Jumat, 16 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Integrasi Sistem Pangan dan Pertanian Rendah Karbon Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Rabu, 3 September 2025
A A
Salah satu beras produk pertanian lestari yang dijual di Angkringan Karisma, Sabtu, 27 April 2024. Foto Pito Agustin Rudiana/Wanaloka.com.

Salah satu beras produk pertanian lestari yang dijual di Angkringan Karisma, Sabtu, 27 April 2024. Foto Pito Agustin Rudiana/Wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Sektor pertanian berkontribusi 10–12 persen dari emisi gas rumah kaca global, sehingga perlu integrasi antara sistem pangan dan pertanian rendah karbon. Transformasi pangan rendah karbon bukan hanya soal produksi, melainkan juga soal masa depan ekonomi, sosial, dan lingkungan Indonesia.

“Melalui forum ini, kami ingin melahirkan strategi konkret menuju pembangunan rendah karbon dan target net zero emission,” ujar Kepala Lembaga Riset Internasional Lingkungan dan Perubahan Iklim (LRI-LPI) IPB University, Prof. Rizaldi Boer dalam Workshop Integrasi Pendekatan Sistem Pangan dan Pertanian di Hotel Grand Melia, Jakarta, akhir Agustus lalu.

Acara yang digelar LRI-LPI bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan International Food Policy Research Institute (IFPRI) ini bertujuan menyusun strategi pertanian rendah karbon untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, sekaligus menghadapi tantangan perubahan iklim.

Baca juga: Raden Wisnu, Perdagangan Orangutan karena Alasan Ekonomi hingga Hutan Primer Berkurang

Perwakilan IFPRI, Angga Pradesha menambahkan workshop ini menjadi wadah untuk menjaring masukan bagi pengembangan kebijakan pangan nasional.

“IFPRI hadir untuk memastikan riset mendukung kebijakan yang berpihak pada petani dan ketahanan pangan,” imbuh dia.

Sementara itu, perwakilan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Puspita Suryaningtyas mengingatkan ancaman triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya biodiversitas, dan polusi. Ia menekankan perlu modernisasi pertanian, penguatan hilirisasi, serta pengelolaan food loss yang saat ini bisa mencukupi 45 persen kebutuhan pangan nasional apabila dikelola dengan baik.

Baca juga: Limbah Nikel dan Abu PLTU untuk Bahan Bangun Infrastruktur

Asisten Deputi Produksi Pangan dan Perubahan Iklim di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Fajar Nuradi menyoroti pentingnya strategi waste to energy dan kesejahteraan petani.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Emisi gas rumah kacaLRI-LPI IPB Universitynet zero emissionsrendah karbonsistem pangan dan pertanian

Editor

Next Post
Status aktivitas Gunung Lokon di Sulawesi Utara meningkat menjadi Siaga, 3 September 2025. Foto Magma Indonesia.

Kegempaan Meningkat, Tingkat Aktivitas Gunung Lokon Naik ke Level Siaga

Discussion about this post

TERKINI

  • Gedung KPK | kpk.go.id.OTT KPK di BNPB, Kepala BNPB Langsung Diganti
    In News
    Kamis, 15 Oktober 2026
  • Dampak karhutla, wilayah Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, diselimuti kabut asap pada Kamis, 8 Oktober 2026. Foto BNPB.Respons Protes Negara Jiran Dampak Karhutla, Prabowo Perintahkan Penanganan Optimal
    In Bencana
    Selasa, 13 Oktober 2026
  • Bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, yang terjadi pada Jumat, 9 Oktober 2026. Foto BPBD Kabupaten Gayo Lues.Bencana Banjir dan Longsor Landa Aceh dan Sumatra Barat Ratusan Penduduk Mengungsi
    In Bencana
    Senin, 12 Oktober 2026
  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media