Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kandang Kawat Duri Efektif Cegah Konflik dengan Harimau  

Konflik dengan harimau kerap dipicu keberadaan hewan ternak yang dilepasliarkan, terutama di kawasan yang berdampingan dengan hutan lindung dan konservasi, habitat Harimau sumatera.

Selasa, 21 Maret 2023
A A
Kandang kawat duri dinilai efektif mencegah konflik dengan harimau. Sumber foto buku Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia-Harimau Ditjen KSDAE.

Kandang kawat duri dinilai efektif mencegah konflik dengan harimau. Sumber foto buku Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia-Harimau Ditjen KSDAE.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Terjadinya konflik dengan harimau kerap dipicu keberadaan hewan ternak seperti lembu (sapi) dan kambing yang dipelihara warga secara tradisional dengan dilepasliarkan, yang masih banyak ditemukan di Pulau Sumatera, khususnya di desa yang berdampingan dengan hutan lindung atau konservasi.

Keberadaan hewan ternak yang dilepasliarkan itu memancing keluarnya Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dari habitatnya untuk berburu mangsa.

Konflik dengan harimau yang dilatari hewan ternak yang dilepasliarkan tersebut, baru-baru ini terjadi di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Jejak Harimau sumatera ditemukan di Dusun Ujung Pinem Wonosari, Desa Sei Serdang, Kecamatan Batang Serangan. Wilayah dusun ini berdampingan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), habitat Harimau sumatera.

Baca Juga: BBKSDA Sumut Mitigasi Konflik Harimau Sumatera dengan Enam Desa

Dalam penanganan mitigasi konflik dengan harimau tersebut, Seksi Konservasi Wilayah II Stabat-Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utarea (BBKSDA Sumut), Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan lembaga mitra Wildlife Conservation Society (WCS) bersama warga dusun membangun kandang TPE (Tiger Proof Enclosure).

Kepala SKW II Stabat, Herbert BP Aritonang menjelaskan, pembangunan kandang TPE setelah adanya laporan temuan jejak Harimau sumatera, disikapi warga Dusun Ujung Pinem Wonosari untuk minta diasilitasi dibangunkan kandang TPE berukuran 20 meter kali 30 meter, yang dikelilingi kawat duri.

“Maka pada tanggal 15-16 Maret 2023 tim gabungan bersama dengan masyarakat Dusun Ujung Pinem Wonosari telah membangun satu unit kandang TPE,” ungkap Herbert.

Baca Juga: Perubahan Iklim Kian Mengkhawatirkan, Perlu Payung Hukum dan Kontribusi Aksi

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: harimau sumateraKabupaten Langkatkandang jebak harimaukandang kawat durikonflik dengan harimaumitigasi konflik harimau sumateraSumatera Utara

Editor

Next Post
Gunung Ili Lewotolok kembali meletus pada Selasa, 21 Maret 2023. Foto magma.esdm.go.id.

Gunung Ili Lewotolok Kembali Meletus, Patuhi Zona Larangan Ini

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media