Selasa, 9 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Gerakan Global Climate Srike: Waktu Kian Sempit, Bumi Serukan Darurat Iklim

Kerusakan permanen yang dialami bumi seisinya akibat krisis iklim tampak di depan mata. Saatnya menyalakan sirine darurat iklim mengingat waktu tak lagi panjang.

Jumat, 25 Maret 2022
A A
Aksi mural darurat iklim di Yogyakarta. Foto Dok. Climate Jogja Strike.

Aksi mural darurat iklim di Yogyakarta. Foto Dok. Climate Jogja Strike.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tanggal 25 Maret 2022, anak muda di seluruh dunia, termasuk lebih dari 20 kota di Indonesia menyerukan darurat iklim dalam gerakan Global Climate Strike. Gerakan global menuntut “Keselamatan Manusia, Bukan Keuntungan Segelintir” mengingat waktu kian sempit, sehingga kebijakan untuk menurunkan emisi dibutuhkan sekarang. Ilmu pengetahuan pun sudah sangat jelas membuktikan, bahwa bumi seisinya sedang berada di tengah kerusakan permanen akibat krisis iklim. Bahkan Laporan IPCC baru-baru ini menyatakan Kode Merah untuk kondisi bumi yang parah. Deklarasi darurat iklim sangat penting dilakukan sekarang.

Tahun ini, Indonesia menjadi sorotan dunia dengan kepemimpinan G20. Krisis iklim yang sedang dirasakan saat ini harus segera ditangani oleh seluruh pemimpin negara-negara di dunia. Kepemimpinan Indonesia dalam G20 dituntut untuk bisa menjadi contoh nyata negara berkembang yang berani melakukan transisi energi yang adil dan berkelanjutan. Selain itu, serius menurunkan emisi dengan baseline (garis dasar) yang jelas dari berbagai sumber yang memperparah iklim. Kesulitan pendanaan dan alih transformasi teknologi didorong bersama negara-negara maju untuk membuat semuanya lebih cepat dan suhu bumi tetap di 1,5 derajat Celcius.

 Baca Juga: IPCC: Krisis Iklim Memakan Korban Jiwa, Perbankan Harus Hentikan Pendanaan Batu Bara

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Laporan dari panel peneliti PBB soal iklim (IPCC) Working Group 2 terbaru mengemukakan, bahwa dunia tengah menghadapi konsekuensi nyata dari krisis iklim. Berupa pengorbanan banyak jiwa, kehancuran produksi pangan, kehancuran alam, dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan siaran pers yang diterima Wanaloka.com, Jumat, 25 Maret 2022, tiga anak muda yang mewakili gerakan aksi darurat iklim menyampaikan pernyataan:

Koordinator Aksi Jakarta, Ben Barka:

“Pada saat pemerintah dunia tengah berlomba-lomba berkomitmen untuk merencanakan transisi energi secara serius, Pemerintah Indonesia justru menjual hutan, lahan, dan sumber daya alam maupun manusianya kepada oligarki pemilik industri ekstraktif atas nama investasi. Pada saat produksi listrik sudah berlebih, pemerintah terus merencanakan PLTU baru.

Aksi mural darurat iklim di Yogyakarta. Foto Dok. Climate Jogja Strike.
Aksi mural darurat iklim di Yogyakarta. Foto Dok. Climate Jogja Strike.

Pada saat kita ingin mengubah gaya hidup mobilitas yang ramah lingkungan dengan mengedepankan prinsip berkelanjutan, pemerintah justru mensubsidi harga mobil berbahan bakar fosil. Bahkan, pada saat kami generasi muda tengah berusaha saling membantu membangkitkan perekonomian bersama, pemerintah sibuk merencanakan Ibukota baru yang sampai hari ini masih menjadi ambisi kosong karena belum ada investor pasti dalam mega proyek tersebut.

Baca Juga: Peringati Hari Meteorologi Sedunia, Sekjen PBB Sebut Ulah Manusia Dampak Iklim Semakin Buruk

Generasi muda sudah cukup menjadi penonton. Kami menolak untuk tunduk terhadap berbagai ketidakbijakan bagi bangsa dan masa depan kami. Kami menuntut adanya perubahan sistemik atau systemic change karena sistem yang berjalan saat ini sudah hancur dan harus ditinggalkan. Apabila sistem yang rusak ini dibiarkan terus-menerus, maka bencana yang terjadi akibat krisis iklim akan semakin parah, dan bahkan tidak dapat dicegah lagi.

Mimpi “Indonesia Emas 2045” akan menjadi mimpi di siang bolong karena Indonesia akan punah pada tahun 2045 apabila pemerintah tidak mengambil perubahan secara signifikan dan tetap melakukan business as usual. Maka, kami mendesak pemerintah untuk mendeklarasikan darurat iklim segera, agar kebijakan-kebijakan yang dihasilkan merupakan kebijakan pro-iklim serta menjunjung keadilan ekologis demi masa depan umat manusia. Generasi mana yang pemerintah bangun saat ini?“

Koordinator Aksi Papua dan Komunitas Trada Sampah Jayapura, Dina Maria:

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Darurat iklimemisiG20Global Climate SrikeIPCCKrisis Iklimmitigasitransisi energi

Editor

Next Post
Ilustrasi kopi. Foto Wanaloka.com.

Sukses Invensi Mesin Sangrai Kopi, BRIN Lirik Teknologi Fermentasi ‘Mutiara Hitam’

Discussion about this post

TERKINI

  • Kerusakan Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) dan rumah warga akibat terdampak gempa bumi M7,8, 8 Juni 2026. Foto BPBD Provinsi Sulawesi Utara.Susulan Gempa Davao hingga Magnitudo 6,7, Puluhan Bangunan di Sulawesi Utara Rusak
    In Bencana
    Senin, 8 Juni 2026
  • Kenaikan air laut di Pantai General Santos di Cotabato Selatan, Filipina pascagempa Davao M7,8, Senin, 8 Juni 2026. Foto Dok. @daryono_eq-talk/X.Gempa Davao M7,8, Muka Air Laut Naik Terpantau di Mindanao hingga Kaltim
    In Bencana
    Senin, 8 Juni 2026
  • Bencana ekologis di Sumatra. Foto Walhi.Krisis Lingkungan yang Dibuat Rezim Saat Ini Dibayar Mahal Generasi Mendatang
    In Lingkungan
    Minggu, 7 Juni 2026
  • Pakar Pencemaran dan Toksikologi IPB University, Prof. Etty Riani. Foto Dok. Harita.Etty Riani, Sampah Muara Angke Ancam Ekosistem Mangrove
    In Sosok
    Sabtu, 6 Juni 2026
  • Tanggul laut raksasa di pantai utara Jakarta. Foto SDA PU.Menteri Jumhur: Giant Sea Wall Bukan Solusi Tunggal Rob Pantura, Penanaman Air Solusi Tanah Amblas
    In Lingkungan
    Sabtu, 6 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media