Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Sampah Plastik dari Indonesia Berlayar Sampai Afrika

Selama enam tahun dari 2018-2023, Indonesia telah kehilangan Rp2000 triliun akibat sampah plastik.

Sabtu, 14 September 2024
A A
Potret pencemaran plastik di salah satu sungai di Indonesia. Foto dok. Tim Ekspedisi Sungai Nusantara.

Potret pencemaran plastik di salah satu sungai di Indonesia. Foto dok. Tim Ekspedisi Sungai Nusantara.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova menyatakan, potensi kerugian negara akibat kebocoran sampah plastik ke laut mencapai antara Rp125 triliun hingga Rp225 triliun per tahun.

Target pemerintah Indonesia dalam menurunkan kebocoran sampah plastik dari aktivitas masyarakat sebesar 70 persen pada 2025. Faktanya, perhitungan tahun ini baru mencapai 41,68 persen.

“Setelah kami hitung dari 2018 sampai 2023 secara kasar, rata-rata sekitar 484 ribu ton per tahun (sampah plastik) yang bocor ke lautan dunia dari kegiatan masyarakat kita,” kata Reza dalam Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk Kebocoran “Sampah Plastik ke Laut Indonesia dan Strategi Penanganannya” di Gedung B.J Habibie, Jakarta, Rabu, 11 September 2024.

Baca Juga: Deendarlianto, Kembangkan Penelitian Produk Hidrogen Hijau

Dengan demikian, selama enam tahun, Indonesia telah kehilangan Rp2000 triliun akibat sampah plastik. Estimasi kerugian tersebut dilihat dari kerugian secara ekonomi, pariwisata, kesehatan, hingga dari sisi teknis.

BRIN tengah melakukan penelitian dengan memanfaatkan kecerdasan buatan dalam mendeteksi jenis sampah plastik. Termasuk, melibatkan akademisi dari berbagai multidisiplin ilmu.

“Karena kalau bicara sampah plastik, ketika terkena sinar matahari, angin, dan lain-lain akan jadi mikroplastik. Semakin kecil ukuran plastik, semakin mudah pula masuk ke dalam tubuh kita,” terang dia.

Baca Juga: Indonesia Rentan Perubahan Iklim, Pemerintah Masih Gunakan Batu Bara

Upaya lainnya adalah perlu dilakukan proses bioremediasi yang membutuhkan waktu panjang. Yakni mencari mikroba yang paling tepat untuk bisa ‘memakan’ sampah plastik itu.

Reza juga menyoroti komitmen politis pimpinan daerah dalam menyediakan anggaran untuk pengelolaan sampah.  Anggaran pengelolaan sampah disebut optimal apabila mencapai 3 hingga empat persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Tapi yang terjadi saat ini, baru mencapai 0,07 persen.

“Satu persen saja enggak sampai, Itu satu problematika besar,” ucap dia.

Baca Juga: IKN Mereplikasi Konsep Rehabilitasi Lahan Kritis Hutan Wanagama di Gunungkidul

Sampah plastik Indonesia sampai ke Afrika

Sampah plastik yang mencemari lautan dapat melewati lintas samudera, mulai dari keluar di Samudera Hindia, sampai masuk ke Samudera Pasifik. Reza menambahkan, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, sampah plastik yang berasal dari kegiatan masyarakat Indonesia dapat menuju ke Afrika Selatan.

“Walaupun tidak secara keseluruhan, sekitar 10 hingga 20 persennya akan langsung menuju Afrika Selatan,” kata Reza.

Pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi melakukan penelitian pergerakan sampah di perairan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRINproses bioremediasisampah plastikSamudera HindiaSistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional

Editor

Next Post
Guru Besar FTI ITB, Prof. Made Tri Ari Penia Kresnowati. Foto ITB.

Made Tri Ari Penia, Potensi Biomassa Indonesia dari Kakao, Singkong dan TKS

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media