Wanaloka.com – Sampah tidak hanya menjadi masalah mayarakat perkotaan, juga bukan masalah baru di perdesaan. Minimnya akses ke tempat pengolahan akhir (TPA) membuat sebagian warga desa memilih membakar sampah di halaman rumah. Cara ini dianggap praktis, tetapi berdampak buruk terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Mahasiswa KKNT Inovasi IPB University di Desa Cicadas, Kabupaten Bogor kemudian merancang insinerator minim asap sebagai teknologi tepat guna. Inovasi ini berangkat dari persoalan sampah nyata di Desa Cicadas.
“Seperti banyak tumpukan sampah liar, bahkan ada yang dibuang ke sungai,” ujar perwakilan Tim KKNT, Indra Bagus Ramdhani yang juga mahasiswa Departemen Kimia IPB University.
Alat ini ditengarai menjadi solusi pengelolaan sampah desa yang masih melalui pembakaran terbuka. Alat sederhana ini mampu mengurangi asap pekat, menekan timbunan sampah, serta lebih ramah lingkungan dan mudah diterapkan masyarakat.
Baca juga: Geolog Sebut Pembentukan Sinkhole di Sumatra Barat Dipengaruhi Siklon Senyar
Anggota tim, Akma Naufal Rabbani menambahkan persoalan sampah di desa tidak hanya berkaitan dengan perilaku masyarakat, tetapi juga keterbatasan sarana.
Masalah yang paling besar adalah minimnya infrastruktur sampah. Hampir di sebagian RT atau RW tidak memiliki infrastruktur maupun sistem pengelolaan sampah.
Selain itu, Akma menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam membayar iuran sampah. Kondisi tersebut menyebabkan pengangkutan sampah secara komunal sering terhenti.
“Kadang bisa sampai mandek, bahkan sampai tiga bulan,” ujar Akma.
Keberadaan insinerator minim asap mampu meminimalkan kebutuhan pengangkutan sampah. Hasil uji coba selama hampir satu bulan, tidak terjadi penambahan volume sampah yang signifikan.







Discussion about this post