Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

DPR Sahkan RKUHP Sebelum Reses, YLBHI: Semua Bisa Kena Kriminalisasi

Minggu, 27 November 2022
A A
Aksi spanduk memprotes rencana pengesahan RKUHP di acara car free day di Jakarta, 27 November 2022. Foto Istimewa

Aksi spanduk memprotes rencana pengesahan RKUHP di acara car free day di Jakarta, 27 November 2022. Foto Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Seiring persetujuan pengesahan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) di tingkat I oleh Komisi III DPR pada 24 November 2022, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan 18 LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Kantor menilai RKUHP yang akan disahkan DPR dalam sidang paripurna disusun berdasarkan paradigma hukum yang menindas serta diskriminatif. Apabila dipaksakan untuk disahkan, paradigma hukum semacam itu akan memunculkan satu masalah besar, yakni ancaman over-kriminalisasi kepada rakyat.

“Simpulan tersebut tercermin dari muatan-muatan pasal anti demokrasi yang masih dipaksakan,” kata Direktur YLBH, Muhammad Isnur dalam siaran pers yang diterima Wanaloka.com, 24 November 2022.

Persoalan serius yang menjadi sorotan utama adalah RKUHP dapat menjadi instrumen yang mengancam demokrasi dan kebebasan sipil. Pasal mengenai ancaman pidana terhadap penghinaan Presiden dan Wakil Presiden (Pasal 218 sampai Pasal 220), pasal penghinaan terhadap pemerintahan yang sah, pasal penghinaan terhadap kekuasaan umum dan lembaga negara (Pasal 349 sampai Pasal 351), pasal mengenai pencemaran nama baik, hingga pasal ancaman pidana kepada penyelenggaraan aksi demonstrasi yang tidak didahului dengan pemberitahuan (Pasal 256).

Baca Juga: Gempa Cianjur, BNPB Salurkan Logistik ke Daerah Sulit Dijangkau

Pasal-pasal itu dinilai menjadi contoh konkrit ancaman untuk menghantam suara-suara kritis rakyat terhadap penyelenggaraan Negara yang ditujukan kepada penguasa. Bahkan pasal-pasal tersebut berpotensi digunakan serampangan, mengingat rendahnya etika pejabat negara saat ini.

“Terutama, karena lebih sering memprioritaskan kepentingan oligarki, ketimbang kepentingan publik,” ucap Isnur.

Bagi YLBHI dan 18 LBH kantor, pemaksaan pasal-pasal anti demokrasi tersebut bertentangan dengan tujuan politik-hukum pemidanaan yang ditetapkan. Pemerintah dan DPR beragumentasi, bahwa RKUHP hadir untuk mendekolonialisasi KUHP yang merupakan warisan kolonial. Hal itu terbantahkan dengan sendirinya karena sifat kolonial justru berasal dari pasal-pasal yang anti demokrasi dan masih diakomodir oleh penguasa.

Baca Juga: Analisis Pakar, Perlu Peta Jalur Gempa untuk Hidup Harmonis dengan Gempa

“Jauh panggang dari api. Sah kami menyebut RKUHP sebagai produk hukum yang linear dengan politik-hukum pemerintahan kolonial di masa lampau. Alih-alih mendekolonialisasi, RKUHP justru merekolonialisasi politik hukum pemidanaan Indonesia,” papar Isnur.

YLBHI dan 18 LBH juga menganggap produk hukum tersebut diskriminatif karena subjek pengaturan pidana hanya ditujukan kepada rakyat dengan segala ketentuan batasan dan larangan-larangannya. Ancaman over-kriminalisasi yang terkandung dalam RKUHP menyebabkan #SemuaBisaKena.

Masyarakat sipil juga dipertontonkan dengan sikap anti demokrasi oleh wakil rakyat. Respon Ketua Komisi III DPR, Bambang Wuryanto kepada Aliansi Reformasi KUHP saat forum Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) menunjukkan DPR memilih menutup mata dan telinga terhadap banyaknya kritik dan masukan dari masyarakat.

Baca Juga: Analisis Pakar, Ini Penyebab Gempa Cianjur Terasa Dahsyat hingga Jakarta

Upaya kejar target DPR untuk mensahkan menunjukkan rendahnya etika pejabat publik. Ini menegaskan indikasi RKUHP berpotensi digunakan secara serampangan karena buruknya budaya hukum pejabat publik. Kondisi itu juga dinilai makin membuat terang, bahwa tidak ada keberpihakan wakil-wakil rakyat kepada rakyat sebagai pemilik kedaulatan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Aliansi Reformasi Hukumanti demokrasiDPRLBHover kriminalisasipasal krusialRapat Dengan Pendapat UmumRKUHPSemua Bisa KenaYLBHI

Editor

Next Post
Masyarakat membentangkan spanduk berisi pasal-pasal RKUHP yang ditengarai berbahaya bagi publik. Foto Istimewa

Aksi Spanduk Saat Car Free Day, Ini Pasal-pasal RKUHP yang Dinilai Berbahaya

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media