Kamis, 22 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Etty Riani, Sampah Muara Angke Ancam Ekosistem Mangrove

Sampah plastik yang bersifat kedap dapat menutupi pneumatofor atau akar napas mangrove sehingga menghambat pertukaran oksigen.

Sabtu, 6 Juni 2026
A A
Pakar Pencemaran dan Toksikologi IPB University, Prof. Etty Riani. Foto Dok. Harita.

Pakar Pencemaran dan Toksikologi IPB University, Prof. Etty Riani. Foto Dok. Harita.

Share on FacebookShare on Twitter

Mikroplastik dan nanoplastik sangat berisiko masuk ke rantai makanan. Organisme penyaring seperti kerang dan tiram rentan mengakumulasi partikel tersebut dalam jumlah signifikan. Mikroplastik juga dapat menjadi media pembawa logam berat, unsur radioaktif, dan senyawa organik persisten yang berbahaya bagi ekosistem.

Etty menjelaskan persoalan sampah di Muara Angke tidak dapat dipisahkan dari kondisi daerah aliran sungai (DAS) yang bermuara ke Teluk Jakarta. Sampah yang menumpuk di kawasan tersebut tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai wilayah hulu.

Solusi harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir. Edukasi masyarakat perlu dilakukan secara konsisten. Disertai penguatan sistem pengelolaan sampah, pengawasan lintas daerah, pengurangan plastik sekali pakai, pengembangan bank sampah, TPS 3R, Material Recovery Facility (MRF), daur ulang, RDF, hingga waste to energy yang memenuhi standar lingkungan.

“Solusi paling penting adalah menghentikan aliran sampah dari sungai ke laut. Jika sumber tidak dihentikan, pembersihan di Muara Angke hanya akan bersifat sementara,” tegas dia.

Pemulihan ekosistem mangrove membutuhkan waktu panjang. Bahkan bisa mencapai lebih dari 10 tahun untuk mengembalikan fungsi ekologisnya secara penuh. Pengelolaan terpadu terhadap perilaku masyarakat dan sampah yang dihasilkan menjadi kunci utama penyelesaian masalah secara berkelanjutan. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Ekosistem mangroveFPIK IPB UniversityMuara AngkeProf. Etty RianiTPS 3R

Editor

Next Post
Bencana Sumatra. Foto Walhi.

Krisis Lingkungan yang Dibuat Rezim Saat Ini Dibayar Mahal Generasi Mendatang

Discussion about this post

TERKINI

  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
  • Gedung KPK | kpk.go.id.OTT KPK di BNPB, Kepala BNPB Langsung Diganti
    In News
    Kamis, 15 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media