Rabu, 13 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Data Pensiun Dini PLTU Batu Bara Belum Ada, Kian Ancam Lingkungan dan Kesehatan

Hasil pemeriksaan medis tahun 2017-2018 menunjukkan peningkatan penyakit paru-paru penduduk yang tinggal di sekitar PLTU.

Jumat, 23 Agustus 2024
A A
Diskusi dan pemutaran film "Baradwipa" tentang dampak industri batu bara bagi lingkungan dan kesehatan. Foto Dok. SIEJ.

Diskusi dan pemutaran film "Baradwipa" tentang dampak industri batu bara bagi lingkungan dan kesehatan. Foto Dok. SIEJ.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Film “Baradwipa” yang diproduksi jejaring Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB) bersama Watchdoc menyoroti dampak nyata yang dialami masyarakat di Pulau Sumatera akibat pengembangan industri batu bara. Sekaligus menggarisbawahi betapa mendesaknya kebutuhan untuk beralih dari energi fosil.

“Kami melihat eskalasi kerusakan lingkungan terjadi lebih cepat dibandingkan dengan peningkatan kesadaran kita untuk menyelamatkannya. Percepatan kerusakan itu disebabkan aktivitas industri batu bara,” ujar Jaka HB dari Roehana Project dalam diskusi publik bertema “Tidak Ada Kemerdekaan di Udara Tercemar” yang digelar Roehana Project dan Trend Asia untuk memeringati 79 Tahun NKRI pada 19 Agustus 2024.

Juru Kampanye Trend Asia, Novita Indri menambahkan PLTU di seluruh Indonesia menjadi sumber polusi yang mengancam kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Dampaknya tidak hanya dirasakan lingkungan, melainkan juga generasi mendatang.

Baca Juga: Greenpeace, Revisi UU Pilkada Lumpuhkan Demokrasi dan Berdampak Pada Kebijakan Lingkungan

Koordinator Advokasi LBH Padang, Diki Rafiqi menyorot PLTU Sawahlunto di Sumatera Barat yang merupakan salah satu lokasi terdampak, meskipun skala kerusakan mungkin tidak besar. Namun dampaknya sangat signifikan bagi masyarakat. Pertambangan batu bara di sana menyebabkan masalah kesehatan, khususnya terkait pernapasan.

“Hasil pemeriksaan medis tahun 2017-2018 menunjukkan peningkatan penyakit paru-paru penduduk yang tinggal di sekitar PLTU,” kata dia.

Ada urgensi besar untuk penanganan masalah kesehatan terkait dengan aktivitas PLTU di Sawahlunto. Pencemaran udara akibat asap dan debu PLTU yang beroperasi di Sumatera berdampak besar terhadap masyarakat, seperti tingginya angka ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

Baca Juga: Pengunjung Bisa Melihat Objek Langit Siang Hari di Observatorium Bosscha

Akibatnya, terjadi perubahan ekonomi lantaran nelayan yang melaut semakin jauh, sehingga ada pengeluaran lebih untuk melaut ditambah pengobatan penyakit pernapasan.

Sementara jurnalis menghadapi banyak persoalan untuk memberitakan polemik yang dihadapi masyarakat, seperti dampak kehadiran PLTU batu bara terhadap kerusakan lingkungan.

“Tak banyak jurnalis yang mendapatkan dukungan dari redaksi untuk meliput masalah lingkungan. Padahal, peran media sangat penting dalam mengungkap fakta-fakta terkait dampak energi kotor,” kata Novia.

Baca Juga: Sedia Payung, Sebagian Wilayah Indonesia Diguyur Hujan Sepekan

Diskusi publik tersebut merupakan bagian dari serangkaian kegiatan kampanye “Merdeka dari Batu Bara” yang bertujuan untuk mengingatkan tak ada kemerdekaan di udara yang tercemar. Pada 18 Agustus 2024, Roehana Project dan Trend Asia mengibarkan banner yang menyoroti dampak buruk aktivitas PLTU batu bara di Sumatera Barat.

Mulai dari PLTU Teluk Sirih yang secara administratif merupakan bagian dari Kota Padang sebagai sumber pembangkit listrik yang menggunakan batu bara. Kemudian Pantai Air Manis yang terkait dengan legenda terkenal Malin Kundang dan kedurhakaannya pada orang tua, terakhir landmark Kota Padang sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Barat. Penggunaan batu bara untuk PLTU turut menyumbang racun di udara yang dihirup masyarakat. Sumatera Barat sendiri memiliki masalah dengan batu bara dan memiliki dua PLTU yang menggunakan batu bara, yakni Ombilin dan Teluk Sirih.

“Apakah kita sudah benar-benar merdeka? Kalau kita sudah merdeka mengapa kita masih menghirup udara kotor yang akan merusak paru-paru kita sendiri?” tanya Jaka.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Energi fosilindustri batu barapensiun dini PLTUPLTU batu baraSIEJ

Editor

Next Post
Peta potensi tsunami dari dampak skenario gempa megathrust pantai selatan Jawa. Foto @widjokongko/twitter

Pakar UGM dan Anggota DPR Dorong Mitigasi Gempa Megathrust

Discussion about this post

TERKINI

  • Mengapati dan mendokumentasikan letusan Gunung Sakurajima di Jepang pada 2013 dari jauh. Foto Dok. Mirzam Abdurrachman.Erupsi Dukono, Pentingnya Pemahaman Risiko dan Peringatan Dini yang Mudah Dipahami
    In Rehat
    Selasa, 12 Mei 2026
  • Salah satu jenis anggrek Merapi. Foto Dok. TNG Merapi.Anggrek Merapi, Beraroma Wangi dan Mampu Bertahan Saat Erupsi
    In Rehat
    Selasa, 12 Mei 2026
  • Ilustrasi ,krisis air bersih. Foto Andres_maura_ph/Pixabay.com.Pemerintah Harus Antisipasi Krisis Sampah dan Air Bersih Dampak Godzilla El Niño 2026
    In Lingkungan
    Senin, 11 Mei 2026
  • Ilustrasi tikus pembawa virus. Foto Sipa/Pixabay.com.Mengenal Virus Hanta Tipe HFRS di Indonesia dan Tipe HPS di Kapal Pesiar
    In Rehat
    Senin, 11 Mei 2026
  • Tim SAR gabungan membawa kantong jenazah korban erupsi gunung api Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, 10 Mei 2026. Foto Basarnas.Pendakian Gunung Dukono Ditutup April 2026, Tiga Pendaki Tewas Mei 2026
    In Traveling
    Minggu, 10 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media