Wanaloka.com – Ekosistem esensial Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunungsewu yang membentang di wilayah Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan merupakan warisan dunia yang terancam rusak. Potensi kerusakan bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan kembali akibat pembangunan destinasi wisata berbasis korporasi bermodal besar yang masif.
Berdasarkan investigasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta ada 13 industri pariwisata berbasis korporasi yang beroperasi di dalam KBAK Gunungsewu. Belasan industri pariwisata itu diduga telah mengubah bentang alam seluas lebih dari 34,46 hektare.
Industri pariwisata yang dimaksud meliputi Heha Ocean View, Obelix Sea View, Drini Hills, Drini Park Resourt, D’Girijati Hotel & Beach Club, Queen of The Sout Beach Resort & Hotel, Inessya Resort, Casa Coco Resort Villa & Cottage, Stone Valley, Jungwok Blue Ocean, Edge Resort, dan On The Rock.
Baca juga: Peran Teknologi Data Spasial dan Geospasial dalam Mitigasi Bencana
“Kerusakan ini berpotensi terus meluas,” kata Ketua Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Yogyakarta, Rizki Abiyoga dalam siaran pers yang diterima Wanaloka.com, Senin, 5 Januari 2026.
Terbaru, Obelix diduga tengah merencanakan ekspansi ke Pantai Sanglen dengan mengubah bentang alam karst seluas sekitar 3 hektare. Rencana itu mendapat penolakan dari warga. Sebab perubahan bentang alam karst secara integral menghilangkan fungsi ekologis karst sebagai penyimpan air tanah dan penangkap karbon, serta merusak sistem hidrologi alami.
Tidak hanya mengubah bentang alam, korporasi industri pariwisata tersebut juga megekstrak air yang ada di bawah karst secara massif. Walhi Yogyakarta telah melakukan perhitungan ekstraksi air dengan menggunakan tiga kategori, yakni hunian, fasilitas penunjang, dan operasional.
Baca juga: Warga Aceh Utara Dilatih Bangun Huntara dengan Desain Sederhana






Discussion about this post