Mikroplastik dan nanoplastik sangat berisiko masuk ke rantai makanan. Organisme penyaring seperti kerang dan tiram rentan mengakumulasi partikel tersebut dalam jumlah signifikan. Mikroplastik juga dapat menjadi media pembawa logam berat, unsur radioaktif, dan senyawa organik persisten yang berbahaya bagi ekosistem.
Etty menjelaskan persoalan sampah di Muara Angke tidak dapat dipisahkan dari kondisi daerah aliran sungai (DAS) yang bermuara ke Teluk Jakarta. Sampah yang menumpuk di kawasan tersebut tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai wilayah hulu.
Solusi harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir. Edukasi masyarakat perlu dilakukan secara konsisten. Disertai penguatan sistem pengelolaan sampah, pengawasan lintas daerah, pengurangan plastik sekali pakai, pengembangan bank sampah, TPS 3R, Material Recovery Facility (MRF), daur ulang, RDF, hingga waste to energy yang memenuhi standar lingkungan.
“Solusi paling penting adalah menghentikan aliran sampah dari sungai ke laut. Jika sumber tidak dihentikan, pembersihan di Muara Angke hanya akan bersifat sementara,” tegas dia.
Pemulihan ekosistem mangrove membutuhkan waktu panjang. Bahkan bisa mencapai lebih dari 10 tahun untuk mengembalikan fungsi ekologisnya secara penuh. Pengelolaan terpadu terhadap perilaku masyarakat dan sampah yang dihasilkan menjadi kunci utama penyelesaian masalah secara berkelanjutan. [WLC02]
Sumber: IPB University






Discussion about this post