Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Gamahumat, Ekstraksi Batu Bara Kalori Rendah untuk Soil Stabilizer

Penggunaan 15 persen Gamahumat dapat mengurangi pupuk 15-20 persen dari takaran normal.

Kamis, 31 Oktober 2024
A A
Inovasi hasil ekstraksi batu bara berkalori rendah menjadi Gamahumat. Foto Dok. UGM.

Inovasi hasil ekstraksi batu bara berkalori rendah menjadi Gamahumat. Foto Dok. UGM.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Batu bara kalori rendah yang tidak dapat digunakan menjadi feed coal pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dapat diinovasi menjadi Gamahumat. Gamahumat adalah senyawa humat berupa asam humat dan asam fulvat yang berasal dari ekstraksi batu bara dengan kalori rendah.

Produk inovasi tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) ini berfungsi sebagai pembenah tanah (soil stabilizer) yang bernilai tinggi. Produk pembenah tanah yang dikembangkan Guru Besar Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM, Prof. Ferian Anggara ini diklaim mampu menjadi pendamping pupuk sehingga proporsi penggunaan pupuk dapat dikurangi.

Ia mencontohkan, dalam demplot padi yang diujicobakan di kawasan persawahan Bimomartani cukup menggunakan 15 persen NPK dan urea dari jumlah yang seharusnya. Sebanyak 15 persen Gamahumat memiliki andil 80 persen menghasilkan panen seperti full NPK-urea sehingga pupuk bisa dikurangi menjadi 15-20 persen dari takaran normal.

Baca Juga: Kisah Para Penjaga Gunung Api Jelang Erupsi hingga Banjir Pascaerupsi

“Hasil panen dapat mendekati layaknya produktivitas padi yang sepenuhnya menggunakan NPK dan urea,” kata Ferian kepada wartawan, Rabu, 30 Oktober 2024.

Ferian mengungkapkan Indonesia mempunyai sumber daya batu bara kalori rendah mencapai 30 persen. Untuk menjamin ketersediaan bahan baku, ia menggandeng PT. Bukit Asam yang memiliki batu bara peringkat rendah dan teruji untuk memproduksi Gamahumat.

Kerjasama ini telah terjalin sejak 2018 dengan pemberian research funding. Pada tahun 2023, PT. Bukit Asam memberi dana padanan dalam skema matching fund Kedaireka untuk melakukan analisis laboratorium guna mendapat proses ekstraksi yang paling optimal dan membuat prototipenya.

Baca Juga: Rangkong Badak, Baning Cokelat dan Lutung Dilepasliarkan ke Habitatnya

“Saat ini, alat tersebut mampu memproduksi 20 liter senyawa humat basah per hari dari 5 kilogram batu bara umpan,” kata Ketua Tim Peneliti Gamahumat ini.

Ia mengaku tengah melakukan penelitian Gamahumat ke level pilot project. Rencananya, tahun ini pihaknya akan melakukan fabrikasi alat di Jogja. Kemudian, tahun 2025 akan dioperasikan di Peranap, Riau, tepatnya di lokasi Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Bukit Asam yang mempunyai cadangan batu bara mencapai 600 juta ton.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: batu baraGamahumatJurusan Teknik Geologi UGMpembenah tanahProf. Ferian Anggarasoil stabilizer

Editor

Next Post
Aksi Bersih Sungai di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cipinang, Jumat, 1 November 2024. Foto PPID KLHK.

Setengah dari 8000 Ton Sampah per Hari di Jakarta Berupa Sisa Makanan

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media