Sabtu, 6 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Etty Riani, Sampah Muara Angke Ancam Ekosistem Mangrove

Sampah plastik yang bersifat kedap dapat menutupi pneumatofor atau akar napas mangrove sehingga menghambat pertukaran oksigen.

Sabtu, 6 Juni 2026
A A
Pakar Pencemaran dan Toksikologi IPB University, Prof. Etty Riani. Foto Dok. Harita.

Pakar Pencemaran dan Toksikologi IPB University, Prof. Etty Riani. Foto Dok. Harita.

Share on FacebookShare on Twitter

Mikroplastik dan nanoplastik sangat berisiko masuk ke rantai makanan. Organisme penyaring seperti kerang dan tiram rentan mengakumulasi partikel tersebut dalam jumlah signifikan. Mikroplastik juga dapat menjadi media pembawa logam berat, unsur radioaktif, dan senyawa organik persisten yang berbahaya bagi ekosistem.

Etty menjelaskan persoalan sampah di Muara Angke tidak dapat dipisahkan dari kondisi daerah aliran sungai (DAS) yang bermuara ke Teluk Jakarta. Sampah yang menumpuk di kawasan tersebut tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai wilayah hulu.

Solusi harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir. Edukasi masyarakat perlu dilakukan secara konsisten. Disertai penguatan sistem pengelolaan sampah, pengawasan lintas daerah, pengurangan plastik sekali pakai, pengembangan bank sampah, TPS 3R, Material Recovery Facility (MRF), daur ulang, RDF, hingga waste to energy yang memenuhi standar lingkungan.

“Solusi paling penting adalah menghentikan aliran sampah dari sungai ke laut. Jika sumber tidak dihentikan, pembersihan di Muara Angke hanya akan bersifat sementara,” tegas dia.

Pemulihan ekosistem mangrove membutuhkan waktu panjang. Bahkan bisa mencapai lebih dari 10 tahun untuk mengembalikan fungsi ekologisnya secara penuh. Pengelolaan terpadu terhadap perilaku masyarakat dan sampah yang dihasilkan menjadi kunci utama penyelesaian masalah secara berkelanjutan. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Ekosistem mangroveFPIK IPB UniversityMuara AngkeProf. Etty RianiTPS 3R

Editor

Discussion about this post

TERKINI

  • Pakar Pencemaran dan Toksikologi IPB University, Prof. Etty Riani. Foto Dok. Harita.Etty Riani, Sampah Muara Angke Ancam Ekosistem Mangrove
    In Sosok
    Sabtu, 6 Juni 2026
  • Tanggul laut raksasa di pantai utara Jakarta. Foto SDA PU.Menteri Jumhur: Giant Sea Wall Bukan Solusi Tunggal Rob Pantura, Penanaman Air Solusi Tanah Amblas
    In Lingkungan
    Sabtu, 6 Juni 2026
  • Beberapa pulau-pulau kecil di Raja Ampat, Papua Barat Daya tampak gundul akibat penambangan nikel. Foto Dok. AMAN.Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pembangunan Ekstraktif di Papua Sumbang 70 Persen Deforestasi Nasional
    In Lingkungan
    Jumat, 5 Juni 2026
  • Rakor kesiapsiagaan menghadapi kemaru 2026 di Jawa Barat. Foto Dok. BMKG.Antisipasi Kekeringan 2026, TNI AD Pilih Lakukan Pengeboran Sumur
    In News
    Jumat, 5 Juni 2026
  • Ilustrasi bandara antariksa. Foto www.gov.u.LBH Papua Kecam Rencana Pengukuran Lokasi Bandar Antariksa di Biak Numfor
    In News
    Kamis, 4 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media