebih banyak bagian yang dapat dikonsumsi. Namun, menurut Sobir ada konsekuensi yang perlu diperhatikan, yaitu potensi penurunan cita rasa.
Proses penyerbukan dan fertilisasi berpengaruh terhadap pembentukan senyawa yang ditujukkan untuk melindungi embrio pada biji. Senyawa itu juga dapat memningkatkan rasa buah. Pada beberapa jenis buah, rasa buah tanpa biji belum tentu lebih baik dari buah yang berbiji.
Ia mencontohkan semangka tanpa biji kurang diminati di Jepang karena dinilai kalah dari segi rasa dibandingkan semangka berbiji.
Selain kualitas rasa, pengembangan buah tanpa biji juga perlu mempertimbangkan keberlanjutan keragaman genetik tanaman. Jika tanaman tanpa biji terlalu dominan, keragaman genetik dapat berkurang sehingga tanaman lebih rentan terhadap perubahan lingkungan maupun serangan hama dan penyakit.
“Sumber daya genetik, termasuk tanaman tetua, perlu terus dipertahankan melalui kebun koleksi dan program pemuliaan,” tambah dia.
Ke depan, inovasi tidak harus selalu berfokus pada menghilangkan biji. Pengembangan buah dengan biji yang lebih kecil atau terkonsentrasi pada bagian tertentu dapat menjadi alternatif sehingga buah tetap mudah dikonsumsi tanpa mengorbankan cita rasa maupun keberlanjutan reproduksi tanaman.
“Inovasi buah sebaiknya menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumen, kualitas produk, dan kelestarian sumber daya genetik tanaman,” kata Sobir. [WLC02]
Sumber: IPB University






Discussion about this post