Selasa, 1 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kata Guru Besar IPB University Soal Konservasi Raptor, Dugong dan Kelelawar

Konservasi juga diperlukan bagi satwa liar, yakni hewan yang hidup bebas di alam dan perlu dilindungi.

Rabu, 26 Juni 2024
A A
Elang jawa di hutan Wanagama, Gunungkidul. Foto Wanaloka.com.

Elang jawa di hutan Wanagama, Gunungkidul. Foto Wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Konservasi juga diperlukan bagi satwa liar, yakni hewan yang hidup bebas di alam dan perlu dilindungi. Salah satu satwa liar yang dimaksud Guru Besar tetap Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof. Aryani Sismin Satyaningtijas adalah dugong dan kelelawar.

Baca Juga: Api Abadi Tanjung Api dan Mata Air Panas One Pute di Sulawesi Tengah Mengandung Hidrogen Alami

Ia menjelaskan satwa liar seperti dugong dan kelelawar perlu dilindungi karena ada ancaman keberlangsungan hidup yang berdampak pada penurunan populasi, perburuan ilegal, perubahan iklim, kerusakan lingkungan dan kejadian penyakit. Satwa liar juga dilaporkan memiliki potensi sebagai sumber penularan penyakit (reservoir) yang mendorong kejadian penyakit zoonosis pada hewan dan manusia.

Ia memaparkan, permasalahan tersebut harus menjadi perhatian dalam pengelolaan program konservasi satwa liar di Indonesia. Ilmu Faal (fisiologi) memiliki peran penting dalam pengelolaan konservasi satwa liar, khususnya terkait penurunan populasi melalui kegiatan penelitian nilai baku faal

“Satwa liar sebagai standard untuk menentukan status kesehatan. Nilai baku faal dapat dipengaruhi oleh lingkungan eksternal seperti Iklim, kondisi pemanasan global dan lingkungan internal seperti kejadian penyakit, sehingga pemeriksaan nilai baku faal menjadi penting bagi zona nyaman satwa,” jelas Aryani saat Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar pada 5 Juni 2024 secara daring.

Baca Juga: Fahrul Muzaqqi, Ormas yang Terima Konsesi Tambang akan Punya Utang Politik

Aryani menyebutkan bahwa penentuan nilai baku faal penting sebagai early warning system dari suatu perubahan lingkungan akibat pergeseran parameter iklim yang mendorong nilai kenyamanan habitat (Comfortable zone) bagi satwa liar. Ilmu faal juga berperan sebagai upaya mitigasi dan adaptasi satwa liar terhadap potensi penularan penyakit zoonosis.

“Nilai baku faal berguna dalam mendukung pelestarian hewan sehingga dapat beradaptasi dan hidup lebih lama dengan menjaga kesehatannya dan mencegah penyakit,” ungkap Aryani.

Ia merekomendasikan dua hal penting dalam mendukung program konservasi satwa liar di Indonesia. Pertama, perlu ada upaya menekan penurunan populasi melalui penentuan nilai baku faal satwa. Kedua, perlu ada upaya menekan potensi kejadian zoonosis pada migrasi satwa liar, secara rapid test pada habitat atau area konservasinya. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: dugongIPB Universitykelelawarkonservasi satwa liarraptor

Editor

Next Post
Ilustrasi bakteri. Foto qimono/pixabay.com.

Infeksi Bakteri “Pemakan Daging” di Jepang Menular Lewat Droplet dan Pernafasan

Discussion about this post

TERKINI

  • Karhutla di lahan gambut. Foto Dok. Walhi.Ribuan Titik Api di Lahan Gambut dan Konsesi, Walhi: Bukti Negara Gagal Memaksa Korporasi Bertanggung Jawab
    In Lingkungan
    Senin, 31 Agustus 2026
  • Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra utara, 31 Agustus 2026 pukul 11.19. Foto Dok. Magma Indonesia.Gunung Sinabung Berstatus Siaga, PVMBG: Dimungkinkan Terjadi Erupsi Lebih Besar
    In Bencana
    Senin, 31 Agustus 2026
  • Upaya pemadaman karhutla di Kalimantan, 23 agustus 2026. Foto Dok. BNPB.Karhutla Kalimantan, Legislator: Warga Lokal Tak Bisa Terus Disalahkan, Cabut Izin Korporasi yang Terlibat
    In News
    Senin, 24 Agustus 2026
  • Penanganan karhutla di Lampung Timur, 21 Agustus 2026. Foto Dok. BNPB.Karhutla Berulang Bukan Fenomena Iklim, Walhi: Akibat Negara Salah Urus Tak Sampai Akar Masalah
    In Lingkungan
    Senin, 24 Agustus 2026
  • Titik-titik api karhutla di Pulau Kalimantan. Foto Istimewa.Hukuman Korporasi Pembakar Hutan Kalimantan: Cabut Izin dan Pulihkan Lingkungan!
    In News
    Minggu, 23 Agustus 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media