Sabtu, 19 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Budidaya Buah Tanpa Biji Tetap secara Alami

Sumber daya genetik, termasuk tanaman tetua, perlu terus dipertahankan melalui kebun koleksi dan program pemuliaan.

Selasa, 4 Agustus 2026
A A
Ilustrasi semangka tanpa biji. Foto Congerdesign/Pixabay.com

Ilustrasi semangka tanpa biji. Foto Congerdesign/Pixabay.com

Share on FacebookShare on Twitter

Sobir menjelaskan pada semangka tanpa biji, tanaman tetua diploid dan tetraploid tetap diperbanyak secara alami. Sebab keduanya menghasilkan biji yang digunakan untuk memproduksi tanaman triploid.

Sementara berbagai tanaman buah tanpa biji lainnya diperbanyak secara vegetatif melalui sejumlah Teknik, seperti sambung pucuk (grafting), cangkok, atau kultur jaringan. Dengan demikian, ketiadaan biji pada buah yang dikonsumsi tidak berarti tanaman kehilangan kemampuan untuk diperbanyak.

Dari sisi konsumen, buah tanpa biji menawarkan kepraktisan karena lebih mudah dan lebih banyak bagian yang dapat dikonsumsi. Namun, menurut Sobir ada konsekuensi yang perlu diperhatikan, yaitu potensi penurunan cita rasa.

Proses penyerbukan dan fertilisasi berpengaruh terhadap pembentukan senyawa yang ditujukkan untuk melindungi embrio pada biji. Senyawa itu juga dapat memningkatkan rasa buah. Pada beberapa jenis buah, rasa buah tanpa biji belum tentu lebih baik dari buah yang berbiji.

Ia mencontohkan semangka tanpa biji kurang diminati di Jepang karena dinilai kalah dari segi rasa dibandingkan semangka berbiji.

Selain kualitas rasa, pengembangan buah tanpa biji juga perlu mempertimbangkan keberlanjutan keragaman genetik tanaman. Jika tanaman tanpa biji terlalu dominan, keragaman genetik dapat berkurang sehingga tanaman lebih rentan terhadap perubahan lingkungan maupun serangan hama dan penyakit.

“Sumber daya genetik, termasuk tanaman tetua, perlu terus dipertahankan melalui kebun koleksi dan program pemuliaan,” tambah dia.

Ke depan, inovasi tidak harus selalu berfokus pada menghilangkan biji. Pengembangan buah dengan biji yang lebih kecil atau terkonsentrasi pada bagian tertentu dapat menjadi alternatif sehingga buah tetap mudah dikonsumsi tanpa mengorbankan cita rasa maupun keberlanjutan reproduksi tanaman.

“Inovasi buah sebaiknya menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumen, kualitas produk, dan kelestarian sumber daya genetik tanaman,” kata Sobir. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Buah Tanpa BijiFakultas Pertanian IPB Universitypemuliaan tanaman

Editor

Next Post
Menteri LH M. Jumhur Hidayat dalam Pelatihan Sertifikasi Lingkungan Hidup bagi Hakim Peradilan Umum, Militer, dan Tata Usaha Negara Seluruh Indonesia Angkatan XXIII di Bogor, 3 Agustus 2026. Foto Dok. KLH/BPLH.

Menteri Jumhur: Putusan Pengadilan Harus Pulihkan Ekosistem dan Hentikan Perusakan Alam

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media