Sabtu, 5 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Integrasi Sistem Pangan dan Pertanian Rendah Karbon Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Rabu, 3 September 2025
A A
Salah satu beras produk pertanian lestari yang dijual di Angkringan Karisma, Sabtu, 27 April 2024. Foto Pito Agustin Rudiana/Wanaloka.com.

Salah satu beras produk pertanian lestari yang dijual di Angkringan Karisma, Sabtu, 27 April 2024. Foto Pito Agustin Rudiana/Wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Sektor pertanian berkontribusi 10–12 persen dari emisi gas rumah kaca global, sehingga perlu integrasi antara sistem pangan dan pertanian rendah karbon. Transformasi pangan rendah karbon bukan hanya soal produksi, melainkan juga soal masa depan ekonomi, sosial, dan lingkungan Indonesia.

“Melalui forum ini, kami ingin melahirkan strategi konkret menuju pembangunan rendah karbon dan target net zero emission,” ujar Kepala Lembaga Riset Internasional Lingkungan dan Perubahan Iklim (LRI-LPI) IPB University, Prof. Rizaldi Boer dalam Workshop Integrasi Pendekatan Sistem Pangan dan Pertanian di Hotel Grand Melia, Jakarta, akhir Agustus lalu.

Acara yang digelar LRI-LPI bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan International Food Policy Research Institute (IFPRI) ini bertujuan menyusun strategi pertanian rendah karbon untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, sekaligus menghadapi tantangan perubahan iklim.

Baca juga: Raden Wisnu, Perdagangan Orangutan karena Alasan Ekonomi hingga Hutan Primer Berkurang

Perwakilan IFPRI, Angga Pradesha menambahkan workshop ini menjadi wadah untuk menjaring masukan bagi pengembangan kebijakan pangan nasional.

“IFPRI hadir untuk memastikan riset mendukung kebijakan yang berpihak pada petani dan ketahanan pangan,” imbuh dia.

Sementara itu, perwakilan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Puspita Suryaningtyas mengingatkan ancaman triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya biodiversitas, dan polusi. Ia menekankan perlu modernisasi pertanian, penguatan hilirisasi, serta pengelolaan food loss yang saat ini bisa mencukupi 45 persen kebutuhan pangan nasional apabila dikelola dengan baik.

Baca juga: Limbah Nikel dan Abu PLTU untuk Bahan Bangun Infrastruktur

Asisten Deputi Produksi Pangan dan Perubahan Iklim di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Fajar Nuradi menyoroti pentingnya strategi waste to energy dan kesejahteraan petani.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Emisi gas rumah kacaLRI-LPI IPB Universitynet zero emissionsrendah karbonsistem pangan dan pertanian

Editor

Next Post
Status aktivitas Gunung Lokon di Sulawesi Utara meningkat menjadi Siaga, 3 September 2025. Foto Magma Indonesia.

Kegempaan Meningkat, Tingkat Aktivitas Gunung Lokon Naik ke Level Siaga

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media