Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Deendarlianto, Kembangkan Penelitian Produk Hidrogen Hijau

Riset energi hidrogen di Indonesia belum banyak dikembangkan. Padahal di negara maju, riset dan aplikasi pemanfaatan energi hidrogen sudah sejak lama diterapkan.

Sabtu, 14 September 2024
A A
Guru Besar FT UGM, Prof. Deendarlianto. Foto UGM.

Guru Besar FT UGM, Prof. Deendarlianto. Foto UGM.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Hidrogen berpotensi menjadi bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil. Sebab energi yang dihasilkan bisa sangat besar tanpa menghasilkan jejak karbon atau limbah lingkungan.

“Hidrogen bisa menjadi pengganti bahan bakar pengganti bahan bakar di berbagai sektor, contohnya seperti sektor transportasi dan pembangkit listrik,” kata Peneliti hidrogen dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Deendarlianto saat ditemui di Laboratorium Mekanika Fluida FT UGM, Jumat, 13 September 2024.

Apalagi, seluruh negara Tengah berkomitmen untuk mendorong penggunaan energi baru dan terbarukan di tengah keterbatasan sumber energi minyak dan gas bumi. Apalagi bahan bakar fosil merupakan pemasok terbesar terhadap jejak karbon serta pencemaran lingkungan.

Baca Juga: Indonesia Rentan Perubahan Iklim, Pemerintah Masih Gunakan Batu Bara

Namun riset energi hidrogen di Indonesia belum banyak dikembangkan. Padahal di negara maju seperti di Amerika dan Eropa, riset dan aplikasi pemanfaatan energi hidrogen sudah sejak lama diterapkan.

Deen, demikian sapaan akrabnya menyampaikan bahwa penelitian terkait hidrogen yang dilakukannya bersama tim merupakan sebuah proyek kolaborasi yang dibiayai pemerintah serta beberapa pihak dari industri seperti PLN dan Pertamina. Proyek ini juga diikuti berbagai universitas dalammaupun luar negeri, seperti UI, ITS, NTU, serta universitas Groningen dari Belanda.

Dalam proyek kolaborasi ini, fokus utama dari penelitian adalah produksi green hydrogen yang merupakan jenis hidrogen yang diproduksi dengan cara ramah lingkungan.

Baca Juga: IKN Mereplikasi Konsep Rehabilitasi Lahan Kritis Hutan Wanagama di Gunungkidul

“Kami juga tengah memimpin program riset terkait metode penyimpanan dari hidrogen itu sendiri,” kata Deen.

Meski baru dalam tahap riset dan pengembangan, riset ini sudah menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Namun salah satu tantangan terbesar yang tim hadapi terkait penyimpanan hidrogen yang bisa dipastikan tidak boleh bocor atau keluar. Sebab jika hidrogen bertemu oksigen, maka dapat menimbulkan kerusakan yang tidak diinginkan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: bahan bakar alternatifbahan bakar fosilFT UGMgreen hydrogenjejak karbonmetode penyimpanan hidrogen

Editor

Next Post
Potret pencemaran plastik di salah satu sungai di Indonesia. Foto dok. Tim Ekspedisi Sungai Nusantara.

Sampah Plastik dari Indonesia Berlayar Sampai Afrika

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi rumah adat Sumatra Barat. Foto IndrabinYusuf/pixabay.com.Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam 
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi makanan daging. Foto johnstocker/freepik.com.Diet Karnivora Tidak Aman, Ini Risikonya
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi kelelawar di pepohonan. Foto ignartonosbg/pixabay.com.Pakar Ingatkan, Virus Nipah Berpotensi Menular Antarmanusia
    In Rehat
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, 6 Februari 2026. Foto BPBD Tegal.Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Dua Ribu Lebih Warga Mengungsi
    In Bencana
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.Dampak Cuaca Ekstrem, Suhu, Banjir dan Longsor Meningkat 16 Tahun Terakhir
    In News
    Jumat, 6 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media