Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Catatan Masyarakat Sipil: KTT ASEAN 2023 Jadi Episentrum Krisis

September 2023 menjadi momentum gelaran KTT ASEAN di Jakarta dan KTT G20 di India yang menyisakan banyak catatan kritis dari sejumlah organisasi masyarakat sipil.

Selasa, 12 September 2023
A A
Kepala negara dan kepala pemerintahan negara-negara ASEAN dalam Pembukaan KTT ASEAN ke-43. Foto Zabur Karuru/gallery.asean2023.id

Kepala negara dan kepala pemerintahan negara-negara ASEAN dalam Pembukaan KTT ASEAN ke-43. Foto ZaburKaruru/ gallery.asean2023.id

Share on FacebookShare on Twitter

Proyek korporasi pangan (food estate) yang terbukti gagal dan menimbulkan berbagai persoalan sosial ekologis seperti deforestasi, perampasan lahan, dan pelanggaran HAM, terus dipaksakan. Selain juga kemudahan importasi pangan dan kegagalan negara memastikan hak atas pangan terpenuhi. Juga terdapat netralitas karbon yang berpotensi menjadi sarana greenwashing bagi negara maju dan korporasi untuk tetap melakukan ekstraksi sumber-sumber agraria.

Baca Juga: Kisah Heroik Perempuan Panglima Angkatan Laut Malahayati di Panggung Teater

Netralitas karbon dalam skema perdagangan karbon berpotensi merampas kedaulatan masyarakat lokal dan masyarakat adat atas kedaulatan wilayah mereka. Akselerasi ekosistem kendaraan listrik juga memiliki catatan hitam dalam rantai pasok hulu hilir komoditas mineral seperti nikel. Ada jutaan hektar alih fungsi kawasan hutan, ratusan sungai dan pesisir tercemar hingga ratusan desa lingkar tambang yang hancur lingkungan hidupnya.

Semua kemudahan perampasan tanah atas nama pembangunan difasilitasi berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan demi menciptakan iklim investasi sebaik mungkin. Sebut saja yang baru terjadi di Air Bangis, Pasaman Barat dan proyek Rempang Eco City di Batam, berbagai proyek infrastruktur dikebut dan dipaksakan dengan pengamanan aparat yang berlebihan. Anak dan perempuan menjadi korban terdepan dan tidak terhitung, baik di tataran rencana, implementasi dan dampak pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Lalu ambisi proyek 10 Bali Baru di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) di balik gegap gempita pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas Labuan Bajo. Kenyataannya semakin menyengsarakan rakyat dan mencerabut akar budaya, sosial dan ekonomi masyarakat. Selain pemaksaan proyek geothermal yang mengorbankan rakyat di Poco Leok, di Golo Mori, Manggarai Barat juga terjadi pembangunan yang menggusur tanpa partisipasi, tanpa ganti rugi, bahkan dilakukan dengan kekerasan, intimidasi dan kriminalisasi. Hingga rangkaian KTT ASEAN berakhir, belum ada tanggung jawab negara menyelesaikan berbagai persoalan ini.

Baca Juga: Suparto Wijoyo: Hukum Jadi Solusi Atasi Krisis Iklim

Ruang hidup rakyat hilang akibat pembangunan skala besar akan mendorong banyak perempuan memilih menjadi buruh migran. Isu buruh migran pun menjadi penting dalam ASEAN. Skema migrasi buruh melalui perekrutan langsung secara online kemudian disalahgunakan agen penempatan yang berujung pada tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Cengkraman aktor privat dan kegagalan negara ASEAN untuk membangun tata kelola migrasi di Asia Tenggara telah mereproduksi kerentanan perempuan buruh migran.

“Kami menuntut negara untuk menyudahi dan menghentikan berbagai praktik perampasan lahan,” demikian seruan masyarakat sipil. [WLC02]

Sumber: Jatam

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: bahan bakar fosilepicentrum of crisisfood estateJatamkrisis agrariaKSPNKTT ASEAN ke-43masyarakat sipil

Editor

Next Post
Dosen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, Dr. Haryono Budi Santosa. Foto ugm.ac.id.

Haryono Budi Santosa: Limbah Nuklir Fukushima Aman Dibuang ke Laut

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media