Papua rumah makhuk hidup
Atas dasar kondisi tersebut, pada momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Walhi Papua menyampaikan sejumlah desakan.
Pertama, pemerintah pusat dan pemerintah daerah menghentikan pemberian izin baru bagi industri ekstraktif yang mengancam hutan alam dan wilayah adat di Tanah Papua.
Kedua, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh izin perkebunan, pertambangan, kehutanan, dan proyek strategis yang berpotensi merusak lingkungan hidup serta melanggar hak masyarakat adat.
Ketiga, mempercepat pengakuan dan perlindungan wilayah adat sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekologi Papua.
Keempat, menjamin partisipasi penuh masyarakat adat dalam setiap proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan tanah, hutan, dan sumber daya alam mereka.
Kelima, menempatkan perlindungan lingkungan hidup dan hak asasi manusia sebagai fondasi utama pembangunan di Tanah Papua.
Papua bukan sekadar ruang investasi. Papua adalah rumah bagi jutaan manusia, ribuan spesies flora dan fauna, serta salah satu bentang hutan tropis terpenting yang tersisa di dunia. Ketika hutan Papua rusak, yang hilang bukan hanya masa depan orang Papua, tetapi juga masa depan lingkungan hidup global.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia harus menjadi momentum untuk mengingatkan semua pihak, bahwa hutan bukan sekadar sumber keuntungan ekonomi. Hutan adalah sumber kehidupan. Dan kehidupan tidak dapat digantikan oleh investasi apa pun.
“Papua tidak membutuhkan pembangunan yang menghancurkan hutannya sendiri. Papua membutuhkan pembangunan yang menghormati manusia, menghargai alam, dan melindungi hak-hak masyarakat adat sebagai penjaga utama lingkungan hidup,” tegas Maikel. [WLC02]
Sumber: Walhi






Discussion about this post