Jumat, 29 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Didik S. Setyadi: Akar Masalah Konflik Rusia-Ukraina adalah Soal Minyak

Minyak disebut sebagai akar masalah dari perang Rusia-Ukraina. Mengingat Rusia adalah salah satu produsen minyak mentah terbesar dunia.

Senin, 7 Maret 2022
A A
Didik S. Setyadi. Foto unair.ac.id.

Didik S. Setyadi. Foto unair.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Perang Rusia-Ukraina mengakibatkan harga minyak mentah dunia terus menguat. Mengingat Rusia merupakan negara produsen minyak terbesar ketiga di dunia. Selain minyak, Rusia juga negara produsen terbesar gas bumi.

“Jadi akar permasalahan konflik Rusia-Ukraina adalah minyak,” kata pengamat sosial dan politik yang sekarang bekerja di Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Doktor Didik S. Setyadi sebagaimana dilansir dari laman unair.ac.id, Ahad, 6 Maret 2022. Dia menyampaikan dalam diskusi bertema Konflik Rusia-Ukraina dalam Perspektif Hukum Internasional  yang digelar Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Airlangga (IKA FH Unair).

Saat Rusia masih menjadi Uni Soviet, harga minyak mentah pernah mengalami krisis pada tahun 1986. Keterpurukan ekonomi Uni Soviet diakibatkan oleh harga minyak yang mengalami penurunan drastis. Akibatnya, Uni Soviet mengalami kolaps dan akhirnya bubar.

Baca Juga: BRIN dan BMKG Rancang Regenerasi Sistem Peringatan Dini Tsunami

“Dalam industri migas (minyak dan gas bumi) sendiri, ketika harga minyak turun, otomatis pengeboran lapangan minyak yang semula banyak dikembangkan di Siberia, saat itu harus dihentikan,” papar alumni Fakultas Hukum Unair Angkatan 1986 ini.

Kekuatan negara-negara di dunia bisa diukur dari angka konsumsi energi setiap negara. Semakin tinggi konsumsi energi di suatu negara, maka negara tersebut sedang mengalami pertumbuhan ekonomi.

Energi yang dimaksud adalah kebutuhan akan migas. Jika kebutuhan akan migas tidak terpenuhi, maka akan sulit bagi negara tersebut untuk berkembang. Situasi ini sedang terjadi di Ukraina dan benua Eropa.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: konflik Rusia-Ukrainaminyak mentahperang Rusia-Ukrainaprodusen minyakUni Soviet

Editor

Next Post
Sesar baru yang diidentifikasi BMKG. Foto bmkg.go.id.

BMKG Identifikasi Sesar Baru Pascagempa Pasaman Barat

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media